Bulan purnama,bulan sabit,musim hujan ,musim kemarau,sabit lagi,purnama lagi,hujan lagi kemarau lagi. Tahun berganti tahun,namun tak juga ada perubahan dari desa ini. Dimana penduduknya? Jika engkau berjalan kira-kira 2 KM dari perempatan ini,disanalah engkau temui tanah perkebunan rimbang. Disanalah semua penduduk mulai Dari yang masih dalam kandungan hingga yang sudah bau tanah. Hanya itulah usaha penduduk sebuah desa terpencil dipulau Sumatra tepatnya dipropinsi Sumatra Utara. “kiamatlah……kiamatlah! Ucap seorang lelaki tua. Wak Badrun namanya,pelarian dari kota,korban ketidak adilan pemerintah,tak ada yang tau betul tentang asal usul wak Badrun. Orang-orang dikampung ini menganggapnya aneh dan memberi nya gelar Juru Kiamat. Ya…..memang aneh,tapi lebih aneh lagi pemikiran penduduk desa ini. Jika kau mencari anak berseragam merah putih,maaf sekali,bukan disini tempatnya. Zaman ini sudah zaman modern,tapi tidak berlaku di kampung ini. Jangankan hanphone listrikpun tak kan kamu temui disini.
Pagi yang cerah,namun tak secerah pemikiran penduduk desa ini. “ ais…enggak berangkat sekolah?” tanyaku pada seorang wanita kecil yang melintas didepanku sambil menjujung kayu.
”Disekolah tak pernah diajari cara mencari kayu,memotong dan cara menjujungnya,untuk apa aku sakolah kalau yang kubutuhkan dalam hidupku tak pernah dipalajari” tuturnya dengan logat melayu pesisir yang kental. Aku bengong dan ia berlalu meninggalkanku. Aneh…dicari sampai pada ujung duniapun tak akan ada sekolah yang mengajarkan cara menjujung kayu yang benar” gerutuku. “kiamatlah…..kiamatlah” ucap uwak Badrun si juru kiamat ketika melintas didepanku.
” Kapan datang” tanyanya dengan logat melayu kentalnya ketika ia sadar bahwa ia melintas didepanku.Dengan tersenyum aku menjawab” semalam, hendak kemana uwak?” namun pertanyaaku dijawab dengan pertanyaan lagi “ di kota kau ngapain?” aku tersenyum mendengar pertanyaannya,
” sekolah la wak” ia balik tersnyum” kufikir kau manjujung kayu juga” ucapnya sambil berlalu,bukan ucapan yang lucu. Semakin aneh….membuat aku semakin bingung. Penduduk desa ini mayoritas melayu pesisir dan jawa,penghasilannya hanya bersandar pada kebun rimbang milik nenek moyang disamping penjujung kayu. Memang diantara penduduk desa ini, hanya akulah yang bersekolah hingga kini tingkat sma. Aku bersukur ternyata orang tuaku tak satu pemikiran dengan penduduk desa ini. Namun tetap saja disayangkan jika aku egois tak memikirkan orang-orang di sekelilingku.
Apa lagi yang diharapkan Indonesia dari desa ini? Tidak ada, Semuanya terjawab ketika gedung tempat aku pertama kali menyanyikan lagu Kebangsaanku ”Indonesia Raya” tidak lagi menjalankan aktifitasnya sehari-hari yakni proses belajar mengajar. Indonesia menangis…..! ingin aku memaki-maki semua orang yang disini. Kenapa gedung sekolah dijadikan gudang kayu? Gudang rimbang? Kemana ibu guru? Kemana siswa? Kemana bendera pusaka merah putih yang dulu berkibar? Jawabnya hanya satu, semuanya pergi kekebun rimbang dan menjujung kayu. Dan aku semakin menjerit ketika Merah Putihku dijadikan alas rimbang. Oh…..Indonesia.
Aku berlari-lari menuju perkebunan,katanya wak Badrun kumat di kebun. Aku tersengal-sengal ketika tiba dikebun dan kudapati penduduk semua berkumpul. Kulihat wak Badrun diatas sebuah pohon mangga yang masih subur. Ia menjerit - jerit membuat penduduk semangkin ramai.
