Bulan purnama,bulan sabit,musim hujan ,musim kemarau,sabit lagi,purnama lagi,hujan lagi kemarau lagi. Tahun berganti tahun,namun tak juga ada perubahan dari desa ini. Dimana penduduknya? Jika engkau berjalan kira-kira 2 KM dari perempatan ini,disanalah engkau temui tanah perkebunan rimbang. Disanalah semua penduduk mulai Dari yang masih dalam kandungan hingga yang sudah bau tanah. Hanya itulah usaha penduduk sebuah desa terpencil dipulau Sumatra tepatnya dipropinsi Sumatra Utara. “kiamatlah……kiamatlah! Ucap seorang lelaki tua. Wak Badrun namanya,pelarian dari kota,korban ketidak adilan pemerintah,tak ada yang tau betul tentang asal usul wak Badrun. Orang-orang dikampung ini menganggapnya aneh dan memberi nya gelar Juru Kiamat. Ya…..memang aneh,tapi lebih aneh lagi pemikiran penduduk desa ini. Jika kau mencari anak berseragam merah putih,maaf sekali,bukan disini tempatnya. Zaman ini sudah zaman modern,tapi tidak berlaku di kampung ini. Jangankan hanphone listrikpun tak kan kamu temui disini.
Pagi yang cerah,namun tak secerah pemikiran penduduk desa ini. “ ais…enggak berangkat sekolah?” tanyaku pada seorang wanita kecil yang melintas didepanku sambil menjujung kayu.
”Disekolah tak pernah diajari cara mencari kayu,memotong dan cara menjujungnya,untuk apa aku sakolah kalau yang kubutuhkan dalam hidupku tak pernah dipalajari” tuturnya dengan logat melayu pesisir yang kental. Aku bengong dan ia berlalu meninggalkanku. Aneh…dicari sampai pada ujung duniapun tak akan ada sekolah yang mengajarkan cara menjujung kayu yang benar” gerutuku. “kiamatlah…..kiamatlah” ucap uwak Badrun si juru kiamat ketika melintas didepanku.
” Kapan datang” tanyanya dengan logat melayu kentalnya ketika ia sadar bahwa ia melintas didepanku.Dengan tersenyum aku menjawab” semalam, hendak kemana uwak?” namun pertanyaaku dijawab dengan pertanyaan lagi “ di kota kau ngapain?” aku tersenyum mendengar pertanyaannya,
” sekolah la wak” ia balik tersnyum” kufikir kau manjujung kayu juga” ucapnya sambil berlalu,bukan ucapan yang lucu. Semakin aneh….membuat aku semakin bingung. Penduduk desa ini mayoritas melayu pesisir dan jawa,penghasilannya hanya bersandar pada kebun rimbang milik nenek moyang disamping penjujung kayu. Memang diantara penduduk desa ini, hanya akulah yang bersekolah hingga kini tingkat sma. Aku bersukur ternyata orang tuaku tak satu pemikiran dengan penduduk desa ini. Namun tetap saja disayangkan jika aku egois tak memikirkan orang-orang di sekelilingku.
Apa lagi yang diharapkan Indonesia dari desa ini? Tidak ada, Semuanya terjawab ketika gedung tempat aku pertama kali menyanyikan lagu Kebangsaanku ”Indonesia Raya” tidak lagi menjalankan aktifitasnya sehari-hari yakni proses belajar mengajar. Indonesia menangis…..! ingin aku memaki-maki semua orang yang disini. Kenapa gedung sekolah dijadikan gudang kayu? Gudang rimbang? Kemana ibu guru? Kemana siswa? Kemana bendera pusaka merah putih yang dulu berkibar? Jawabnya hanya satu, semuanya pergi kekebun rimbang dan menjujung kayu. Dan aku semakin menjerit ketika Merah Putihku dijadikan alas rimbang. Oh…..Indonesia.
Aku berlari-lari menuju perkebunan,katanya wak Badrun kumat di kebun. Aku tersengal-sengal ketika tiba dikebun dan kudapati penduduk semua berkumpul. Kulihat wak Badrun diatas sebuah pohon mangga yang masih subur. Ia menjerit - jerit membuat penduduk semangkin ramai.
“ kiamatlah…….kiamatlah….kiamatlah……! ucapnya berteriak.” Woi….wak Badrun,juru kiamat. Lompatlah dari atas pohon itu ,jumpai tuhan mu tanyakan pada-Nya kapan kiamat! Tanya seorang laki-laki membuat aku hendak menerkamnya. “Pertanyaan apa itu, dasar penduduk aneh” gerutuku. “Kiamatlah…….kiamatlah…” lanjut wak Badrun.
“ hei wak Badrun juru kiamat,turunlah….memang semuanya telah kiamat” ucapku setengah berteriak! Nampaknya ucapanku membawa dampak yang besar bagi wak Badrun ia bukannya turun malah berdiri diatas dahan yang kokoh.
Hei……Indonesiaku!lihatlah, Orang-orang bodoh ini sudah berkumpul,saksikan lah ibu kartini, perjelaslah Ki Hajar Dewantar wajah orang-orang bodoh ini” ucap wak Badrun sambil memainkan tangannya menunjuk orang-orang yang berada dibawahnya. Kupandangi wajah-wajah mereka, semuanya merah sepertinya emosi mereka melunjak.” Hei …juru kiamat,kau tau sama siapa kamu berbicara. Kami sekampung bisa membunuh mu.” Ucap salah seorang warga.
“ ya aku sadar… ibu kartini juga tau kalau aku sedang berhadapan dengan orang-orang bodoh,kenapa hasil kebun rimbangmu tak kau jadikan biaya untuk sekolah,pendidikan anak-anak ini? Ucap wak Badrun sambil mempermainkan telunjuknya.
