”PERPISAHAAN INI KAWAN ”
Ketika mentari datang menyinari hatiku yang gelap
Ketika rembulan membawa cahaya ke dalam hidupku yg redup
Ketika embun metenes membasahi jiwaku yg gersang
Dan ketika angin berhembus membawa kesejukan hatiku yang tandus.....
Aku terhimpit akan sebuah pemikiran.....
Sebuah kepercayaan akan keabadian....
Sebuah keyakinan pasti untuk selamanya
Bahwa hari hanya untuk selamanya
Bahwa ikatan ini pasti untuk selamnya
Aku terhenyak
Terhempas akan sebuah kenyataan
Kenyataan yang tak pernah terfikirkan
Bahwa ternyata
Senja pasti akan berakhir....
Matahari juga pasti akan tenggelam...
Dan rembulan juga akan kembali pada peraduannya....
Waktu itu telah datang....
Waktu yang akan membuat kita berjalan sendiri
Tanpa kamu yang selalu disisiki
Tanpa senyum lagi yang selalu kunikmati
Tanpa tawa dan candamu lagi yang menghiasi mimpi – mimpi ini
Dari kejauhan engkau melambaikan tangan
Menangis mengenang sejuta kenangan yang kita ukir bersama
Menangis akan datangnya sebuah waktu yang memisahkan kita
Menangis akan sebuah kisah yang akan kita tinggalkan......
Perpisahaan...........
Haruskah ada perpisahaan?????
Tidak adakah keabadian????
Tidak adakah keabadian??
Tidak adakah kebadian????
Aku menjadu bodoh......
Aku menjadi seorang yang tak percaya akan takdir?
Takdirkah ini kawan??
Saat aku kembali ketempat ini
Tak kutemui lagi senyummu menyambut kedatanganku
Takdirkah ini kawan????
Saat aku mencari
Tak kudengar lagi suaramu tuk menemani hariku
Takdirkah ini kawan???
Saat aku lelah
Tak kulihat lagi bahasa tubuhmu
Masihkah ini takdir kawan???
Kawan......
Kita punya hari yang bahagia
Yang membuat dunia hanya milik kita
Yang membuat waktu tak terasa
Kawan.....
Kita punya hari yang duka
Yang membuat hatimu terluka
Yang membuat hatiku tergores
Kawan..........
Kita punya khilaf dalam tawa canda
Meski tak membekas itu pasti ada
Kawan.............
Engkaulah mentari itu
Engkaulah cahaya itu
Engkaulah embun itu
Dan engkau jugalah angin itu.......
Mentariku, cahayaku, embunku dan kesejukanku
Pergilah............
Meski tak siap aku ikhlas.....
Kubiarkan engkau melangkah mencari kehidupan yang baru
Tapi tak kuzinkan engkau menghapusku
Dan biarkan aku melangkah mencari seseorang sepertimu
Berjanji engkau jiuga tak akan terhapus
Gapai mimpi tanpaku
Ku gapai mimpiku tanpa melupakanmu....
Kenang aku kawan........
Kenang aku yang menjadikanmu
Sosok indah hidupku.......
Sebuah kisah pasti akan berakhir
Dan akhir itu adalah awal kehidupan yang
Engaku berucap sambil terus melangkah menjauh..........
”kawanku
Cintamu telah menyatukan kita
Kasihmu telah mendamaikan jiwa kita
Izinkan aku menyimpan namamu dihatiku
Izinkan aku mengenangmu
Selamanya..........
Medan, 05 oktober 2010
Minggu, 01 April 2012
CINTAKU UTUH AKHIRNYA TERSENTUH
Jawaban dari note “ CINTAKU UTUH, TAK TERSENTUH “
“Cintaku utuh tak tersentuh” menetes air mataku saat membaca note kecil dari facebook seorang ikhwan, terngiang terus semua kata- kata yang tertuang dalam note itu,
Ku tanya padamu,
pernahkah kau jatuh cinta? Ku akui, akupun juga
… Tapi tak pantas bagi kita mengumbar
rasa itu.. Rasa yg entah akan berlabuh di mana?
Lalu pikirkan, jika dia yang kau cinta, yang mengganggu tidurmu,
membuatmu menangis karena rindu, ternyata bukan atau mungkin tak
kan pernah menjadi pendampingmu, atau bukan kau yang dia pilih?
Tak malukah? Tak malukah?
Dalam beberapa hari aku hanya banyak diam, mengurung diri dikamar, halaqoh kutinggalkan, suro’2 penting kutinggalkan, waktu ku kuhabiskan dengan menangis dan menangis dikamar. Note itu seolah – olah menghujamku, Note itu seolah2 ditujukan padaku, n hanya padaku.. padaku yang telah di khitbah seorang ikhwan yang luar biasa, aktivis dakwah dikotaku, sedang aku,bukanlah seorang akhwat yang giat mengemban dakwah seperti kebanyakan akhwat lain, tapi itulah takdirku, AKU MENJADI WANITA YG TERPILIH , disaat banyak para akhwat yang menanti pemimpin sepertinya. Note itu seolah – olah bercerita tentangku, tentangku yang disisi lain masih mengharapkan seorang ikhwan bercelana goyang, hitam memakai kemeja coklat kotak yang selalu aku temui dikampus tempat aku memulai dakwah ini, bahkan jilbab ini juga berangkat dari sana, saat disebuah acara, dan dia sebagai moderator melantunkan ayat Allah “WANITA YANG BAIK HANYA UNTUK LELAKI YANG BAIK”,lalu, kumulilah memperbaiki diri karena aku juga berhak mendapatkan yg terbaik, dialah yang kuharap baik untukku. masih berharap ia datang mengetuk pintu rumahku, dan bertemu dengan kedua orang tuaku, mempercayakan aku sebagai wanita yang tepat untuk melahirkan anak- anak generasi ABU BAKAR, UMAR ATAU AISYAH dari rahimku. Masih berharap padanya, saat hidup ini telah diikat, saat diri ini hampir mengikat janji suci.
Tak pernah kusesali semua ini, ini adalah proses, hidayah Allah datang padaku melalui dia. Astaghfirullah’adzim,,, berulang x aku memohon kepada Allah, agar note itu jangn mengganggu hidupku. Tapi tidak, seolah2 note it terus mengejarku, mengikuti langkahku.
Lalu, apa masih mampu kau tatap wajah suamimu kelak
Dengan cinta yang seutuhnya
Jika ternyata dulu kau pernah menaruh separuh hatimu pada lelaki lain…
Wahai para lelaki, tak cemburukah? Tak cemburukah?
Tak cemburukah kau jika saat ini wanita yang kau pilih kelak sedang
menyerahkan hatinya pada lelaki selainmu,
namun ternyata kau yang akan meminangnya.
Tak sakit hatikah bila ketika bersamamu,
ternyata dia tengah membandingkanmu
dengan sosok lain dalam hatinya? Tak sedihkah?
Tak sakitkah? Tak cemburukah? Jika kau, para lelaki, menjawab
'ya' maka, itu pula yang kami, wanita, rasakan..
Benar, aku selalu membandingnya dengan dirinya. Entah apa yang sedang aku bandingkan, itulah hatiku. Y rob.....dosanya aku mendustakan niat tulus ikhwan sepertinya??? Dosanya aku telah mengkhianati kepercayaannya??alangkah berdosanya aku saat aku telah menjadi sebagain hidupnya, sedang aku tetap berharap yang tak mungkin untuk terwujud lagi???
Dosanya aku Rob???? Lalu kenapa aku harus membaca note ini setelah aku diikat??? Kenapa tidak sebelumnya??
Tak tahan lagi aku akan fikiran2 yang selalu menyalahkanku, kuambil secarik kertas, kumulai menuliskan kata – kata untuknya.
Assalamu’alaikum
Akh, semoga Allah selalu meeridhoi nilai tulus antum, semoga Allah juga memberkahi hidup antum, semoga cintaNya selalu mengiringi langkah antum.