“ kiamatlah…….kiamatlah….kiamatlah……! ucapnya berteriak.” Woi….wak Badrun,juru kiamat. Lompatlah dari atas pohon itu ,jumpai tuhan mu tanyakan pada-Nya kapan kiamat! Tanya seorang laki-laki membuat aku hendak menerkamnya. “Pertanyaan apa itu, dasar penduduk aneh” gerutuku. “Kiamatlah…….kiamatlah…” lanjut wak Badrun.
“ hei wak Badrun juru kiamat,turunlah….memang semuanya telah kiamat” ucapku setengah berteriak! Nampaknya ucapanku membawa dampak yang besar bagi wak Badrun ia bukannya turun malah berdiri diatas dahan yang kokoh.
Hei……Indonesiaku!lihatlah, Orang-orang bodoh ini sudah berkumpul,saksikan lah ibu kartini, perjelaslah Ki Hajar Dewantar wajah orang-orang bodoh ini” ucap wak Badrun sambil memainkan tangannya menunjuk orang-orang yang berada dibawahnya. Kupandangi wajah-wajah mereka, semuanya merah sepertinya emosi mereka melunjak.” Hei …juru kiamat,kau tau sama siapa kamu berbicara. Kami sekampung bisa membunuh mu.” Ucap salah seorang warga.
“ ya aku sadar… ibu kartini juga tau kalau aku sedang berhadapan dengan orang-orang bodoh,kenapa hasil kebun rimbangmu tak kau jadikan biaya untuk sekolah,pendidikan anak-anak ini? Ucap wak Badrun sambil mempermainkan telunjuknya.
“ hei….juru kiamat,sadarlah engkau engkaulah yang bodoh,semua orang juga tahu tak ada orang yang mati karena tak mengecap dunia pendidikan,karena tak sekolah tapi banyak orang mati kalau tak kerja hingga tak bisa memperoleh pengganjal perut yang sejengkal ini! Ucap seseorang yang dikenal sebagai Kepala Desa.
“hei kepala desa yang dungu…sadarlah engkau…jika engkau membiarkan anak-anak ini terus menjunjung kayu..kapan nasib bangsa ini akan berubah? Tambah wak Badrun
“ wak Badrun…untuk apa kau susah memikirkan nasib Bangsa, Negara, sedangkan mereka yang duduk di atas singgasana sambil menggoyang-goyangkan kakinya tak pernah sibuk memikirkan kita sang penjunjung kayu,mereka lebih memikirkan bagaimana supaya mereka bisa memakan hak kita…..mereka korupsi…mereka korupsi”bantah kepala desa dengan diiringi sorakan warga.
Aku yang menyaksikannya diam “kiamatlah…kiamatlah….” Kuucapkan kata-kata wak Badrun itu setengah berbisik.
”pemikiran yang bodoh….pemikiran yang aneh….siapa lagi yang akan memberantas korupsi itu kalau bukan mereka…mereka anak-anak bangsa. Jika kalian terus dan terus mengajarkan dia menjunjung kayu…kapan negara ini akan berubah? Dimana anak-anak bangsa seperti mereka?Dan dengan tertawa tikus-tikus berdasi itu menjawab ” mereka hanya bisa menjunjung kayu” dan hak-hak kita terus dimakan mereka,korupsi tidak akan pernah berakhir jika masih ada orang-orang bodoh seperti kalian di Indonesia ini!” bentak wak Badrun. Suasana semakin memanas….aku bingung apa yang hendak aku lakukan.