“ hei….juru kiamat,sadarlah engkau engkaulah yang bodoh,semua orang juga tahu tak ada orang yang mati karena tak mengecap dunia pendidikan,karena tak sekolah tapi banyak orang mati kalau tak kerja hingga tak bisa memperoleh pengganjal perut yang sejengkal ini! Ucap seseorang yang dikenal sebagai Kepala Desa.
“hei kepala desa yang dungu…sadarlah engkau…jika engkau membiarkan anak-anak ini terus menjunjung kayu..kapan nasib bangsa ini akan berubah? Tambah wak Badrun
“ wak Badrun…untuk apa kau susah memikirkan nasib Bangsa, Negara, sedangkan mereka yang duduk di atas singgasana sambil menggoyang-goyangkan kakinya tak pernah sibuk memikirkan kita sang penjunjung kayu,mereka lebih memikirkan bagaimana supaya mereka bisa memakan hak kita…..mereka korupsi…mereka korupsi”bantah kepala desa dengan diiringi sorakan warga.
Aku yang menyaksikannya diam “kiamatlah…kiamatlah….” Kuucapkan kata-kata wak Badrun itu setengah berbisik.
”pemikiran yang bodoh….pemikiran yang aneh….siapa lagi yang akan memberantas korupsi itu kalau bukan mereka…mereka anak-anak bangsa. Jika kalian terus dan terus mengajarkan dia menjunjung kayu…kapan negara ini akan berubah? Dimana anak-anak bangsa seperti mereka?Dan dengan tertawa tikus-tikus berdasi itu menjawab ” mereka hanya bisa menjunjung kayu” dan hak-hak kita terus dimakan mereka,korupsi tidak akan pernah berakhir jika masih ada orang-orang bodoh seperti kalian di Indonesia ini!” bentak wak Badrun. Suasana semakin memanas….aku bingung apa yang hendak aku lakukan.
“ hei wak Badrun…..anakku….Dodi tak lulus dari SMPnya sehingga keringat yang bercucuran selama 9 tahun tak membuahkan hasil, sehingga aku berfikir selama 9 tahun ini aku hanya menghambur-hamburkan uangku. hanya karena UAN 3 hari anakku tak dapat apa-apa selama sekolah. Apakah ini adil….apakah Indonesia memang membutuhkan anakku untuk menurunkan tikus-tikus berdasi itu. Apakah Negara tak pernah berfikir tindakan ini membuat pengangguran semakin banyak, akibat pengangguran, kriminal semakin meraja lela dan kemiskinan semakin meningkat dan satu lagi….disekolah pendidikan laki-laki dan Prempuan itu disamakan padahal ketika mereka menuju jenjang pernikahan maka tuntutan dibedakan. Laki-laki harus kerja,mecari nafkah diluar rumah sedangkan prempuan harus tinggal dirumah mendidik anak,menanakkan nasi. padahal dahulu mereka sama-sama belajar matimatika,Ipa semuanya sama, namun kenapa tuntutannya berbeda. Ini sama sekali tidak adil tapi disini dikebun ini semuanya diajarkan sama pada laki-laki,anak-anak, wanita semua menjujung kayu. Laki-laki,wanita, anak-anak semuanya harus menanak nasi. Jika pemerintah memberikan didikan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan disekolah pastilah tak kan ada perceraian karena sesama tak bisa saling menuntut,jika pemerintah tetap menerapkan pelajaran yang sama bagi laki-laki dan prempuan,maka akan ada tuntutan sang suami,istri tidak bisa memasak,suami tidak bisa kerja. Bagaimana bisa keduanya saling menuntut sedangkan mereka dididik dalam hal yang sama. bukankah lebih baik menjujung kayu yang pekerjaannya sudah jelas dari usia dini dari pada harus menghabiskan waktu sekolah?” ucap salah seorang warga yang kecewa akan pemerintahan Indonesia.
” Ya betul….seandainya saja ayah tak pernah menyekolahkan aku,biaya selama aku bersekolah sudah bisa aku jadikan modal buka usaha,hingga jelas aku bisa bekerja.tapi jika aku sekolah belum tentu aku bisa bekerja..semuanya rugi..tak ada untungnya…,aku ingin minta uang sekolah ku dulu dikembalikan!”ucap salah seorang remaja.
” Dan yang anehnya lagi,pemerintah sudah gila. Ketika saya sekolah,saya belajar logaritma,sudut siku-siku,linggaran tapi dalam kenyataannya aku tidak pernah bertemu dengan satu masalah yang harus aku pecahkan dengan menggunakan rumus itu. Apakah ini tidak konyol.. belajar yang tidak bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Dan kenyataannya ketika saya menjujung kayu saya tidak memerlukan sudut 90 derjat,tidak butuh log 2 bahkan tidak butuh 1+1 apakah itu semua tidak cukup untuk menunjukkan bahwa sekolah itu enggak penting,hanya orang bodohlah yang mau mengeluarkan uangnya untuk sesuatu yang tak bermanfaat bagi hidupnya.” Tambah remaja yang lain
Aku yang mendengar penuturan itu tercengang tak kusangka ternyata mereka pandai berpolitik,kata-katanya seperti orang berpendidikan tinggi, kata-katanya bijak seperti pejabat yang sedang berdebat padahal mereka hanya penjujung kayu” Gumamku.