Afwan, afwan jiddan akh!!
Ana tidak bisa melanjutkan ikatan ini pada sebuah pernikahan yang suci, jika dilanjutkan, ana telah menodai kesucian hubungan ini,
Afwan akah, afwan jiddan! Sebelumnya ana tidak bercerita kalau ana menyimpan nama lain dihati ini, berharap nama itu hadir dalam sisa hidup ana.
Afwan akh, kalau ana menyetujui niat antum tanpa berterus terang dahaulu pada antum.
Afwan akh, afwan jiddan!! Kalau antum menganggp ana mengkhianatai antum.
Afwan akh, afwan jiddan, hanya itulah yg bisa ana ucapkan.
Wassalam........
Seminggu setelah surat itu dikirim , tak ada balasan sama sekali. Sedang rasa bersalah itu semakin besar..
Handphone ku berdering, sms darinya
” assalamu’alaikum. Jazakalllah katsiron ukh atas kejujuran antum, sebelum semuanya berlanjut. Syukron ukh, kalau keputusan antum ini tepat, sebelum CINTAKU YANG UTUH TERSENTUH, mungkin takdir Allah menyebutkan bukan anti yang’MENYENTUHNYA, ana berdoa semoga CINTA ANTI UTUH, HANYA DIA YANG MENYENTUH. Bersabarlah ukh, semoga aLLAH MENYATUKAN KALIAN. WASSALAM”
Kaki dan Tanganku gemetar, tubuhku keringat dingin, jantungku berdetak kencang, kata-katany telah menggetarkan tubuhku, menemukan sebuah celah dihatiku. Aku menangis, tiba – tiba wajahnyalah yag menari dibenakku, dengan sebuah keluarga yang bahagai menari diangan – anganku.
Kuletakkan tanganku didadaku, kusebut namanya, jantungku kian berdetak. Tak seharusnya aku terbawa note itu, tak seharusnya aku mengambil keputusan hanya karena note itu. Keputusan yang membuat aku semakin merasa bahwa ” CINTAKU YANG UTUH, DISENTUH OLEHNYA ”, Dialah yg kini menyentuhnya ” CINTAKU UTUH, AKHIRNYA TERSENTUH”
Takkan pernah bosan ku ingatkan, bahwa yang
akan berlaku tetaplah ketetapan-Nya …. Sekuat
apapun usaha kalian jika tak sejalan dengan kehendak-Nya, maka tak
akan pernah terjadi.. .Lalu, buat apa kau mubazirkan waktumu?
Untuk apa Kau kuras energi? Kerana apa kau habiskan airmatamu?....
untuk orang yang belum tentu menjadi milikmu?
Untuk apa?
YA ROBB, KUATKAN AKU!!!!
MEDAN, 08 OCTOBER 2010
“Cintaku utuh tak tersentuh” menetes air mataku saat membaca note kecil dari facebook seorang ikhwan, terngiang terus semua kata- kata yang tertuang dalam note itu,
Ku tanya padamu,
pernahkah kau jatuh cinta? Ku akui, akupun juga
… Tapi tak pantas bagi kita mengumbar
rasa itu.. Rasa yg entah akan berlabuh di mana?
Lalu pikirkan, jika dia yang kau cinta, yang mengganggu tidurmu,
membuatmu menangis karena rindu, ternyata bukan atau mungkin tak
kan pernah menjadi pendampingmu, atau bukan kau yang dia pilih?
Tak malukah? Tak malukah?
Dalam beberapa hari aku hanya banyak diam, mengurung diri dikamar, halaqoh kutinggalkan, suro’2 penting kutinggalkan, waktu ku kuhabiskan dengan menangis dan menangis dikamar. Note itu seolah – olah menghujamku, Note itu seolah2 ditujukan padaku, n hanya padaku.. padaku yang telah di khitbah seorang ikhwan yang luar biasa, aktivis dakwah dikotaku, sedang aku,bukanlah seorang akhwat yang giat mengemban dakwah seperti kebanyakan akhwat lain, tapi itulah takdirku, AKU MENJADI WANITA YG TERPILIH , disaat banyak para akhwat yang menanti pemimpin sepertinya. Note itu seolah – olah bercerita tentangku, tentangku yang disisi lain masih mengharapkan seorang ikhwan bercelana goyang, hitam memakai kemeja coklat kotak yang selalu aku temui dikampus tempat aku memulai dakwah ini, bahkan jilbab ini juga berangkat dari sana, saat disebuah acara, dan dia sebagai moderator melantunkan ayat Allah “WANITA YANG BAIK HANYA UNTUK LELAKI YANG BAIK”,lalu, kumulilah memperbaiki diri karena aku juga berhak mendapatkan yg terbaik, dialah yang kuharap baik untukku. masih berharap ia datang mengetuk pintu rumahku, dan bertemu dengan kedua orang tuaku, mempercayakan aku sebagai wanita yang tepat untuk melahirkan anak- anak generasi ABU BAKAR, UMAR ATAU AISYAH dari rahimku. Masih berharap padanya, saat hidup ini telah diikat, saat diri ini hampir mengikat janji suci.
Tak pernah kusesali semua ini, ini adalah proses, hidayah Allah datang padaku melalui dia. Astaghfirullah’adzim,,, berulang x aku memohon kepada Allah, agar note itu jangn mengganggu hidupku. Tapi tidak, seolah2 note it terus mengejarku, mengikuti langkahku.
Lalu, apa masih mampu kau tatap wajah suamimu kelak
Dengan cinta yang seutuhnya
Jika ternyata dulu kau pernah menaruh separuh hatimu pada lelaki lain…
Wahai para lelaki, tak cemburukah? Tak cemburukah?
Tak cemburukah kau jika saat ini wanita yang kau pilih kelak sedang
menyerahkan hatinya pada lelaki selainmu,
namun ternyata kau yang akan meminangnya.
Tak sakit hatikah bila ketika bersamamu,
ternyata dia tengah membandingkanmu
dengan sosok lain dalam hatinya? Tak sedihkah?
Tak sakitkah? Tak cemburukah? Jika kau, para lelaki, menjawab
'ya' maka, itu pula yang kami, wanita, rasakan..
Benar, aku selalu membandingnya dengan dirinya. Entah apa yang sedang aku bandingkan, itulah hatiku. Y rob.....dosanya aku mendustakan niat tulus ikhwan sepertinya??? Dosanya aku telah mengkhianati kepercayaannya??alangkah berdosanya aku saat aku telah menjadi sebagain hidupnya, sedang aku tetap berharap yang tak mungkin untuk terwujud lagi???
Dosanya aku Rob???? Lalu kenapa aku harus membaca note ini setelah aku diikat??? Kenapa tidak sebelumnya??
Tak tahan lagi aku akan fikiran2 yang selalu menyalahkanku, kuambil secarik kertas, kumulai menuliskan kata – kata untuknya.
Assalamu’alaikum
Akh, semoga Allah selalu meeridhoi nilai tulus antum, semoga Allah juga memberkahi hidup antum, semoga cintaNya selalu mengiringi langkah antum.
Afwan, afwan jiddan akh!!
Ana tidak bisa melanjutkan ikatan ini pada sebuah pernikahan yang suci, jika dilanjutkan, ana telah menodai kesucian hubungan ini,
Afwan akah, afwan jiddan! Sebelumnya ana tidak bercerita kalau ana menyimpan nama lain dihati ini, berharap nama itu hadir dalam sisa hidup ana.
Afwan akh, kalau ana menyetujui niat antum tanpa berterus terang dahaulu pada antum.
Afwan akh, afwan jiddan!! Kalau antum menganggp ana mengkhianatai antum.
Afwan akh, afwan jiddan, hanya itulah yg bisa ana ucapkan.
Wassalam........
Seminggu setelah surat itu dikirim , tak ada balasan sama sekali. Sedang rasa bersalah itu semakin besar..