“ hei wak Badrun…..anakku….Dodi tak lulus dari SMPnya sehingga keringat yang bercucuran selama 9 tahun tak membuahkan hasil, sehingga aku berfikir selama 9 tahun ini aku hanya menghambur-hamburkan uangku. hanya karena UAN 3 hari anakku tak dapat apa-apa selama sekolah. Apakah ini adil….apakah Indonesia memang membutuhkan anakku untuk menurunkan tikus-tikus berdasi itu. Apakah Negara tak pernah berfikir tindakan ini membuat pengangguran semakin banyak, akibat pengangguran, kriminal semakin meraja lela dan kemiskinan semakin meningkat dan satu lagi….disekolah pendidikan laki-laki dan Prempuan itu disamakan padahal ketika mereka menuju jenjang pernikahan maka tuntutan dibedakan. Laki-laki harus kerja,mecari nafkah diluar rumah sedangkan prempuan harus tinggal dirumah mendidik anak,menanakkan nasi. padahal dahulu mereka sama-sama belajar matimatika,Ipa semuanya sama, namun kenapa tuntutannya berbeda. Ini sama sekali tidak adil tapi disini dikebun ini semuanya diajarkan sama pada laki-laki,anak-anak, wanita semua menjujung kayu. Laki-laki,wanita, anak-anak semuanya harus menanak nasi. Jika pemerintah memberikan didikan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan disekolah pastilah tak kan ada perceraian karena sesama tak bisa saling menuntut,jika pemerintah tetap menerapkan pelajaran yang sama bagi laki-laki dan prempuan,maka akan ada tuntutan sang suami,istri tidak bisa memasak,suami tidak bisa kerja. Bagaimana bisa keduanya saling menuntut sedangkan mereka dididik dalam hal yang sama. bukankah lebih baik menjujung kayu yang pekerjaannya sudah jelas dari usia dini dari pada harus menghabiskan waktu sekolah?” ucap salah seorang warga yang kecewa akan pemerintahan Indonesia.
” Ya betul….seandainya saja ayah tak pernah menyekolahkan aku,biaya selama aku bersekolah sudah bisa aku jadikan modal buka usaha,hingga jelas aku bisa bekerja.tapi jika aku sekolah belum tentu aku bisa bekerja..semuanya rugi..tak ada untungnya…,aku ingin minta uang sekolah ku dulu dikembalikan!”ucap salah seorang remaja.
” Dan yang anehnya lagi,pemerintah sudah gila. Ketika saya sekolah,saya belajar logaritma,sudut siku-siku,linggaran tapi dalam kenyataannya aku tidak pernah bertemu dengan satu masalah yang harus aku pecahkan dengan menggunakan rumus itu. Apakah ini tidak konyol.. belajar yang tidak bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Dan kenyataannya ketika saya menjujung kayu saya tidak memerlukan sudut 90 derjat,tidak butuh log 2 bahkan tidak butuh 1+1 apakah itu semua tidak cukup untuk menunjukkan bahwa sekolah itu enggak penting,hanya orang bodohlah yang mau mengeluarkan uangnya untuk sesuatu yang tak bermanfaat bagi hidupnya.” Tambah remaja yang lain
Aku yang mendengar penuturan itu tercengang tak kusangka ternyata mereka pandai berpolitik,kata-katanya seperti orang berpendidikan tinggi, kata-katanya bijak seperti pejabat yang sedang berdebat padahal mereka hanya penjujung kayu” Gumamku.
“sungguh Indonesia membutuhkan orang-orang seperti kalian,pemikiran yang intelektual…namun hanya karena satu kalimat”sekolah itu enggak penting” membutakan mata kalian,menutup rasa kebangsaan kalian, membuat kalian lupa akan nasib kalian sendiri. Apa kalian mau anak-anak penerus bangsa akan bernasib sama seperti kita hanya sebagai penjujung kayu? apa kalian tidak ingin kampung kita ini berubah? apa kalian tidak ingin hak-hak kita sebagai bangsa dikembalikan? jika kalian ingin semua bertindaklah..bertindaklah…kasihan anak-anak itu dari kecil hingga nafas terakhir hanya satu ilmu yang ia dapat,menjujung kayu,memetik rimbang. Lihatlah para orang tua, mereka cerdas-cerdas negara benar-benar menanti kedatangan mereka. Jika mereka tetap menjujung kayu siapa yang akan menggantikan para pemimpin negara ini ketika mereka sudah turun jabatan? Jika kita