“sungguh Indonesia membutuhkan orang-orang seperti kalian,pemikiran yang intelektual…namun hanya karena satu kalimat”sekolah itu enggak penting” membutakan mata kalian,menutup rasa kebangsaan kalian, membuat kalian lupa akan nasib kalian sendiri. Apa kalian mau anak-anak penerus bangsa akan bernasib sama seperti kita hanya sebagai penjujung kayu? apa kalian tidak ingin kampung kita ini berubah? apa kalian tidak ingin hak-hak kita sebagai bangsa dikembalikan? jika kalian ingin semua bertindaklah..bertindaklah…kasihan anak-anak itu dari kecil hingga nafas terakhir hanya satu ilmu yang ia dapat,menjujung kayu,memetik rimbang. Lihatlah para orang tua, mereka cerdas-cerdas negara benar-benar menanti kedatangan mereka. Jika mereka tetap menjujung kayu siapa yang akan menggantikan para pemimpin negara ini ketika mereka sudah turun jabatan? Jika kita tetap diam,maka yang akan jadi penerusnya adalah mereka anak-anak konglomerat…..bagaimana jika mereka bodoh? Terpaksa tetap jadi pemimpin karena yang pintar hanya diam…gigit jari,mereka tak akan pernah merasakan penderitaan kita ini yang kadang perut sejengkal tak terisi karena rimbang kurang laris dikota, mereka tak akan pernah merasakan sakitnya kepala ketika harus menjujung kayu sepanjang jalan untuk dijual kepedagang koreng pisang dikota,mereka tak pernah rasakan itu semua karena pada dasarnya mereka berasal dari kalangan-kalangan tertentu dan mereka hanya menganggap kita pembantu, budak maka tikus-tikus berdasi pun makin berkembang biak. Maka Indonesia akan diujung kiamat jika pengganti dari pemimpin kita adalah kalangan seperti kita. maka tak diragukan lagi ia akan merubah semuanya karena ia pernah merasakan bagaimana sakitnya hidup sehingga ia tak ingin sakit yang ia rasakan itu dirasakan oleh orang-orang yang dipimpimnya, sehingga ia tak menganggap kita pembantu,budak, ia menganggap kita anak kraton, anak raja yang perlu dilindungi dan diberi haknya. Jangan hanya diam…..kalau kita terus-terusan diam. maka kiamatlah….kiamtlah semua karena Indonesia akan hancur…hancur..dan saat itu juga Indonesia Kiamat! Yang tinggal hanya orang-orang bodoh seperti kalian…kebun rimbang ini tak akan jadi milik kalian lagi,kalian akan jadi budak diatas hak kalian! Ucap wak Badrun dengan antusius.
Aku kini faham kiamat yang dimaksud wak Badrun kiamat Indonesia,kala itu dimana mana orang-orang bodoh membiarkan haknya direbut dan Indonesia hanya tinggal nama.
”dan pemerintah itu tidak bodoh,pemerintah punya peraturan karena ada keuntunggannya, jika pemerintah tak menerapkan Uan,maka generasi muda akan malas menuntut Ilmu karena tak ada yang perlu ditakutkan dan keuntungan itu bisa kita petik besok….disaat kita bisa mengenggam dunia.” Tambah wak Badrun kini dengan isakkannya
”aku sedih ketika gedung sekolah itu berhenti dari aktifitasnya…..saya mohon kembalikan gedung itu,kibarkan lagi bendera merah putihku….kumandangkan lagi syair itu,jangan biarkan lagi anak-anak itu menjujung kayu! Negara menginginkan mereka….tolong…tolonglah negara ini……hargai perjuangan Kartini,perjuangan Ki Hajar Dewantara….ia tak pernah menagih uang atas perjuangannya…..kita tidak disuruh untuk angkat senjata seperti meraka,kita hanya diminta untuk meneruskan perjuangan mereka dengan membangun Indonesia ini. Aku yakin kalau kita bertindak lambat laun tikus-tikus berdasi akan punah….percayalah jayalah Indonesia….Indonesia……Indonesia…” ucap wak Badrun setelah beberapa detik menangis dan diakhiri dengan teriakan.
Lambat laun warga beranjak, mereka tak berkomentar lagi tapi mereka diam…ada yang menagis ada yang diam bahkan ada yang sama sekali tidak mengerti adegan yang baru saja terjadi. Lambat laun berkurang satu,berkurang lagi, dan kini tinggal aku dan wak Badrun masih diatas pohon.
Ia menatapku…..”selamatkan Indonesia”ucapnya dan ia kembali berteriak….. Indonesia… indonesia.. kiamatlah….kiamatlah…
Pagi itu tak seperti biasanya……aku sudah lama berdiri di perempatan ini menunggu anak-anak penjujung kayu. Tapi tak satupun kutemui,sudah 2 jam aku berdiri tapi tak satupun warga yang melintas didepanku. Kucoba mencari jawaban atas kenyataan ini,dan jawaban itu tak juga kutemui hingga aku bertemu dengan wak Badrun” kemana semua warga? Tanyaku pada wak badrun.” Mereka tak ada dikebun rimbang,mereka entah kemana” jawab wak badrun sambil berlalu meninggalkan satu kepastian yang tak jelas. Kutatap rumah panggung kepala desa. Tampak ia merenung ,menopang dagu pada jendela. Begitu juga warga yang lain. Hari ini kebun rimbang kiamat. Dari balik dedaunan masih terdengar teriakan wak Badrun….kiamatlah….kiamatlah…!
Sigambal,januari 2008
Sabtu, 09 Oktober 2010
CINTAKU UTUH AKHIRNYA TERSENTUH
Jawaban dari note “ CINTAKU UTUH, TAK TERSENTUH “
“Cintaku utuh tak tersentuh” menetes air mataku saat membaca note kecil dari facebook seorang ikhwan, terngiang terus semua kata- kata yang tertuang dalam note itu,
Ku tanya padamu,
pernahkah kau jatuh cinta? Ku akui, akupun juga
… Tapi tak pantas bagi kita mengumbar
rasa itu.. Rasa yg entah akan berlabuh di mana?
Lalu pikirkan, jika dia yang kau cinta, yang mengganggu tidurmu,
membuatmu menangis karena rindu, ternyata bukan atau mungkin tak
kan pernah menjadi pendampingmu, atau bukan kau yang dia pilih?
Tak malukah? Tak malukah?
Dalam beberapa hari aku hanya banyak diam, mengurung diri dikamar, halaqoh kutinggalkan, suro’2 penting kutinggalkan, waktu ku kuhabiskan dengan menangis dan menangis dikamar. Note itu seolah – olah menghujamku, Note itu seolah2 ditujukan padaku, n hanya padaku.. padaku yang telah di khitbah seorang ikhwan yang luar biasa, aktivis dakwah dikotaku, sedang aku,bukanlah seorang akhwat yang giat mengemban dakwah seperti kebanyakan akhwat lain, tapi itulah takdirku, AKU MENJADI WANITA YG TERPILIH , disaat banyak para akhwat yang menanti pemimpin sepertinya. Note itu seolah – olah bercerita tentangku, tentangku yang disisi lain masih mengharapkan seorang ikhwan bercelana goyang, hitam memakai kemeja coklat kotak yang selalu aku temui dikampus tempat aku memulai dakwah ini, bahkan jilbab ini juga berangkat dari sana, saat disebuah acara, dan dia sebagai moderator melantunkan ayat Allah “WANITA YANG BAIK HANYA UNTUK LELAKI YANG BAIK”,lalu, kumulilah memperbaiki diri karena aku juga berhak mendapatkan yg terbaik, dialah yang kuharap baik untukku. masih berharap ia datang mengetuk pintu rumahku, dan bertemu dengan kedua orang tuaku, mempercayakan aku sebagai wanita yang tepat untuk melahirkan anak- anak generasi ABU BAKAR, UMAR ATAU AISYAH dari rahimku. Masih berharap padanya, saat hidup ini telah diikat, saat diri ini hampir mengikat janji suci.
Tak pernah kusesali semua ini, ini adalah proses, hidayah Allah datang padaku melalui dia. Astaghfirullah’adzim,,, berulang x aku memohon kepada Allah, agar note itu jangn mengganggu hidupku. Tapi tidak, seolah2 note it terus mengejarku, mengikuti langkahku.
Lalu, apa masih mampu kau tatap wajah suamimu kelak
Dengan cinta yang seutuhnya
Jika ternyata dulu kau pernah menaruh separuh hatimu pada lelaki lain…
Wahai para lelaki, tak cemburukah? Tak cemburukah?
Tak cemburukah kau jika saat ini wanita yang kau pilih kelak sedang
menyerahkan hatinya pada lelaki selainmu,
namun ternyata kau yang akan meminangnya.
Tak sakit hatikah bila ketika bersamamu,
ternyata dia tengah membandingkanmu
dengan sosok lain dalam hatinya? Tak sedihkah?
Tak sakitkah? Tak cemburukah? Jika kau, para lelaki, menjawab
'ya' maka, itu pula yang kami, wanita, rasakan..
Benar, aku selalu membandingnya dengan dirinya. Entah apa yang sedang aku bandingkan, itulah hatiku. Y rob.....dosanya aku mendustakan niat tulus ikhwan sepertinya??? Dosanya aku telah mengkhianati kepercayaannya??alangkah berdosanya aku saat aku telah menjadi sebagain hidupnya, sedang aku tetap berharap yang tak mungkin untuk terwujud lagi???
Dosanya aku Rob???? Lalu kenapa aku harus membaca note ini setelah aku diikat??? Kenapa tidak sebelumnya??
Tak tahan lagi aku akan fikiran2 yang selalu menyalahkanku, kuambil secarik kertas, kumulai menuliskan kata – kata untuknya.
Assalamu’alaikum
Akh, semoga Allah selalu meeridhoi nilai tulus antum, semoga Allah juga memberkahi hidup antum, semoga cintaNya selalu mengiringi langkah antum.
Afwan, afwan jiddan akh!!
Ana tidak bisa melanjutkan ikatan ini pada sebuah pernikahan yang suci, jika dilanjutkan, ana telah menodai kesucian hubungan ini,
Afwan akah, afwan jiddan! Sebelumnya ana tidak bercerita kalau ana menyimpan nama lain dihati ini, berharap nama itu hadir dalam sisa hidup ana.
Afwan akh, kalau ana menyetujui niat antum tanpa berterus terang dahaulu pada antum.
Afwan akh, afwan jiddan!! Kalau antum menganggp ana mengkhianatai antum.
Afwan akh, afwan jiddan, hanya itulah yg bisa ana ucapkan.
Wassalam........
Seminggu setelah surat itu dikirim , tak ada balasan sama sekali. Sedang rasa bersalah itu semakin besar..
Handphone ku berdering, sms darinya
” assalamu’alaikum. Jazakalllah katsiron ukh atas kejujuran antum, sebelum semuanya berlanjut. Syukron ukh, kalau keputusan antum ini tepat, sebelum CINTAKU YANG UTUH TERSENTUH, mungkin takdir Allah menyebutkan bukan anti yang’MENYENTUHNYA, ana berdoa semoga CINTA ANTI UTUH, HANYA DIA YANG MENYENTUH. Bersabarlah ukh, semoga aLLAH MENYATUKAN KALIAN. WASSALAM”
Kaki dan Tanganku gemetar, tubuhku keringat dingin, jantungku berdetak kencang, kata-katany telah menggetarkan tubuhku, menemukan sebuah celah dihatiku. Aku menangis, tiba – tiba wajahnyalah yag menari dibenakku, dengan sebuah keluarga yang bahagai menari diangan – anganku.
Kuletakkan tanganku didadaku, kusebut namanya, jantungku kian berdetak. Tak seharusnya aku terbawa note itu, tak seharusnya aku mengambil keputusan hanya karena note itu. Keputusan yang membuat aku semakin merasa bahwa ” CINTAKU YANG UTUH, DISENTUH OLEHNYA ”, Dialah yg kini menyentuhnya ” CINTAKU UTUH, AKHIRNYA TERSENTUH”
Takkan pernah bosan ku ingatkan, bahwa yang
akan berlaku tetaplah ketetapan-Nya …. Sekuat
apapun usaha kalian jika tak sejalan dengan kehendak-Nya, maka tak
akan pernah terjadi.. .Lalu, buat apa kau mubazirkan waktumu?
Untuk apa Kau kuras energi? Kerana apa kau habiskan airmatamu?....
untuk orang yang belum tentu menjadi milikmu?
Untuk apa?
YA ROBB, KUATKAN AKU!!!!
MEDAN, 08 OCTOBER 2010
“Cintaku utuh tak tersentuh” menetes air mataku saat membaca note kecil dari facebook seorang ikhwan, terngiang terus semua kata- kata yang tertuang dalam note itu,
Ku tanya padamu,
pernahkah kau jatuh cinta? Ku akui, akupun juga
… Tapi tak pantas bagi kita mengumbar
rasa itu.. Rasa yg entah akan berlabuh di mana?
Lalu pikirkan, jika dia yang kau cinta, yang mengganggu tidurmu,
membuatmu menangis karena rindu, ternyata bukan atau mungkin tak
kan pernah menjadi pendampingmu, atau bukan kau yang dia pilih?
Tak malukah? Tak malukah?
Dalam beberapa hari aku hanya banyak diam, mengurung diri dikamar, halaqoh kutinggalkan, suro’2 penting kutinggalkan, waktu ku kuhabiskan dengan menangis dan menangis dikamar. Note itu seolah – olah menghujamku, Note itu seolah2 ditujukan padaku, n hanya padaku.. padaku yang telah di khitbah seorang ikhwan yang luar biasa, aktivis dakwah dikotaku, sedang aku,bukanlah seorang akhwat yang giat mengemban dakwah seperti kebanyakan akhwat lain, tapi itulah takdirku, AKU MENJADI WANITA YG TERPILIH , disaat banyak para akhwat yang menanti pemimpin sepertinya. Note itu seolah – olah bercerita tentangku, tentangku yang disisi lain masih mengharapkan seorang ikhwan bercelana goyang, hitam memakai kemeja coklat kotak yang selalu aku temui dikampus tempat aku memulai dakwah ini, bahkan jilbab ini juga berangkat dari sana, saat disebuah acara, dan dia sebagai moderator melantunkan ayat Allah “WANITA YANG BAIK HANYA UNTUK LELAKI YANG BAIK”,lalu, kumulilah memperbaiki diri karena aku juga berhak mendapatkan yg terbaik, dialah yang kuharap baik untukku. masih berharap ia datang mengetuk pintu rumahku, dan bertemu dengan kedua orang tuaku, mempercayakan aku sebagai wanita yang tepat untuk melahirkan anak- anak generasi ABU BAKAR, UMAR ATAU AISYAH dari rahimku. Masih berharap padanya, saat hidup ini telah diikat, saat diri ini hampir mengikat janji suci.
Tak pernah kusesali semua ini, ini adalah proses, hidayah Allah datang padaku melalui dia. Astaghfirullah’adzim,,, berulang x aku memohon kepada Allah, agar note itu jangn mengganggu hidupku. Tapi tidak, seolah2 note it terus mengejarku, mengikuti langkahku.
Lalu, apa masih mampu kau tatap wajah suamimu kelak
Dengan cinta yang seutuhnya
Jika ternyata dulu kau pernah menaruh separuh hatimu pada lelaki lain…
Wahai para lelaki, tak cemburukah? Tak cemburukah?
Tak cemburukah kau jika saat ini wanita yang kau pilih kelak sedang
menyerahkan hatinya pada lelaki selainmu,
namun ternyata kau yang akan meminangnya.
Tak sakit hatikah bila ketika bersamamu,
ternyata dia tengah membandingkanmu
dengan sosok lain dalam hatinya? Tak sedihkah?
Tak sakitkah? Tak cemburukah? Jika kau, para lelaki, menjawab
'ya' maka, itu pula yang kami, wanita, rasakan..
Benar, aku selalu membandingnya dengan dirinya. Entah apa yang sedang aku bandingkan, itulah hatiku. Y rob.....dosanya aku mendustakan niat tulus ikhwan sepertinya??? Dosanya aku telah mengkhianati kepercayaannya??alangkah berdosanya aku saat aku telah menjadi sebagain hidupnya, sedang aku tetap berharap yang tak mungkin untuk terwujud lagi???
Dosanya aku Rob???? Lalu kenapa aku harus membaca note ini setelah aku diikat??? Kenapa tidak sebelumnya??
Tak tahan lagi aku akan fikiran2 yang selalu menyalahkanku, kuambil secarik kertas, kumulai menuliskan kata – kata untuknya.
Assalamu’alaikum
Akh, semoga Allah selalu meeridhoi nilai tulus antum, semoga Allah juga memberkahi hidup antum, semoga cintaNya selalu mengiringi langkah antum.
Afwan, afwan jiddan akh!!
Ana tidak bisa melanjutkan ikatan ini pada sebuah pernikahan yang suci, jika dilanjutkan, ana telah menodai kesucian hubungan ini,
Afwan akah, afwan jiddan! Sebelumnya ana tidak bercerita kalau ana menyimpan nama lain dihati ini, berharap nama itu hadir dalam sisa hidup ana.
Afwan akh, kalau ana menyetujui niat antum tanpa berterus terang dahaulu pada antum.
Afwan akh, afwan jiddan!! Kalau antum menganggp ana mengkhianatai antum.
Afwan akh, afwan jiddan, hanya itulah yg bisa ana ucapkan.
Wassalam........
Seminggu setelah surat itu dikirim , tak ada balasan sama sekali. Sedang rasa bersalah itu semakin besar..
Handphone ku berdering, sms darinya
” assalamu’alaikum. Jazakalllah katsiron ukh atas kejujuran antum, sebelum semuanya berlanjut. Syukron ukh, kalau keputusan antum ini tepat, sebelum CINTAKU YANG UTUH TERSENTUH, mungkin takdir Allah menyebutkan bukan anti yang’MENYENTUHNYA, ana berdoa semoga CINTA ANTI UTUH, HANYA DIA YANG MENYENTUH. Bersabarlah ukh, semoga aLLAH MENYATUKAN KALIAN. WASSALAM”
Kaki dan Tanganku gemetar, tubuhku keringat dingin, jantungku berdetak kencang, kata-katany telah menggetarkan tubuhku, menemukan sebuah celah dihatiku. Aku menangis, tiba – tiba wajahnyalah yag menari dibenakku, dengan sebuah keluarga yang bahagai menari diangan – anganku.
Kuletakkan tanganku didadaku, kusebut namanya, jantungku kian berdetak. Tak seharusnya aku terbawa note itu, tak seharusnya aku mengambil keputusan hanya karena note itu. Keputusan yang membuat aku semakin merasa bahwa ” CINTAKU YANG UTUH, DISENTUH OLEHNYA ”, Dialah yg kini menyentuhnya ” CINTAKU UTUH, AKHIRNYA TERSENTUH”
Takkan pernah bosan ku ingatkan, bahwa yang
akan berlaku tetaplah ketetapan-Nya …. Sekuat
apapun usaha kalian jika tak sejalan dengan kehendak-Nya, maka tak
akan pernah terjadi.. .Lalu, buat apa kau mubazirkan waktumu?
Untuk apa Kau kuras energi? Kerana apa kau habiskan airmatamu?....
untuk orang yang belum tentu menjadi milikmu?
Untuk apa?
YA ROBB, KUATKAN AKU!!!!
MEDAN, 08 OCTOBER 2010
Kamis, 07 Oktober 2010
”PERPISAHAAN INI KAWAN ”
”PERPISAHAAN INI KAWAN ”
Ketika mentari datang menyinari hatiku yang gelap
Ketika rembulan membawa cahaya ke dalam hidupku yg redup
Ketika embun metenes membasahi jiwaku yg gersang
Dan ketika angin berhembus membawa kesejukan hatiku yang tandus.....
Aku terhimpit akan sebuah pemikiran.....
Sebuah kepercayaan akan keabadian....
Sebuah keyakinan pasti untuk selamanya
Bahwa hari hanya untuk selamanya
Bahwa ikatan ini pasti untuk selamnya
Aku terhenyak
Terhempas akan sebuah kenyataan
Kenyataan yang tak pernah terfikirkan
Bahwa ternyata
Senja pasti akan berakhir....
Matahari juga pasti akan tenggelam...
Dan rembulan juga akan kembali pada peraduannya....
Waktu itu telah datang....
Waktu yang akan membuat kita berjalan sendiri
Tanpa kamu yang selalu disisiki
Tanpa senyum lagi yang selalu kunikmati
Tanpa tawa dan candamu lagi yang menghiasi mimpi – mimpi ini
Dari kejauhan engkau melambaikan tangan
Menangis mengenang sejuta kenangan yang kita ukir bersama
Menangis akan datangnya sebuah waktu yang memisahkan kita
Menangis akan sebuah kisah yang akan kita tinggalkan......
Perpisahaan...........
Haruskah ada perpisahaan?????
Tidak adakah keabadian????
Tidak adakah keabadian??
Tidak adakah kebadian????
Aku menjadu bodoh......
Aku menjadi seorang yang tak percaya akan takdir?
Takdirkah ini kawan??
Saat aku kembali ketempat ini
Tak kutemui lagi senyummu menyambut kedatanganku
Takdirkah ini kawan????
Saat aku mencari
Tak kudengar lagi suaramu tuk menemani hariku
Takdirkah ini kawan???
Saat aku lelah
Tak kulihat lagi bahasa tubuhmu
Masihkah ini takdir kawan???
Kawan......
Kita punya hari yang bahagia
Yang membuat dunia hanya milik kita
Yang membuat waktu tak terasa
Kawan.....
Kita punya hari yang duka
Yang membuat hatimu terluka
Yang membuat hatiku tergores
Kawan..........
Kita punya khilaf dalam tawa canda
Meski tak membekas itu pasti ada
Kawan.............
Engkaulah mentari itu
Engkaulah cahaya itu
Engkaulah embun itu
Dan engkau jugalah angin itu.......
Mentariku, cahayaku, embunku dan kesejukanku
Pergilah............
Meski tak siap aku ikhlas.....
Kubiarkan engkau melangkah mencari kehidupan yang baru
Tapi tak kuzinkan engkau menghapusku
Dan biarkan aku melangkah mencari seseorang sepertimu
Berjanji engkau jiuga tak akan terhapus
Gapai mimpi tanpaku
Ku gapai mimpiku tanpa melupakanmu....
Kenang aku kawan........
Kenang aku yang menjadikanmu
Sosok indah hidupku.......
Sebuah kisah pasti akan berakhir
Dan akhir itu adalah awal kehidupan yang
Engaku berucap sambil terus melangkah menjauh..........
”kawanku
Cintamu telah menyatukan kita
Kasihmu telah mendamaikan jiwa kita
Izinkan aku menyimpan namamu dihatiku
Izinkan aku mengenangmu
Selamanya..........
Medan, 05 oktober 2010
Ketika mentari datang menyinari hatiku yang gelap
Ketika rembulan membawa cahaya ke dalam hidupku yg redup
Ketika embun metenes membasahi jiwaku yg gersang
Dan ketika angin berhembus membawa kesejukan hatiku yang tandus.....
Aku terhimpit akan sebuah pemikiran.....
Sebuah kepercayaan akan keabadian....
Sebuah keyakinan pasti untuk selamanya
Bahwa hari hanya untuk selamanya
Bahwa ikatan ini pasti untuk selamnya
Aku terhenyak
Terhempas akan sebuah kenyataan
Kenyataan yang tak pernah terfikirkan
Bahwa ternyata
Senja pasti akan berakhir....
Matahari juga pasti akan tenggelam...
Dan rembulan juga akan kembali pada peraduannya....
Waktu itu telah datang....
Waktu yang akan membuat kita berjalan sendiri
Tanpa kamu yang selalu disisiki
Tanpa senyum lagi yang selalu kunikmati
Tanpa tawa dan candamu lagi yang menghiasi mimpi – mimpi ini
Dari kejauhan engkau melambaikan tangan
Menangis mengenang sejuta kenangan yang kita ukir bersama
Menangis akan datangnya sebuah waktu yang memisahkan kita
Menangis akan sebuah kisah yang akan kita tinggalkan......
Perpisahaan...........
Haruskah ada perpisahaan?????
Tidak adakah keabadian????
Tidak adakah keabadian??
Tidak adakah kebadian????
Aku menjadu bodoh......
Aku menjadi seorang yang tak percaya akan takdir?
Takdirkah ini kawan??
Saat aku kembali ketempat ini
Tak kutemui lagi senyummu menyambut kedatanganku
Takdirkah ini kawan????
Saat aku mencari
Tak kudengar lagi suaramu tuk menemani hariku
Takdirkah ini kawan???
Saat aku lelah
Tak kulihat lagi bahasa tubuhmu
Masihkah ini takdir kawan???
Kawan......
Kita punya hari yang bahagia
Yang membuat dunia hanya milik kita
Yang membuat waktu tak terasa
Kawan.....
Kita punya hari yang duka
Yang membuat hatimu terluka
Yang membuat hatiku tergores
Kawan..........
Kita punya khilaf dalam tawa canda
Meski tak membekas itu pasti ada
Kawan.............
Engkaulah mentari itu
Engkaulah cahaya itu
Engkaulah embun itu
Dan engkau jugalah angin itu.......
Mentariku, cahayaku, embunku dan kesejukanku
Pergilah............
Meski tak siap aku ikhlas.....
Kubiarkan engkau melangkah mencari kehidupan yang baru
Tapi tak kuzinkan engkau menghapusku
Dan biarkan aku melangkah mencari seseorang sepertimu
Berjanji engkau jiuga tak akan terhapus
Gapai mimpi tanpaku
Ku gapai mimpiku tanpa melupakanmu....
Kenang aku kawan........
Kenang aku yang menjadikanmu
Sosok indah hidupku.......
Sebuah kisah pasti akan berakhir
Dan akhir itu adalah awal kehidupan yang
Engaku berucap sambil terus melangkah menjauh..........
”kawanku
Cintamu telah menyatukan kita
Kasihmu telah mendamaikan jiwa kita
Izinkan aku menyimpan namamu dihatiku
Izinkan aku mengenangmu
Selamanya..........
Medan, 05 oktober 2010
KESENDIRIANKU, SAHABATKU
Dalam hening ku terpaku
Terbayang ,,akan dirimu yang selalu menari di hidupku
Terbayang, akan wajahmu yang tenang
Terbayang ,akan merdunya suaramu yang mengisyaratkan cinta
Dalam diam ku merindu
Rindu akan sosokmu yang indah
Rindu akan senyummu yang damaikan jiwa
Rindu akan kasih tulusmu
Sahabatku...........
Taukah engkau???
Hari ini aku rindukan lagi
Waktu terlewati penuh bahagia
Waktu terlampaui penuh cinta
Sahabatku........
Taukah engkau???
Hari ini kutatap lagi wajah ini
Dihadapan cermin yang tersenyum kejut
”kini engaku sendiri”
Cermin berucap, membuat hati ini semakin teriris
Sahabatku…….
Dan sadarkah engkau???
Hari ini aku cari lagi!!
Waktu yang bisa membawaku kembali....
Kembali saat kita mengukir mimpi.......
Tapi?????
Apa yang kuetemui????
Kosong,lengang,dan sepi....
Ternyata aku memang telah sendiri
T’kan ada kau lagi
Yang biasa menuntun kaki ini
Dalam jalan – jalan penuh duri
Apa lagi yang kutemui???
Fakta bahwa semua ini
Bukanlah sekedar mimpi...
Sedih, sakit dan pilu..
Menyesakkan helai nafasku
Saat belenggu rindu
Merantai dalam jiwa ini
Sahabatku.......
Kini aku sendiri
Berjalan sendiri
Menghindar juga sendiri
Dari peluru kehidupan
Yang selalu membidik
Jalan – jalan mimpi ini...
Sahabatku......
Ternyata aq sendiri lagi
Menata hati yang selalu diguncang waktu
Waktu yang tak pernah mati
Membawa tongkat hidup ini juga sendri
Sahabatku.....
Kini aku sepi..
Melawan kerasnya hantaman kehidupan
Yang bisa membunuh semua isyrat cinta
Yang selalu tertanam di jiwa ini
Sahabatku.....
Kini aku sepi
Menantang dunia sendiri
Menatap sinarnya mentari juga sndiri
Tanpa genggaman erat tanganmu lagi
Sahabatku......
Kuucapkan lagi sebuah rasa itu
Sepi, luka,duka dan rindu
Selalu menghampiri waktu2 ku
Adakah kau merasakannya?????
Sahabatku.......
Kuingatkan lagi
Betapa waktu itu amat berarti
T’mampu ku cegah ketika ia pergi
T’mampu kita miliki sampai mati
Ternyata semuanya berhenti sampai disini
Sahabatku.......
Kini ku caba
Dan selalu kucoba,terima kesendirian inu
Meski tangan kosong hanya mengenggam angin
Barharao angin t’kan menyapu jejak2 mu
Berharap burungkan selalu bernyanyi merdu
Membawa kabar baik dari dirimu
Sahabatku.........
Kini kucoba
Dan sellau kucoba tegar menanti
Biar waktu memenggal kebersamaan ini
Biar waktu menjawab
Akan jadi apa rasa ini
Sahabatku.........
Izinkan aku merindukanmu
Izinkan aku menyebut namamu
Kala sepi dan rindu menyelusup
Kedalam kehidupanku yang baru
Izinkan akau menyimpanmu
Dalam sejarah hidupku.....
Izinkan aku untuk tetap mencintaimu
Izinkan aku untuk tetap mencintaimu
Dan izinkan aku untuk tetap mencintaimu
Karena engkau sangat berarti
Sahabatku!!!!!!
Medan , 06 oktober 2010
Terbayang ,,akan dirimu yang selalu menari di hidupku
Terbayang, akan wajahmu yang tenang
Terbayang ,akan merdunya suaramu yang mengisyaratkan cinta
Dalam diam ku merindu
Rindu akan sosokmu yang indah
Rindu akan senyummu yang damaikan jiwa
Rindu akan kasih tulusmu
Sahabatku...........
Taukah engkau???
Hari ini aku rindukan lagi
Waktu terlewati penuh bahagia
Waktu terlampaui penuh cinta
Sahabatku........
Taukah engkau???
Hari ini kutatap lagi wajah ini
Dihadapan cermin yang tersenyum kejut
”kini engaku sendiri”
Cermin berucap, membuat hati ini semakin teriris
Sahabatku…….
Dan sadarkah engkau???
Hari ini aku cari lagi!!
Waktu yang bisa membawaku kembali....
Kembali saat kita mengukir mimpi.......
Tapi?????
Apa yang kuetemui????
Kosong,lengang,dan sepi....
Ternyata aku memang telah sendiri
T’kan ada kau lagi
Yang biasa menuntun kaki ini
Dalam jalan – jalan penuh duri
Apa lagi yang kutemui???
Fakta bahwa semua ini
Bukanlah sekedar mimpi...
Sedih, sakit dan pilu..
Menyesakkan helai nafasku
Saat belenggu rindu
Merantai dalam jiwa ini
Sahabatku.......
Kini aku sendiri
Berjalan sendiri
Menghindar juga sendiri
Dari peluru kehidupan
Yang selalu membidik
Jalan – jalan mimpi ini...
Sahabatku......
Ternyata aq sendiri lagi
Menata hati yang selalu diguncang waktu
Waktu yang tak pernah mati
Membawa tongkat hidup ini juga sendri
Sahabatku.....
Kini aku sepi..
Melawan kerasnya hantaman kehidupan
Yang bisa membunuh semua isyrat cinta
Yang selalu tertanam di jiwa ini
Sahabatku.....
Kini aku sepi
Menantang dunia sendiri
Menatap sinarnya mentari juga sndiri
Tanpa genggaman erat tanganmu lagi
Sahabatku......
Kuucapkan lagi sebuah rasa itu
Sepi, luka,duka dan rindu
Selalu menghampiri waktu2 ku
Adakah kau merasakannya?????
Sahabatku.......
Kuingatkan lagi
Betapa waktu itu amat berarti
T’mampu ku cegah ketika ia pergi
T’mampu kita miliki sampai mati
Ternyata semuanya berhenti sampai disini
Sahabatku.......
Kini ku caba
Dan selalu kucoba,terima kesendirian inu
Meski tangan kosong hanya mengenggam angin
Barharao angin t’kan menyapu jejak2 mu
Berharap burungkan selalu bernyanyi merdu
Membawa kabar baik dari dirimu
Sahabatku.........
Kini kucoba
Dan sellau kucoba tegar menanti
Biar waktu memenggal kebersamaan ini
Biar waktu menjawab
Akan jadi apa rasa ini
Sahabatku.........
Izinkan aku merindukanmu
Izinkan aku menyebut namamu
Kala sepi dan rindu menyelusup
Kedalam kehidupanku yang baru
Izinkan akau menyimpanmu
Dalam sejarah hidupku.....
Izinkan aku untuk tetap mencintaimu
Izinkan aku untuk tetap mencintaimu
Dan izinkan aku untuk tetap mencintaimu
Karena engkau sangat berarti
Sahabatku!!!!!!
Medan , 06 oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)