Handphone ku berdering, sms darinya
” assalamu’alaikum. Jazakalllah katsiron ukh atas kejujuran antum, sebelum semuanya berlanjut. Syukron ukh, kalau keputusan antum ini tepat, sebelum CINTAKU YANG UTUH TERSENTUH, mungkin takdir Allah menyebutkan bukan anti yang’MENYENTUHNYA, ana berdoa semoga CINTA ANTI UTUH, HANYA DIA YANG MENYENTUH. Bersabarlah ukh, semoga aLLAH MENYATUKAN KALIAN. WASSALAM”
Kaki dan Tanganku gemetar, tubuhku keringat dingin, jantungku berdetak kencang, kata-katany telah menggetarkan tubuhku, menemukan sebuah celah dihatiku. Aku menangis, tiba – tiba wajahnyalah yag menari dibenakku, dengan sebuah keluarga yang bahagai menari diangan – anganku.
Kuletakkan tanganku didadaku, kusebut namanya, jantungku kian berdetak. Tak seharusnya aku terbawa note itu, tak seharusnya aku mengambil keputusan hanya karena note itu. Keputusan yang membuat aku semakin merasa bahwa ” CINTAKU YANG UTUH, DISENTUH OLEHNYA ”, Dialah yg kini menyentuhnya ” CINTAKU UTUH, AKHIRNYA TERSENTUH”
Takkan pernah bosan ku ingatkan, bahwa yang
akan berlaku tetaplah ketetapan-Nya …. Sekuat
apapun usaha kalian jika tak sejalan dengan kehendak-Nya, maka tak
akan pernah terjadi.. .Lalu, buat apa kau mubazirkan waktumu?
Untuk apa Kau kuras energi? Kerana apa kau habiskan airmatamu?....
untuk orang yang belum tentu menjadi milikmu?
Untuk apa?
YA ROBB, KUATKAN AKU!!!!
MEDAN, 08 OCTOBER 2010
" PESANAN TIKET SURGA ALWAN "
Aku tak pernah berfikir, kalau keputusanku yang ku anggap g penting ini ternyata membuatku pusing plus ribet. Untuk mundur rasanya ga mungkin, sebab semuanya sudah terlanjur, seperti kata pepatah kuno, “ nasi tlah menjadi bubur “ meski memang hal ini tak ada hubungannya sama sekali dengan nasi apalagi bubur. Untuk berhenti, lebih ga mungkin, sebab ia terlanjur menikmati, apa hak ku menghancurkan kenikmatannya saat ini, meski aku Ibunya. Ya, aku sama sekali tak berhak mengenyahkan senyumamn Alwan,ya, namanya Alwan, aku lebih suka memanggilnya dengan panggilan “ Al…” lelaaki kecil berfostur sedang untuk ukuran anak kelas 1, lelaki tampan kedua setelah suamiku, lelaki yang menyempurnakan kodratku sebagai seorang wanita, katanya sih, tapi menurutku tidak ada yang luar biasa dengan kehadiran Alwan, ah.. naluri keibuanku mamang belum juga muncul meski status itu telah aku sandang lebih kurang 6 tahun, dan anehnya lagi aku tak pernah mengklhawatirkannya.
*****************
Bukan alwan namanya kalau ga banyak Tanya, dan itu terkadang yang membuat aku ribet, karena aku bukan tipe wanita yang suka basa – basi, karena aktivitas bisnis onlineku yang sejak kuliah aku jalani memang membuat aku tak punya waktu untuk basa – basi, tapi, sibuk bisnis online hanya alas an yang aku buat – buat, toh aku tak begitu sibuk, aku masih sempat untuk meluangkan waktu sekitar 3 jam tiap harinya hanya untuk nonton atau apalah, tapi tidak untuk yang satu ini “ menjawab pertanyaan – pertanyaan alwan”
Berawal dari kalimat” satu tiket ke surga” yang tak sengaja ia baca, buku yang ibu ima punya , ustadzahnya alwan disekolah. Alwan memang sudah terbiasa mendengar kata tiket, sebab suamiku sering membawanya ke arena main, yang notabennya selalu memakai tiket, jadi dia sudah paham benar makna kata tiket.
“ klau ke surga pakai tiket juga ya ma” tanyanya saat perjalanan pulang dari sekolah alwan. “ siapa yang bilang” tanyaku balik, alwan memutar posisi duduknya menghadap aku,ia yakin benar kalau diskusi dengan mamanya kali ini akan berlangsung lama, “ tadi ustadzah ima bawa buku, dan alwan baca ada tulisan ‘ satu tiket ke surga “ ia mencoba menjelaskan, aku hanya diam, aku terlalu focus dari kegiatan menyetirku, “ surga itu untuk orang – rang baik ya ma?” tanyanya lagi, aku hanya mengangguk “ makanya alwan jangan nakal, supaya masuk surga” ucapku tanpa menoleh sedikitpun, “memangnya alwan nakal ya ma?” BANGET! Tapi mana mungkin aku sanggup mengucapkannya “ alwankan ga pernah nyuri uang mama, alwan juga ga pernah berantakin rumah mama, alwan selalu nurut kok kalau mama bilang apa aja” ucapnya melakukan pembelaan, aku paham, definisi bandel bagi alwan adalah seperti yang biasa Salman lakukan, dan jelas aku sebagai Ibu, selalu melarang alwan untuk bermain dengannya. Tapi defenisi bandel bagiku berbeda, kebawelan alwan yang kadang sungguh sangat terlalu berlebihan kuanggap sebuah kebandelan. “ ma, bisa dipesan ga tiket kesurganya?” aku kembali diam, “ ga perlu pake antrikan ma kalau mau mendapatkan tiket ke surga?” aku mengerutkan dahi, “ emangnya nonton bioskop, pake antrian tiket segala!” bathinku, melihat aku hanya diam, alwan semakin gencar untuk meluncurkan pertanyaannya “ kalau mau pesan tiketnya dimana ya ma? Anehnya anakkku, bathinku, ‘ dimana ma?” alwan terus saja bertanya “ alwan, udah deh, mama lagi nyetir ne!” ucapku sedikit membentak, dia meluruskan posisinya dan kulihat ia membukan tasnya, dan mengambil sebuah buku dan pinsil, lalu ia menuliskan sebuah kata “ alwan mau dapat tiket ke surga ma”, aku hanya menghela nafas.
*****************
Malamnya, aku langsung menceritakan pertanyaan aneh alwan hari ini, meski memang bukan yang aneh lagi bagi kami mendengar pertanyaan – pertanyaan aneh alwan. “ aneh kan mas?” tanyaku menyimpulkan ceritaku. ‘ aneh dari mana, ya wajar lho Din, itu pertanyaan cerdas, tu artinya visi misi umi memilih sekolah agama berhasil “ jawab mas fahri puas, seolah – olah memastikan kalau kali ini pilhan ibu mertuaku benar. “ ya jelas aneh lho mas, usia alwan yang masih 6 tahun sudah bercerita tentang surga, apakai acara tiket ke surga lagi! Ucapku membantah, mas fahri hanya diam “ dari awalkan aku sudah bilang, alwan itu tidak perlu dimasukkan ke sekolah MIS ( madrasah ibtidayah swasta ), SD umumkan banyak, malah ada yang dekat lagi, kasihan otaknya alwan sebegitu cepat menampung dua pelajaran sekaligus AGAMA dan UMUM! “ emangnnya alwan itu kaya kamu, alwan itu cerdas, kaya mas “ jawab mas fahri puas plus senyumannya, “ sebenarnya yang aneh itu kamu, pelajaran agama itukan harus ditanamkan pada anak sejak dini, sebelum kertas putih itu tergores tinta, supaya nanti dia jadi anak yang sholeh, ga pengen pa punya anak yang sholeh?” aku hanya bisa diam kalau mas fahri mencermahiku, aku sadar betul doa “ ya allah berikan kami anak – anak yang sholeh dan sholeha “ jarang sekali aku panjatkan, karena keluargaku bukanlah keluarga yang religious, seperti keluargnya mas fahri, tapi untuk ukuran sholeh mas fahri itu belum ada apa2nya jika dibandingkan dengan ipar2ku apalagi kedua mertuaku, jadi menurutku wajar – wajar saja kalau doa ‘anak sholeh” tak pernah jadi daftar utama doaku.
***********************
“ kata ustadzah, alwan bisa lho dapat tiket ke surga?” ucapnya senang, meski tak begitu jelas, ucapan itu ditujuakn untuk siapa, aku atau mas fahri. Tapi yang jelas, aku tak berniat untuk menoleh, apalagi untuk menanggapi, topic seperti ini rasanya konyol, aku tetap saja menatap layar lapotop, focus pada bisnis online ku. “ oh ya, ustadzah bilang begitu?” mas fahri mencoba menanggapi ucapan alwan, aku yakin benar kalau kali ini alwan pasti mengangguk riang! “ kalau kita di surga bisa minta apa aja y pa?” “ ia, alwan bisa minta apa saja, mobil2n, sepeda pokoknya semuanya” jawab mas fahri sambil beranjak mendekati alwan, ia mendudukkan alwan dipangkuannya, “ bisa minta supaya alwan juara 1 juga dong pa ?” mas fahri kembali mengangguk, dan allwan tersenyum puas, bahkan dia sama sekali tak melibatkan aku, akupun tak berniat untuk terlibat denggan topic “ tiket surganya alwan” “ kata ustadzah alwan bisa dapat tiket ke surga dari Mama pa, benar ya apa? Tanyanya lagi, spontan aku menoleh “ ustadzah bilang begitu?” tanyaku balik, alwan hanya mengangguk, “ tapi kata aisyah, yang boleh kasi tiket ke surga itu seperti uminya aisyah, sepperti ustadzah juga!” lagi – lagi aku mengerutkan dahi, sedang mas fahri hanya diam, menunggu ucapan alwan selanjutnya” mamakan ga berjilbab pa, g seperti uminya aisyah, apa bisa alwan dapat tiketnya?” ekspresii alwan kini berubah, ia kelihatan sedih dan menyesal, sedang emosiku mulai melunjak “ apa sih maksud ustadzahnya alwan, aku besok harus labrak tu ustadzah, dia membuat anakku semakin aneh !” bathinku disertai mimic wajah emosi, mas fahri memandangku lalu tersenyum, “ kalau gitu, suruh mama pakai jilbab al, biar alwan bisa dapat tiket ke surga dari mama?” aku membelalakkan mata, ‘usulan konyol ‘ bathinku, ‘ ia ma, pakai dong jilbabnya” pinta alwan, lebih tepat “ memerintahkan aku “. Aku menutup laptopku, aku tak berniat lagi untuk melanjutkan pekerjaanku, aku beranjak meninggalkan mereka menuju kamar, kali ini aku benar – benar marah, marah pada semuanya, pada alwan yang belakang jadi aneh gara – gara tiket surganya. Aku masih bisa mendengar dari kamar, pertanyaan – pertanyaan alwan tentang tiket ke surge?” dan malamkupun kututup dengan hal konyol “ tiket surga”.
**********************
Hari ini aku lebih awal menjemput alwan, aku sudah tak sabar untuk meminta pertanggung jawaban kepada ustadzahnya alwan atas tingkah alwan yang tiba – tiba semakin aneh. Aku tiba di sekolah saat jam pulang sekolah masih 30 menit lagi, aku berdiri tak jauh dari ruangan alwan, sepintas aku mengintip, anakku memang super aktif, ia terus berbicara, terkadang persaan Bangga itu juga muncul, semua ibu pasti memimpikan anak yang cerdas, aktif dan hebat, aku salah satunya, sayangnya aku tak peduli dengan karunia itu. Seseorang menghampiriku, wanita berjilbab hijau itu tersenyum melihatku “ assalamu’alaikum, mamanya alwan ya?” ucpnya ramah, dlam hati aku sudah bisa menebak, siapa wanita ini “ wa’alaikumsalam, benar, ustadzahnya alwan?” aku balik bertanya, ia tersenyum lalu mengangguk, melihat senyumn ramah itu, aku tak tega untuk melancarkan aksi marah – marahku yang sudah kurancang tadi malam. Perbincangan iitupun berlangsung ramah dan menyenangkan. “ alwan selalu Tanya padaku tentang tiket ke surga” ucapku membuka topic utama yang ingin aku sampaikan, wanita itu tertawa lembut “ dan aku kelelahan menjawab semua pertanyaan alwan tentang tiketnya” ucapnya sambil tersenyum, aku terkejut” wow…ternyata bukan aku saja yang kelelahan mengahdapi alwan cerdas,” mbak sungguh beruntung, punya alwan, kalau boleh aku iri, aku sudah pasti iri, kalau boleh aku fungkiri nasib, aku sudah pasti bertanya pada tuhan, kenapa aku tak dikarunia anak seperti alwan” ucapnya masih dengan senyumannya, pengakuan yang sungguh sangat jujur, dan aku bahkan tak pernah melakukan pengakuan seperti itu.” Alwan pernah bertanya, kalau mau pesan tiket ke surga dimana? Lama sekali aku diam, kira – kira jawaban seperti apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan unik ini, sebab aku tak mau salah menjawab” ya allah, ia sama sekali berfikir keras untuk menjawab pertanyaan anakku, sedang aku sering mengabaikannya, “ lalu, apa jawaban untuk alwan?” tanyaku “untung saja aku sudah selesai membaca buku “ satu tiket ke surga “, orang yang pantas untuk kita pintai tiket ke surga adalah ibu kita, orang yang pertama kali yang memberikan pengorbanan untuk kita, tak tanggung pengorbanannya, nyawa, nyawa tak berarti apa – apa asal alwan terlahir, makanya surga itu ditelapak kaki ibu, jadi minta tiket ke surge ke mama al,! Wanita itu menjawab seolah – olah aku ini alwan, aku hanya diam, sebegitu pentingkah perananku bagi alwan, sampai – sampai tiket surga yang alwan impikan harus melalui aku,” alwan juga pernah bilang mbak, kalau mam itu cantik kalau lagi sholat, jadi alwan pengen lihat mama sholat terus, biar kelihatan cantik “ ucapnya saat aku hanya diam, “dasar alwan, gombalan mas fahri menular ke kamu” tapi benarkah aku secantik itu dimata anakku? “ oh ya mbak, alwan belum hapal yang bacaan sholat?” tanyanya memecah kebisuan kami,” belum sih mbak, memangnya kenapa?” jujurnya, kini aku begitu malu untuk mengakui kalau anakku belum hapal bacaan sholat, kemana ja sih rasa keibuanku selama ini, kok baru sekrang nongolnya! Aku pun berjanji dalam hati, pulang sekolah kita belajar sholat ya al “ alwan pernah minta diajari sholat, katanya papanya sibuk kerja, dan takut kalau mamanya marah kalau alwan minta sama mama!” ahhhhhhhh, rasanya pengen mencopot kepala ini lalu menyembunyikannya dibagasi mobil, sebab kali ini sungguh sangat mencambuk kata kata itu, malu yang kurasa kini sungguh sangat luar biasa “ soalnya alwan mau pesan tiketnya 3, untuk mama dan papa juga, kapan aku bisa mendapatkan anak seperti itu y mbak? Tanyanya lagi padaku, sebegitu banggakah wanita ini pada seorang anak yang sering ku abaikan? “ mudahan2 saja ada alwan kedua di bumi ini untuk mbak miliki, yang tentunya harus lebih baik dari alwanku” ucapku mencoba menenangkan wanita, aku berffikir ejenak sejak kapan aku peduli sama harapan2 orang lain, dan kini aku melakukannya, aku peduli sama harapan wanita ini, sebegitu hebatkah kodratku ini, sebegitu muliakah peranan ibu yang sedang kusandang ini, sampai2 aku bisa berubah peduli pada orang lain hanya dengan hitungan detik, semua hanya karena “aku” katanya tempat alwan untuk memsan tiket surganya, benarkah surga itu ada ditelapak kakiku, dan mengapa aku begitu mengabaikan pinta anakku yang menginginkan surga dari ku, ?“ mama” alwan berlari dan memelukku, wajahnya berseri melihat aku menunggunya, sebab ini jarang sekali terjadi, biasanya alwan yang menungguku. Ntah kenapa aku ingin memeluk alwan, akupun memeluknya di depan wanita itu, aku mengangatkannya, rasanya sudah lama tak melakukan ini, dan aku baru sadar kalau anakku ternyata sudah begitu besar “ mamakan capek, alwan g capek kok, jadi g perlu digendong ‘ ucapnya lembut aku kembali tersenyum dan membiarkan melepaskan pelukkanku. “ alwan g bohongkan ustadzah, kalau mamanya alwan itu cantik, g kalah cantik ma uminya aisyah” ucapnya girang, membuat aku tersipu malu, tapi setitik airmata yang jatuh dari sudut mata ini bukan karena “ tersipu malu “ itu, tapi karena rasa bangga yang kini menghujam hatiku, rasa sayang dan cinta yang tiba2 ingin aku curahkan seluruhnya untuk alwanku, rasa syukur yang membuat aku ingin sekali tiba dirumah dan menghadapNYa, bersujud syukur atas karunia yang selama ini aku abaikan
************************
“ ma, alwan boleh ya pesan tiket surganya??” ucapnya pelan, takut kalau – kalau aku marah, tapi kini mama g akan marah al, aku sudah jatuh cinta padamu anakku, aku mengangguk, kulihat ia tersenyum puas, “nanti kalau alwan sudah bisa sholat, alwan bisa nambah pesanannya g ma? Tanyanya lagi, “ boleh al!” jawabku singkat, sesekali menatapnya sambil tersenyum “ alwan akan pesanin tiket untuk mama dan papa juga, kan papa dan mama sibuk, biar alwan yang pesani aja!” ucapnya polos, kenapa sih al hari ini kau membuatku begitu bangga dengan posisiku, kenapa g dari kemaren2, bathinku, tak terasa sudut mataku basah lagi, kenapa aku jadi begitu cengeng hari ini Al, “ maafin mama al!” ucapku dalam hati, iia mendekatiku melingkarkan tangannya keleherku, ia memelukku “ alwan sayang mama!” ucapnya sambil menciumku, “ mama sayang alwan juga, selmanya al!
**************************
Ada yang berbeda dengan keluargaku akhir – akhir ini, malamku tak kusibukkan lagi dengan bertumpu di depan laptop, tapi ku ganti dengan menemani alwan belajar disampiingnya, memperkenalkannya dengan sebuah buku kisah kisah nabi yang sudah lama ibu mertuaku beri untukku, hanya saja aku onggokkan di lemari, siangku juga tak ku habiskan lagi dengan mengunjungi seminar2 fashion, tapi kuhabiskan dengan belajar masak, rasanya baru menyadari tak pantas membiarkan anak dan suami makan nasi catring selama ini , aku ingin masakanku jadi hal yang dirindukan oleh suamiku dan anakku kelak, meskipun rasanya telat bagiku untuk belajar di usia ini, dan semua yang kulakukan ini hanya untuk alwan, aku ingin memantaskan diri untuk sepantas – pantasnya tempat alwan menanti pesanan tiket surganya, jika alwan begitu gigih memesan tiket surga dariku, kenapa aku tidak, aku tak mau kalah dengan alwan, aku juga harus gigih memsan tiket surgaku, yang aku dapatkan dari suamiku “ surganya anak ada di Ibu, dan surganya Istri ada pada Suami !” dan untuk pesanan tiket surgaku, aku harus berjuang menjadi istri dambaan mas fahri, aku juga pingin menjadi menantu kebanggaan mertuaku, dan semua yang harusnya ada dari dulu, kini baru benar2 aku inginkan, semuanya hanya karena aku ini Ibunya alwan tempat alwan untuk “ memesan tiket surganya”.
*******************
“ ma, hari ini mama ulang tahunkan?” Tanya alwan pagi itu, saat kami sedang sarapan, aku dan mas fahri saling bertatapan “ alwan juga dong?” jawab kami serempak, alwan tersenyum sumringah, tiba – tiba ia meninggalkan meja makan dan kembali lagi dengan sebuah bingkisan. “ ma, alwan ada kado untuk mama, SELAMAT ULANG TAHUN YA MAM, ALWAN SAYANG MAMA” ucapnya sambil menyodorkan bingkisan itu, aku tak langsung menerimanya, akupun mengambil bingkisan yang aku sembunyikan didalam tasku “ mama juga ada kado untuk Alwan, SELAMAT ULANG TAHUN AL, TETAPLAH JADI ALWAN MAMA, MAMA JUGA SAYANG MA ALWAN “ ucapku juga menyodorkan bingkisanku, ia meletakkan bingkisannya di pangkuanku dan mengambil bingkisan milikku. “ inikan alqur’an ma, alwankan belum bisa baca ma?” ucapnya sedih sambil menatapku “ mama dan papa yang akan ajari alwan,! Ucap mas fahri membuat senyuman itu kembali terukir di wajah alwan, “ benar! Mama dan papa yang ajari alwan?” tanyanya lagi seolah – olah tak yakin dengan janji kami, mungkin alwan masih memikirkan kesibukan kami, tapi tenang al, kesibukanku kedepan adalah menemanimu nak menggapai tiket surgamu. Kami mengangguk puas melihat senyuman alwan, “ kalau lobe tu dari papa al, biar alwan makin ganteng kalau lagi sholat, ketemu allah kan harus ganteng !” alwan kembali tersenyum “ ia pa, mama juga cantik kalau lagi mau ketemu allah ! ucapnya, “ anakku beenar2 bangga padaku “ bathinku, kini giliran aku yang membuka bingkisan dari alwan, jilbab berwarna Ungu menyambut senyumanku, aku hanya diam sedikit cemberut “ kok warna ungu sih al, mamakan g punya baju warna ungu, lagian mama g suka warna ungu al!” alwan hanya tertawa “ itu nenek yang milihan ma!” ucapnya seolah itu bukan kesalahannya “ akukan ingin jjadi menantu kebanggaan ibu mertuaku, “hehhe, kok warna ungu kali ini cantik ya Al, kelihatan beda, mama suka deh!” ucapku lagi dengan senyum terpaksa, sesaat kulirik mas fahri, ia tersenyum geli melihat ekpresi senyum palsuku. “ oh ia, ada satu lagi Al, khusus dari mama, hanya darii mama!” “ apaan ma!’ Tanya alwan, tak sabar dengan hadiahku yang berikutnya, aku mengeluarkan sebuah kertas bertintakan emas, yang aku pesan dan dirancang oleh seseorang yang ahlidesign tampilan unik dan indah, “ hah……tiket? Ini tiket kesurga ma?” Tanya alwan dengan bangganyany, cepat aku mengangguk “ Tiket tujuan surga, pemesan: alwan” alwan mencoba membaca semua tulisan emas yang dituliskan di kertas itu. Di ujung kertas sebelah kanan sengaja aku tambahkan tulisan “ Mama sayang Alwan” alwan memboolak balik tiket itu, ia kelihatan Puas, “ besok alwan mau tunjuki tiket surga alwan ke ustadzah juga aisyah “ ucapnya puas, hari ini memang banjir dengan senyuman alwan, aku ( mama ) juga mas fahri ( papa ), senyuman keluargaku. “ oh ia ma, tiket ini bisa tu bawa mama dan papa ke surga jugakan?” tanyanya, spontan aku dan mas fahri saling menoleh, kembalii jawaban kami hanya tersenyum, aku juga tau alwan tak membutuhkan jawaban apalagi penjelasan karena kulihat wajahnya masih penuh dengan senyuman, tapi spontan kulihat mata binary alwan redup dan ia kelihatan kebingunan, ia terus membolak balik tiketnya, belum sempat aku bertanya tentang apa yang sedang alwan cari, alwanpun bertanya “ oh ya ma, kok gad a jadwal keberangkatannya?” kamipun saling pandang, mas fahri menaikkan alisanya, meminta aku untuk menjawab pertanyaan alwan, aku hanya menggeleng, kamipun menatap alwan yang masih menunggu jawaban kami “ hehehe,,, alwan biisa aja deh “.
“ mama g pernah tau al, kapan alwan akan berangkat ke surga, mama juga ga tau, siapa diantara kita yang duluan dapat pesanan tiket surga yang masing2 sudah kita pesan, tapi yang mama tau, surga akan selalu terbuka untuk anak seperti mu al,tuk anak sholeh seperti mu al, surga ditelapak kaki mama, mama serahkan seutuhnya hanya untukmu, tak pun kau pesan surga ini, aku tetap akan aku berikan untukmu al,, Terimakasih untuk Pesanan Tiket surgemu Al” bathinku
Ayoooooooooooooo,,, mari berlomba2 untuk mendapatkan tiket ke surga kita, semoga bermanfaat. Aminnnn
“ special untuk buah hatiku “ AHMAD ABU BAKAR “
Medan, 19 Maret 2011
Rabu, 28 Maret 2012
TANGISAN BERDARAH SIKECIL DI BUMI PARA NABI
Bisa aku lihat siapa DIA.......
dia layaknya seperti anakku, yang seharusnya tertawa dalam sebuah rumah kecil, indah bak surga,,,,
jikapun dia tdk tertawa, dia boleh menangis,,, tapi layakkah dia menangis ditempat seperti itu????
menjerit....
ketakutan....
kelaparan........
ahhhhhhh
g tau mau bilang apa lagi,,,,,
semua nya telah membuat aku bungkam,,,,,,
merasa seperti dicambuk..
dengan pola hidup kita yang terlalu banyak tertawa....
sedang disana untuk bernafaspun sulit....
dengan pola hidup yang semua serba " dimanjaain "
sedang disana yang seharusnya dimanja tak tau mau bermanja pada siapa....
dengan pola hidup yang selalu mengeluh...
sedang dia disana mencoba untuk siap meski nyawa yang jadi imbalannya..
kubayangkan,,,,,,
dia itu ankkku,,,,,
adikku....
ibuku....
ayahlku.......
bisakah aku diam?????
masih pantaskah untukku tertawa.....
jawab dong des........
jawab.........
katakan padaku apa yang bisa aku lakukan untuk kembalinya senyumannya.....
katakan padaku apa yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan damainya negeri para nabi....
walau aku bukanlah hamba hafal alqur'an 30 juz...
walau aku bukanlah hamba yang tau dan hafal banyak hadist.....
walau aku bukanlah hamba yang taat....
walau aku buknalh........
ahhhhh
cukup Allah saja yang tau diri yang hina ini
meski aku tak punya itu semua.....
tapi,,,, izinkan aku tuk benar2 berharap agar an-nur :55 cepat terwuju
demi tegaknya kalimat suci " lailahaillallah,,,,muhammadarrosulullah"
agar tangis sikecil dibumi para nabi dapat tergantikan dengan senyuman
surga untukmu duhai para mujahid / mujahidah kecil
Selasa, 27 Maret 2012
FARADISE FAMILY ( KELUARGA HRP )
the paradise harahap......
sebuah keluarga yg aku syukuri....
krn Allah telah memberikan mereka untukku.....
ada papa yg kuanggap sbg PAHLawaN KAMI,yag hoby membeli brg secara mendadak,,,kdg yg tak pentingpun dibeli...hahhaha.....kalau mau jalan2 ma papa, super ribet,,,,krn papa hobynya mendesak dan terburu2, jadilah jln2 kami tak menyenangkan, tapi itukan diawal keberangkatan ja, tapi selalu krn didesak, biasanya ada ja yg ketingglana, akhirnya MEREPET lah papa didalam MOBIL sambil nyetir....saat itu kamicuma diam dan senyum2...tapi kalau msalah uang,,hm,,,papa g hitung2n kayak bunda.....apalagi kalau aq yg minta hehehg.......papa......kami sayang kamu....
ada BUNDA yg kami sebuat sebagai MALAIKAT kami.......yg kalau minta sesuatu itu lebih baik ma bunda....krn bunda meski hitung2n tapi.....hm....subhanallah baik bgt.....pelit,terkadang,,,,,suka bgt nyruh beli miso, walau hujan turun,,,,, kami suka bgt ngekori bunda, kalau bunda lagi dikamar, berkumpulkah kami ber 7 dikamar,kalau bunda pindah kedapur, maka secara tak diminta kamipun kedapur, bunda keteras, kami pasti ngekor juga,,jadilah bunda merepet " tu dia umaki,tu si hamu, awasleh hamu,,,mambaen ribut,,,,,songon hamu sajo na puna huta,,,," kamipun tertawa.....biasanya mbk fe yg akan menjawab " Bunda ne lucu,,,,lihatlah ayam,,kman induknya kesitu juga anaknya" dan bunda hanya terus merepet samapai disuguh dengan indomie barul;ah diam,,,hehhehe,,,,BUnda,,,,u ar aour life.....
ada mba fe, anak 1 yg g rapian, tpi klu soal penampilan,,hm,,jgn ditanya...dialah jagonya.....dia cantik,,,manis,,,,,,juga berantakan......tpi wludemikian ia ttp yg jadi tauladan kami....yg kalem2...saking kal;emnya...bisnis kami kandas tak jelas.......hahahagg, kasihan papa TUMPUR......
ada k'tika, putri kdua yg buat rame rumh ini..... YG SUARANYA PLING KUAT.....SUKA TERIAK2 TAK JELAS....yg suka kotak katik barg milik org.....yg tiap hari selalu ngecilin celana, motong baju.... walau kdng bjunY MLH KEKECILAN HAHAG.....TIADA HR TNPA MESIN JAHIT....satu lagi dia hobynya"BANGKONG" mendapati dia di jam 8 pagi tu hal yg sangat langka......hehehehg
ada k'yaya, itu aq. mereka bilang pling aq cerewet, tiada hr tnpa merepet, YG hobynya ngepel dan ngepel....... tiada hari tanpa ngepel.....kalau papa bilang saya tu " TUKANG PROTES".....idealis yg g jel;as....,,klu k'tyka bilang aq ne lintah darat, tukang porot papa.hm...masak sih,,,aqkan anak kesayangan papa!hehheg....
ada dhana, sidogil , pling payah dan g bisa disuruh,,,,,plus g pedulian,,musuh bebuyutan bunda,,hehehhe,,,krn mereka sering perang dingin,,,,pernah dikunci papa dikamar mandi, krn suka bgt mandi waktu adzan magrib berkumandang,,jadilah dia mahgripan dikamar mandi,,,hehehhe,,,,tapi dia rajin belajar, meski sering keluyuran juga, danm aku selalu yg ngomelin dia.....mpe dia bilang"kayak mamaku ja la u k'ya"....selain itu, dia juga suka bikin suprice ke bunda,,,mseki tu jarang sekali terjadi.....krn dia tu peli, kayak mbk pe,,POLIT,,,kata sidela...hehehhe.... tapi dia calon musisi lho, hobiny main gitar, organ,,dan itu semua difasilitasi papa....
ada lola, yg paling LEBAY plus CENGENG,,,,,,,malas,,,,,,tapi kalau digertak sedikit langsung oc....payah bnget dibanguni waktu sd dulu, tak jarang aku sering menyiramnya,,,,,hobinya tak jolas....macamlah.....oh...dia tu hoby bgt ngabisi makanan dirumah, alias congok,,,hahahhah,,,,dis dapat gelar oleh 'tika "AYAM POTONG"...coz badanya besar ngt dah.....dia tu pinter,,,,,salah satu anak kebanggaan papa, krn dia penerima beasiswa smp 3 tahun di internasional scholing darul ilmi medan oleh bupati labuhan batu langsung........ papa juga suka nyuruh dia, dan dia sgt nurut ma papa.....dia juga suka menabung,,,uang jajan dia selalu ditabungh,kalau sudah mencapai 500 ribu, biasanya ia belikan bunda baju jubah batik 1 plus jilbabnya.......dia memang baik bgt,wlu kdg suka pelit juga......
ada ami, anak ke 6 papa,masih sd,,,paling imut,pling kurus jug paling hitam......hobinya main mpe lupa jadwal mengaji,,,dan biasanya dia pulang kerumah setelh jadwal ngaji brelalu 1 jam, dan aq biasanya sudah menunggunya didepan pintiu smbil membawa sapu,,,,"maafkan kk y dek,,," biasanya dia selalu bilang "ka'ya...ampun k'yaya.."......dia juga cerdas,,,, suka nanya yg aneh2,,misalnya saat aku suruh dia sholat " ah,,,cpek ami sholat,,,bukan Allah kabulkan doa ami...."mmgnya doanya apa sayang,,,"juara 1 la ami napa....." dia juga suka mengikuti lomba, orgnya pengen sellau tampil,,,,bela - balinlah aku n k'tika menempuh hujan dimalam hari krn dia minta dibelikan septau tumit tu lomba busana muslim waktu 17 an.... dan alhamdulillah, dia selalu menang.,,,,,orgnya pantang menyherah.,,,pling hoby nulis surat buatku, lalu diletakkannya dibawah bantalku,,,"k'ya,,,kk jgn pergi kmdan lagi napa, g da yg perhatikan ami lagi,,,g da kwn ami tidur lagi,,,,,ami sayang k'yaya" g lupa di akhir suratnya dia selalu bilang sayang ma aq,,biadanya ini terjadi setelh aku marah ma dia,,,selain itu juga, dia adalah satunya org yg sering ngumpet2 pake hp bunda tuk nelpon aku sambil menagis dia bilang " kpn kk pulang?" dan aku sayang ma dia,,,,,,
dela agustian,,,aku tak menyangka klu aku punya adik seimut dan sesopan dela,, walau masioh kecil, kelihatn dia tu sopan, pembersih, kmn2 harus pke selop beda ma ami, yg susah bgt tu pke sendal,,,,sitomboy kami, g mau pek baju cew, hobinya pake baju yg ada gmbar supermen atau mobil2n balap.... bahkan lebaran kemarenb kami benar2 cari baju cow tuk dia, jika tidk demikian dia sm seklai tak ingin pake baju.....pokonya tomboy bgt dah, tapi dia tu manja, paling suka dimintai tolong, diusisnya yg ke 5 thn, bleum jles ngomongnya,,,, hobinya nonton film horor, trus suka bgt ngajakin jln2 sore ke femado, beli es krim,,,,,permintaannya bnyk,,,klu tdk dituruti dia g nangis, tapi dia sambil menatap sinis,,,dia tu hebat,cerdas,,,suka bengun pagi hari,,,,g begitu suka keluyuran,. lebih suka nemani bunda masak......suka bgt ma upin ipin apalagi si ihsannya....dela,,,,,,kk sayang dela.......
terakhir ABU bAKAR, anakku _pele_ple_hehehheg.....sifatnya jadi ke cew2n,kr kmi cew semua, pling dekt ma papa, krn kakeknya,,,,makanaan no 1, congok bgt dah,hobinya nionton, g suka keluyuran main dengan sebayanya, lebih memilih main game dari hp,....pling bisa ,mengoperasikan hp,, permaiana jangn ditanya, diakan plak sendiri klu dalam permaianan itu dia klah,,, dikan akan minta kami tuk menemaninya main game, apalagi sekarang papa belikan dia Vs, akhinrya betah dirumah,,,,,24 jam didepan vs......TOTEM TOLE...adalah kata2 lucu yg diingat darinya,,,,paling ganteng, tapi emosian,paling lembut malah kayak cew,,,,,hobinya juga menganteng, g mau pek baju habis mandi i kalau bukan pake baju kemeja plus jean yg dia sebut "pake baju teng abu amah".......jika tidk dituruti plg suka marah,,,,,juga merupakan musuh dela, selalu saiangan ma dela...hahahahhag......lucu bgt...diusianya yg ke 3 thn ne.....
ah masih bnyak hal yg ingin diceritakan tentang the paradezi harahap......
pokonya ramai bgt dah rumah kami,,,
dengan tingkah yg beragam,.,.,,,
diiringi candaan diteras setiap malamnya........
pokoke.....
aq bersyukur bgt punya keluarga spt ne......
ALhamdulillah Y ROB....
tolong ABADIKAN KEBERSAMAAn KMI
hingga nantinya kami punya keluarga sendiri,,,
tapi kebersamaan ini tak boleh hilng.....
jangan khawatir,,, tapi khawatir lah
j
angan khwatir ketka orang tak bisa berbuat baik pada kita,,,
tapi khawatirlah ketika kita tak bisa berbuat baik pada orang lain,,,,
jangan khawatir ketika kita tak dicintai.....
tap khawatirlah ketika kita tak bisa menghargai cinta orang lain,,,
jangan khawatir ketika kita tak juga menemukan orang yng tepat untuk dijadikan teman
tapi khawatirlah ketika kita tak bisa menjadi sahabat yang tepat....
jangan khawatir ketika kita tak juga menemukan cinta .....
tapi khawatrlah ketika kita tak mampu memperbaiki diri untuk menerima sebaik2nya cinta......
jangn khawatir ketika doa kita tak juga dikabulkan olehNya
tapi khawatir lah ketika kita tak mampu bersukur atas apa yg kita miliki saat ini....
jangan khawatir ketika kita tk dihargai atas jiwa yang kita miliki
tapi khawatirlah ketik kita tak mampu mengharga jiwa yang dihadirkan untuk kita....
jangan khawatir ketika kk tak bisa menangis
tapi khawatirlh ketika kita tak bisa tersenyum atas kebahagiaan orang lain.......
jangan khawatir ketika pengorbanan kita tak di lihat...
tapi khawatirlah ketika pengorbanan orangl ain kita abaikan
jangan khawatir ketika kehadira kt tak dianggap....
tapi khawtirlah ketika kita tak mengaggap kehadiranNya.....
jangan khawatir ketika aib kita tersibak...
tapi khawatirlah ketika kita tak bisa menutup rapat aib orang lain...
teman....
jangan khawatir sesuatu yang buruk menimpamu
karna keburukan tak akan menimpa hidup orang2 yang mengisi waktu dan jiwaya dengan kebaikan....
krn Dia hanya akan menghadiahkan kehidupan yang baik bagi orang2 yang mengisi hari2nya dengan kebaikan
Dia melihatmu
Dia memperhatikanmu
Dia mencintaimu..