tetap diam,maka yang akan jadi penerusnya adalah mereka anak-anak konglomerat…..bagaimana jika mereka bodoh? Terpaksa tetap jadi pemimpin karena yang pintar hanya diam…gigit jari,mereka tak akan pernah merasakan penderitaan kita ini yang kadang perut sejengkal tak terisi karena rimbang kurang laris dikota, mereka tak akan pernah merasakan sakitnya kepala ketika harus menjujung kayu sepanjang jalan untuk dijual kepedagang koreng pisang dikota,mereka tak pernah rasakan itu semua karena pada dasarnya mereka berasal dari kalangan-kalangan tertentu dan mereka hanya menganggap kita pembantu, budak maka tikus-tikus berdasi pun makin berkembang biak. Maka Indonesia akan diujung kiamat jika pengganti dari pemimpin kita adalah kalangan seperti kita. maka tak diragukan lagi ia akan merubah semuanya karena ia pernah merasakan bagaimana sakitnya hidup sehingga ia tak ingin sakit yang ia rasakan itu dirasakan oleh orang-orang yang dipimpimnya, sehingga ia tak menganggap kita pembantu,budak, ia menganggap kita anak kraton, anak raja yang perlu dilindungi dan diberi haknya. Jangan hanya diam…..kalau kita terus-terusan diam. maka kiamatlah….kiamtlah semua karena Indonesia akan hancur…hancur..dan saat itu juga Indonesia Kiamat! Yang tinggal hanya orang-orang bodoh seperti kalian…kebun rimbang ini tak akan jadi milik kalian lagi,kalian akan jadi budak diatas hak kalian! Ucap wak Badrun dengan antusius.
Aku kini faham kiamat yang dimaksud wak Badrun kiamat Indonesia,kala itu dimana mana orang-orang bodoh membiarkan haknya direbut dan Indonesia hanya tinggal nama.
”dan pemerintah itu tidak bodoh,pemerintah punya peraturan karena ada keuntunggannya, jika pemerintah tak menerapkan Uan,maka generasi muda akan malas menuntut Ilmu karena tak ada yang perlu ditakutkan dan keuntungan itu bisa kita petik besok….disaat kita bisa mengenggam dunia.” Tambah wak Badrun kini dengan isakkannya
”aku sedih ketika gedung sekolah itu berhenti dari aktifitasnya…..saya mohon kembalikan gedung itu,kibarkan lagi bendera merah putihku….kumandangkan lagi syair itu,jangan biarkan lagi anak-anak itu menjujung kayu! Negara menginginkan mereka….tolong…tolonglah negara ini……hargai perjuangan Kartini,perjuangan Ki Hajar Dewantara….ia tak pernah menagih uang atas perjuangannya…..kita tidak disuruh untuk angkat senjata seperti meraka,kita hanya diminta untuk meneruskan perjuangan mereka dengan membangun Indonesia ini. Aku yakin kalau kita bertindak lambat laun tikus-tikus berdasi akan punah….percayalah jayalah Indonesia….Indonesia……Indonesia…” ucap wak Badrun setelah beberapa detik menangis dan diakhiri dengan teriakan.
Lambat laun warga beranjak, mereka tak berkomentar lagi tapi mereka diam…ada yang menagis ada yang diam bahkan ada yang sama sekali tidak mengerti adegan yang baru saja terjadi. Lambat laun berkurang satu,berkurang lagi, dan kini tinggal aku dan wak Badrun masih diatas pohon.
Ia menatapku…..”selamatkan Indonesia”ucapnya dan ia kembali berteriak….. Indonesia… indonesia.. kiamatlah….kiamatlah…
Pagi itu tak seperti biasanya……aku sudah lama berdiri di perempatan ini menunggu anak-anak penjujung kayu. Tapi tak satupun kutemui,sudah 2 jam aku berdiri tapi tak satupun warga yang melintas didepanku. Kucoba mencari jawaban atas kenyataan ini,dan jawaban itu tak juga kutemui hingga aku bertemu dengan wak Badrun” kemana semua warga? Tanyaku pada wak badrun.” Mereka tak ada dikebun rimbang,mereka entah kemana” jawab wak badrun sambil berlalu meninggalkan satu kepastian yang tak jelas. Kutatap rumah panggung kepala desa. Tampak ia merenung ,menopang dagu pada jendela. Begitu juga warga yang lain. Hari ini kebun rimbang kiamat. Dari balik dedaunan masih terdengar teriakan wak Badrun….kiamatlah….kiamatlah…!
Sigambal,januari 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar