Rabu, 24 Agustus 2011

laporan hasil kunjungan industri roti " Bintang Sejahtera " Rantauprapat

LAPORAN HASIL KUNJUNGAN LAPANGAN INDUSTRI KECIL “ ROTI BINTANG JAYA” DI RANTAUPRAPAT







Disusun Oleh :
NAMA : DESMINTA PRIA HRP
NIM : O9 03 003
JURUSAN : III TPL


KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI
PENDIDIKAN TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
MEDAN
2011



LAPORAN HASIL KUNJUNGAN LAPANGAN INDUSTRI KECIL “ ROTI BINTANG JAYA” DI RANTAUPRAPAT








DISETUJUI OLEH :


KEPALA DINAS PERINDUSTRIAN, PEMILIK
KAB. LABUHAN BATU “ ROTI BINTANG JAYA “



Drs. BORKAT PANE, MM JULIONO



DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Maksud dan Tujuan 2
BAB II LANDASAN TEORI 3
BAB II METODE PENULISAN 6
BAB IV METODE PRODUKSI 7
A. Alat dan Bahan 7
B. Proses Pembuatan 8
BAB V DATA PENGAMATAN 13
A. Profil Industri 13
B. Kendala Yang dihadapi 14
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 15
A. Kesimpulan 15
B. Saran 15
DAFTAR FUSTAKA 16





KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil kunjungan Industri Kecil menengah “ Roti Bintang Jaya “ di daerah Rantauprapat yang merupakan salah satu tugas yang ditujukan kepada seluruh Mahasiswa Tenaga Penyuluh Lapangan ( TPL ) konsentrasi minyak atsiri dan produk hilir CPO.
Dalam melaksanakan kunjungan lapangan ini samapai pada penyelesaian laporan ini, penulis tlah banyak mendapat bantuan dan bimbingan, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. Borkat Pane, MM selaku Kepala Dinas perindustrian, Perdagangan dan Koperasi ,Usaha Kecil dan menengah Kabupaten Labuhanbatu.
2. Bapak ir. Irwan Rachmiadi selaku ketua jurusan Teknik Kimia Industri dan Tenaga Penyuluh Lapangan PTKI.
3. Bapak Juliono, selaku pengusaha tempat penulis melakukan kunjungan lapangan.
4. Kedua Orangtua penulis yang telah memberikan bantuan moral dan moril untuk penulis.
5. Seluruh Mahasiswa Tenaga Penyuluh lapangan ( TPL ) dan Teknik Kimia Industri (TKI), khususnya teman – teman Tenaga Penyuluh lapangan ( TPL ) 09 yang telah memberikan motivasi, semangat, perhatian dan bantuan yang tulus kepada penulis.
Mengingat keterbatasan kemampuan dan waktu yang ada, penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, seperti kata pepatah “ Tiada Gading yang Tak retak “, untuk itu penulis mengharapkan adanya kritikan, saran yang dapat membangun guna perbaikan laporan penulis selanjutnya.
Akhirnya, penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan pemikiran sehingga dapat diaplikasikan untuk kemajuan pembaca umumnya serta penulis khususnya.

Rantauprapat, Agustus 2011


Penulis






BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mahasiswa, sebagai barometer masa depan bangsa dengan karakternya yang kritis, analitis dan praktis memiliki peranan besar dalam menentukan intensitas perkembangan Industri kecil dan menengah (IKM), yang idealnya membutuhkan peran (campur tangan) pemerintah dalam peningkatan kemampuan bersaing. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bahwa kemampuan di sini bukan dalam arti kemampuan untuk bersaing dengan usaha (industri) besar, lebih pada kemampuan untuk memprediksi lingkungan usaha dan kemampuan untuk mengantisipasi kondisi lingkungan tersebut. Melihat kenyataan tersebut, maka salah satu strategi untuk mendorong kinerja dan peran IKM dalam pasar bebas serta mengatasi kesenjangan yang terjadi, adalah dengan menumbuhkan usaha menengah yang kuat dalam membangun struktur industri, yang di dalamnya terdapat mahasiswa sebagai faktor pendukung utama. Dengan memperhatikan posisi strategis dan keunggulan yang dimilikinya, usaha menengah layak untuk didorong sebagai motor pengembangan IKM dalam persaingan bebas. Hal ini karena potensi mahasiswa di dalamnya yang mampu memberikan pelatihan dan sumbangan pemikiran: strategi, prediksi lingkungan dan mobilitas pasar, serta bantuan modal usaha melalui kerjasama.
Dalam hal ini peranan mahasiswa sangat diperlukan sebagai perantara studi kasus ekonomi dengan langkah yang akan diambil IKM. Peranan mahasiswa semakin jelas ketika perekonomian menghadapi era perdagangan bebas, dimana siklus produk relatif pendek dan sangat ditentukan oleh selera konsumen, mengharuskan setiap pelaku bisnis memiliki akses yang cukup terhadap pasar dan kemampuan inovasi produk, guna meningkatkan daya saingnya. Hal inilah yang merupakan titik lemah yang dimiliki oleh IKM pada umumnya. Sehingga, diharapkan dengan adanya peran serta mahasiswa baik sebagai tenaga perencana, pelatih, pelaku, ataupun pengawas dapat membuat IKM memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia baik ditinjau dari segi jumlah usaha maupun dalam penciptaan lapangan kerja. Kemajuan sistem yang telah dicapai ini apabila dikombinasikan dengan kemampuan fleksibilitas IKM dalam merespon fluktuasi permintaan pasar, dapat menjadi langkah awal untuk memasuki persaingan pasar global.
Dan untuk mengaplikasikan peranan mahasiswa tersebut, khususnya Mahasiswa Tenaga Penyuluh Lapangan Yang berkonsentrasi pada Industri Kecil dan Menengah perlulah rasanya persiapan sebelum terjun ke lapangan sebagai penyuluh Industri Kecil dan Menengah. Atas dasar inilah penulis melakukan kunjungan ke industri kecil dan menengah di Rantauprapatt sebagai Langkah untuk mempersipakan diri sebagai calon Penyuluh Industri Kecil dan Menengah.

B. Maksud dan Tujuan
1. Maksud
a. Untuk mengetahui profil Industry Roti Bintang Jaya.
b. Untuk mengetahui kendala yang sering dialami Industri Roti Bintang Jaya.
c. Untuk mengetahui gambaran perkembangan Industry makanan di Rantauprapat.

2. Tujuan
a. Sebagai langkah awal memperkenalkan industry kecil dirantauprapat,
b. Sebagai bekal untuk menjalankan tugas sebagai tenaga penyuluh lapangan di Rantauprapat nantinya.


BAB II
LANDASAN TEORI
Industri kecil menengah adalah usaha yang dijalankan oleh 1 atau 2 orang saja, atau usaha yang memiliki modal lebih kecil dari Rp. 50.000.000, disebut usaha kecil dan usaha memiliki modal lebih kecil dari Rp. 200.000.000 disebut usaha menengah. tetapi ada pula yang menyebutkan usaha yang dijalankan 50-60 orang masih tergolong usaha kecil menengah. Idustri Kecil dan Menengah (IKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga berperan dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Dalam krisis ekonomi yang terjadi di negara kita sejak beberapa waktu yang lalu, dimana banyak usaha berskala besar yang mengalami stagnasi bahkan berhenti aktifitasnya, sector Industri Kecil dan Menengah (IKM) terbukti lebih tangguh dalam menghadapi krisis tersebut.
Jelas, pemberdayaan usaha kecil merupakan kunci bagi kelangsungan hidup sebagian rakyat Indonesia. Usaha kecil dapat digunakan sebagai pengerak utama dalam mempercepat pemulihan perekonomian Indonesia. Usaha kecil juga dapat digunakan sebagai kunci pemaju expors serta peningkatan kesejahteraan rakyat. Berhasil tidaknya usaha kecil sangat bergantung pada para wirausaha sebagai pemilik dan pengelola usaha kecil. Dengan demikian keberhasilan usaha yang dikelola para wirausaha akan meningkatkan kemajuan ekonomi dan memperkecil jumlah pengangguran. Sebab para wirausaha inilah yang mampu menciptakan lapangan kerja baru agar menyerap tenaga kerja baru yang banyak sehingga pada gilirannya terciptalah pemerataan pendapatan. salah satu Industri itu adalah Industri yang bergerak dibidang pangan seperti ROTI.
Roti adalah salah satu makanan pengganti nasi yang paling digemari. Hal ini dikarenakan sebagai bahan makanan olahan, roti memiliki nilai gizi yang tinggi dan lebih lengkap dibanding yang lain. Selain itu, roti juga lebih praktis untuk dikonsumsi, memiliki banyak variasi, harganya relatif terjangkau, mudah diperoleh dan bisa mengenyangkan. Industri roti yang terus berkembang memiliki prospek yang cerah sehingga persaingannya pun semakin ketat.
usaha “ Roti Bintang Jaya “ adalah salah satu perusahaan yang turut meramaikan persaingan dibidang bakery yang dibangun oleh Bapak Juliono pada tahun 2001 yang beroperasi di wilayah Raja Mulyo, Kecamatan Rantau Selatan Labuhanbatu. Dengan hanya mengandalkan karyawan yang berjumlah lebih kurang 25 orang yang terdiri karyawan dalam ( karyawan yang ikut menjalankan proses produksi ) dan karyawan lepas ( karyawan yang bertugas untuk pemasaran ), usaha ini mampu beroperasi setiap harinya selain hari minggu. Produk utama perusahaan berupa roti dengan berbagai macam bentuk dan jenis yakni :
• Roti Bolu
• Roti kelapa
• Roti srikaya
• Roti paha Ayam pandan

Produk yang diproduksi usaha ini tergolong standar dengan target pasar untuk semua golongan ekonomi. Kegiatan produksi memerlukan keahlian tersendiri dan dapat dilaksanakan oleh siapapun, melalui pelatihan dan pembinaan yang cukup.
system pengadaan bahan usaha ini adalah system agen, yaitu dengan Bahan baku utama adalah tepung terigu,kelapa , gula pasir dan telor di beli oleh perusahaan di pasar umum, distributor/agen atau asosiasi yang berada diwilayah dalam kota dan luar kota. Dalam kondisi normal, tidak ada masalah dalam pengadaan bahan baku ini, sehingga kontiunitas pengadaan bahan baku selalu terjamin. Hanya saja, usaha ini hanya mengandalkan 1 set mesin pengaduk dengan kapasitas maksimum hanya bisa mengaduk 8 kg tepung setiap pengadukannya. Selanjutnya dapat disebutkan dengan fasilitas produksi tersebut, setiap hari secara normal mampu mengolah tepung terigu menjadikan roti dalam frekuensi 10 kali pembakaran dengan jumlah mencapai 1000 bungkus roti berbagai jenis, dengan setiap bungkusnya 12 potong.

Sistem imbalan dalam pemanfaatan tenaga kerja usaha ini berdasarkan Upah bulanan berdasarkan hasil penjualan selama sebulan tersebut. gaji setiap tenaga kerja berbeda – beda, perbedaan ini didasarkan pada jenis pekerjaan, seperti upah tenaga kerja memanggang berbeda dengan tenaga kerja yang bertugas hanya mengkemas. Selain itu, perbedaan upah tenaga kerja juga berdasarkan jumlah jam kerja, tenaga kerja yang tinggal dilingkungan pabrik memiliki waktu lebih lama bekerja dari pada tenaga kerja yang tidak tinggall diwilayah pabrik.

Kondisi usaha “ Roti Bintang jaya” saat ini bisa dikatakan maju, sebab usaha ini bukan hanya memasarkan hasil produksinya didalam kota, bahkan sudah sampai keluar kota seperti Kota Pinang, selain itu kondisi yang nyaman sedikit sudah tercipta dalam lingkungan bekerja, dimana terlihat kekompakan dan kehangatan antara pengusaha dengan karyawan. Kondisi inilah yang diharapkan mampu meningkatkan kinerja tenaga kerja guna untuk meningkatkan mutu hasil produksi yang akan berpengaruh pada tingkat permintaan konsumen, jika permintaan konsumen terus meningkat, maka keuntungan yang diperoleh juga akan meningkat dan jelas akan meningkatkan upah bagi tenaga kerja. namun, ada point – point tertentu yang mesti dicatat untuk meningkatkan kemajuan usaha ini, yakni manajement usaha misalanya manajemen dalam keuangan. Adanya pembukuan penting untuk diterapkan diusaha ini, agar dapat diketahui dengan jelas jumlah keuangan yang dikeluarkan juga jumlah uang yang masuk, sehingga jelas diketahui jumlah keuntungan setiap produksinya, dan hal ini belum terlaksana dalam usaha “ Roti Bintang Jaya “.



BAB III
METODE PENULISAN

Penulisan laporan ini dilakukan berdasarkan :
a. Kunjungan langsung ke Industri Kecil Menengah “ Roti Bintang jaya “ yang ber alamat di jln. Raja Mulyo Rantauprapat.
b. Memperoleh data-data tentang usaha kecil dan menengah dengan searching di website.
c. Melakukan diskusi












BAB IV
METODE PRODUKSI

A. ALAT DAN BAHAN

1. Alat
a. Pengaduk ( Mixer )
b. Alat Pemanggang
c. oven
d. Cetakan roti






mixer roti pemanggang








oven mixer bolu

gambar 1. Alat – alat yang digunakan pada proses produksi
2. Bahan
a. Tepung
b. Gula
c. Pasta pandan
d. Kelapa
e. Seres
f. Pengembang
g. Mentega
h. Telur

B. PROSES PEMBUATAN
1. Proses Pembuatan Roti Kelapa
a. Tepung diaduk dalam mixer sebanyak 8 kg setiap pengadukan
b. Lalu ditambahkan gula 1 Kg, Pengembang dan Pelembut antiplacin. Pengadukan dihentikan sampai campuran tepung mengkilat.
c. Dilakukan pencetakan memanjang untuk roti dengan memasukkan campuran kelapa dengan gula pada bagian tengah roti yang telah dicetak.
d. Lalu dilakukan pemanggangan selama 20 menit, setiap pemanggangan terdiri 20 talam sekitar 35 – 30 roti.

2. Proses Pembuatan Roti Srikaya
a. Tepung diaduk dalam mixer sebanyak 8 kg setiap pengadukan
b. Lalu ditambahkan gula 1 Kg, Pengembang dan Pelembut antiplacin. Pengadukan dihentikan sampai campuran tepung mengkilat.
c. Dilakukan pencetakan model bulat untuk roti srikaya.
d. Lalu dipanggang selama 20 menit.
e. Roti didiamkan berapa saat, lalu dibelah dua dan dibagian tengahnya diolesi srikaya yang dibuat dari campuran santan, tepung dan gula.
3. Proses Pembuatan Roti Paha Ayam
a. Tepung diaduk dalam mixer sebanyak 8 kg setiap pengadukan
b. Lalu ditambahkan gula 1 Kg, Pasta Pandan, Pengembang dan Pelembut antiplacin. Pengadukan dihentikan sampai campuran tepung mengkilat.
c. Lalu dicetak memanjang dan diberi tusukan.
d. Roti yang telah dicetak dipanggang selama 20 menit, lalu diolesi sedikit mentega dan ditaburi seres.
4. Proses Pembuatan Roti Bolu
a. Telur, gula dan tepung diaduk dalam mixer.
b. Lalu ditambahkan pengembang dan pelembut antiplacin sampai benar – benar kembang.
c. Lalu dimasukkan kedalam cetakan yang terdiri dari tiga bentuk, bulat kecil, bulat besar dan memanjang.
d. Setelah itu dipanggang dalam open selama 20 menit.
Selanjutnya proses produksi pembuatan roti secara umum dapat dilihat pada Gambar












“ proses pencetakan “ “ srikaya setelah dicetak “





“ bolu dalam cetakan “ “ proses pemanggang “





” roti bolu setelah dipanggang “ “ roti srikaya setelah dipanggang “






“ roti kelapa setelah dipanggang “ “ proses pembuatan srikaya “






“ kemasan roti srikaya “ “ kemasan bolu “
“ gambar 2 : proses pembuatan “





BAB IV
DATA PENGAMATAN

A. Profil Industri
1. Jenis Industri : Makanan ( Roti )
2. Nama Pemilik : Juliono
3. nama Industri : Roti Bintang jaya
4. Tahun Berdiri : 2001
5. Jumlah karyawan : 30 orang
a. karyawan dalam : 21 orang
b. Karyawan Luar : 9 orang
6. Pemasaran : Dalam kota Labuhanbatu hingga ke Kota Pinang
7. Jenis Produk : a. Roti Bolu dengan 3 Ukuran
o Bulat Kecil
o Bulat Besar
o Panjang
c. Roti Srikaya
d. Roti paha ayam pandan
e. Roti isi kelapa
8. Bahan Baku : Tepung segitiga cakra, Gula, Kelapa, mentega, telur, pasta pandan, pengembang, pelembut antiplacin.
9. jumlah produksi / hari : a. Roti Bolu ± 1000 bks
b. Roti srikaya dan kelapa ± 1000 bks
c. Roti Paha Ayam ± 100 kotak (perkotak 24 buah )
10. Harga Jual Produk : a. Roti Bolu Rp. 2500/ bks
b. Roti Srikaya Rp. 4000/ bks
c. Roti Kelapa Rp. 4000/ bks
d. Roti paha ayam Rp. 10.000/ kotak

11. Modal setiap produksi : ± Rp. 4. 000.000
12. Laba setiap produksi : 15 % dari Modal ( ± Rp. 600.000 )

B. Kendala yang dihadapi
1. Jumlah Sarana yang kurang memadai
Peralatan yang digunakan dalam proses produksi adalah mixer listrik dengan jumlah hanya 1, sehingga proses produksi berlangsung sedikit lambat. Selain itu, adanya pemadaman listrik jelas menghambat jalan proses pengadukan yang hanya bergantung pada listrik, alternatif lain usaha ini menyediakan sebuah mixer mesin yang menggunakan bahan bakar solar yang kapasitas mixernya sedikit juga pengadukan sedikit lama.

2. Pergantian Musim
Musim buah pada bulan – bulan tertentu juga menghambat hasil penjualan, sebab adanya pergantian konsumsi konsumen terhadap roti menjadi buah



BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil kunjungan , maka penulis dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Dilihat dari kondisi IKM “ Roti Bintang Jaya “ yang memiliki pendapatan kotor sekitar Rp. 600.000 / produksi dapat dikatakan IKM ini tergolong maju, selain itu didukung dengan jumlah karyawan yang relative banyak serta pemasaran yang cukup luas hingga keluar kota.
2. Kondisi yang nyaman untuk bekerja dan keakrapan para karyawan dengan pengusaha dapat menunjang kemajuan IKM “ Roti Bintang Jaya “.
3. Belum adanya pembukuan pengusaha, sehingga pengusaha sulit untuk menentukan dengan jelas jumlah uang yang masuk dan jumlah uang yang keluar.
B. Saran
Sebagian besar keberhasilan usaha, khususnya usaha kecil sangat ditentukan oleh kemampuan pengusaha dalam memanajement, salah satunya adal manajement keuangan dengan cara menerapkan metode pembukuan, agar tidak tergabung antara pengeluaran untuk pribadi dengan pengeluaran untuk produksi, sehingga penulis menyarankan agar pengusaha menerapkan pembukuan guna untuk kemajuan usaha “ Bintang Jaya “ kedepanny. Selain itu penulis juga menyaran pada Dinas setempat untuk kiranya memberikan perhatian atau bantuan berupa alat pengaduk ( mixer ) untuk kemajuan IKM di Rantauprapat.
DAFTAR PUSTAKA

http://syukriy.wordpress.com/2010/07/25/menyoal-peran-pemerintah-atas-ukm
http://banking.blog.gunadarma.ac.id/2011/01/12/artikel-tentang-usaha-kecil menengah/
http://budialiandong.blogspot.com/2008/01/peran-pemerintah-dalam pengembangan.html
http://javan.co.id/analisis-swot-terhadap-peran-serta-mahasiswa-dalam- memposisikan-usaha-kecil-dan-menengah