Dia menyayangimu....
itulah sebabnya kita dminta untuk selalu Melihat da Memperhaatikan Ciptaannya seraya bersyukur karena semua yang Ia berikan telah membuat kita sebagai sosok makhluk yang sempurna....
itulah sebabnya Ia meminta kita untuk menyyangi dan mencintai atas namaNya....
itulah sebabnya,,,,
jangan Khawatir...
tapi khawatirlah...
minggu, 26 Februari 2012
angan khwatir ketka orang tak bisa berbuat baik pada kita,,,
tapi khawatirlah ketika kita tak bisa berbuat baik pada orang lain,,,,
jangan khawatir ketika kita tak dicintai.....
tap khawatirlah ketika kita tak bisa menghargai cinta orang lain,,,
jangan khawatir ketika kita tak juga menemukan orang yng tepat untuk dijadikan teman
tapi khawatirlah ketika kita tak bisa menjadi sahabat yang tepat....
jangan khawatir ketika kita tak juga menemukan cinta .....
tapi khawatrlah ketika kita tak mampu memperbaiki diri untuk menerima sebaik2nya cinta......
jangn khawatir ketika doa kita tak juga dikabulkan olehNya
tapi khawatir lah ketika kita tak mampu bersukur atas apa yg kita miliki saat ini....
jangan khawatir ketika kita tk dihargai atas jiwa yang kita miliki
tapi khawatirlah ketik kita tak mampu mengharga jiwa yang dihadirkan untuk kita....
jangan khawatir ketika kk tak bisa menangis
tapi khawatirlh ketika kita tak bisa tersenyum atas kebahagiaan orang lain.......
jangan khawatir ketika pengorbanan kita tak di lihat...
tapi khawatirlah ketika pengorbanan orangl ain kita abaikan
jangan khawatir ketika kehadira kt tak dianggap....
tapi khawtirlah ketika kita tak mengaggap kehadiranNya.....
jangan khawatir ketika aib kita tersibak...
tapi khawatirlah ketika kita tak bisa menutup rapat aib orang lain...
teman....
jangan khawatir sesuatu yang buruk menimpamu
karna keburukan tak akan menimpa hidup orang2 yang mengisi waktu dan jiwaya dengan kebaikan....
krn Dia hanya akan menghadiahkan kehidupan yang baik bagi orang2 yang mengisi hari2nya dengan kebaikan
Dia melihatmu
Dia memperhatikanmu
Dia mencintaimu..
Dia menyayangimu....
itulah sebabnya kita dminta untuk selalu Melihat da Memperhaatikan Ciptaannya seraya bersyukur karena semua yang Ia berikan telah membuat kita sebagai sosok makhluk yang sempurna....
itulah sebabnya Ia meminta kita untuk menyyangi dan mencintai atas namaNya....
itulah sebabnya,,,,
jangan Khawatir...
tapi khawatirlah...
minggu, 26 Februari 2012
Kamis, 01 Maret 2012
BAYANGAN SANG AYAH
***************#####*************
Sudah lama aq tak melakukan ini, menatap wajahnya saat ia tertidur pulas, terakhir aq melakukan hal membuat dia selalu marah karena kaget tiba2 melihat aq ada disampingnya sekitar 5 tahun yang lalu, ya 5 tahun terakhir ini aq terlalu sibuk dengan aktivitas baruku, yang lebih aq nikmati dan aq senangi, Liqo, mengisi training, ikut seminar islami bahkan mengisi di berbagai pengajian, baik pengajian anak2, remaja bahkan hingga ibu – ibu. Aq sangat merindukan wajah ini, wajah yang teduh bagiku tapi menyeramkan bagi teman2 kuliahku dulu. Wajah pahlawan bagiku, tapi preman bagi tetanggaku. Aq tak perduli dengan apa anggapan mereka tentangnya, dan aq tak pernah percaya dengan isu itu, karena aq lebih tau siapa dia, dan aq lebih mengerti pribadi seperti apa dia, dan aq yakin ia tak mungkin melakukannya tanpa alasan yg tepat, mas galuh bukan orang yang bodoh,semuanya ini pasti ada alasannya. Ku berbaring disampingnya, dan aq mulai terbayang dengan kisah – kisah kami dulu. Ia, sosok yang kukagumi.
*****************Rantauprapat, 1997**************
Ibu? Panggilku pada ibu, ibu hanya mendehem, aq tau kalau sudah begitu jawabannya tandanya ia tak mau diganggu, ibu!! Panggilku lagi, tak peduli seberapa sibuknya ibu saat ini menghadapi orderan jahitannya karena sudah mendekati lebaran. Ibu sama sekali tak menghiraukanku, kupanggil lagi dengan nada tinggi “ Ibu,,,, Ira mau Tanya ayah itu seperti apa??” tanyaku langsung, spontan ibu menatapku, yang kufikirkan saat itu, ibu pasti marah dan mungkin memukulku karena tlah mengganggunya, tapi ternyata tidak, diletakkankkannya meteran dan gunting yang sedang ia pegang, ia mendekatiku dan menggendongku yang saat itu usiaku sudah 10 tahun, hanya saja karena badanku yang kecil mungkin ibu tak begitu kesusahan menggendongku, ia bawa aq menuju kamar , lalu ia menunjuk kearah seorang lelaki yg berusia 15 tahun yang sedang tidur pulas,” itu,,,,,!” kata ibu sambil menunjuk kearah galuh, mas aq satu – satunya, anak lelaki kebanggaan ibu. Ku menatap ibu, aq bingung “ itu” ulang ibu lagi sambil terus menunjuk kearah mas galuh,” mas galuh” jawabku ragu, “ ya,,,,,, sosok ayahmu ada di galuh, galuh adalah bayangan ayahmu “ ucap ibu lalu meninggalkanku. Aku berjalan mendekati mas galuh, dan kutatap wajahnya lekat “ apa ayah seperti mas galuh??” tanyaku sendiri, “difoto ayah benar – benar tidak mirip dengan mas galuh” kujawab sendiri pertanyaan itu. Sontak aq kaget, mas galuh tiba – tiba bangun dan membentakku, padahal saat itu aq sedang ingin menatap wajah ayah. Mas galuh sang juara, disekolah bahkan diluar sekolah. Juara 1 sampai SMA, jago main bola, jago baca puisi, bahkan pernah menjadi perwakilan kabupaten di provinsi. Selain itu, dia kreatif, bisaa memanfaatkan apa saja tuk jadi sebuah karya. Pernah aq dibuati bunga dari sedotan bekas, dan ternyata bungaku disukai guru kesenianku, hingga akhirnya banyak guru yang meminta mas galuh tuk membuatnya lagi, dan mas galuh selalu melihat peluang dalam kesempatan, dan akhirnya ia berbisnis bunga, padahal saat itu usinya msih 13 tahun. Dan inilah letak kebanggaanku pada mas galuh.
*****************Medan, 2003**************
Ibu menikah lagi dengan seorang lelaki karyawan disebuah toko, saat itu usiaku sudah 16 tahun, tepatnya masa aq memsuki SMA, dan Alhamdulillah ekonomi kami sedikit membaik, ayah baruku mengajak kami pindah ke medan. Di 5 tahun belakangan inilah, aq mulai tahu maksud kata – kata ibu “ galuh adalah bayangan ayahmu “benar, mas galuh adalah bayangan sosok ayah yang kucari yang ku rindukan. Dengan mas galuh aq bisa mengerti arti dari sebuah persaudaraan “ kita 1 ra, mas adalah kau, dan kau adalah mas” itu yg pernah ia ucapkan saat aq disakiti temanku, dan mas galuh tak terima aq disakiti. Dengan mas galuh aku tau, betapa pentingnya menghargai kemampuan, meski aq tahu mas galuh jauh lebih pintar dibanding aq yang tak pernah masuk dalam 10 besar selama sekolah, dan ini membuat aq tak pernah merasa iri meski ibu dan ayah selalu membanding2kan aq dengna mas galuh, aq tak pernah marah, bahkan itu semkain membuat aq semakin yakin bahwa “ mas galuh bayangan ayah “. Dari mas galuh aq tahu semuanya, aq tahu gimana baca puisi, aq tahu gimana serunya nonton bola, dan aq tahu bahwa aq adik mas galuh, mas galuhku sayang.
Nonton bola bareg mas galuh, adalah hal yang paling menyenangkan, distadion di kota ini aq menjadi merasa cewek yang paling beruntung, karena lelaki yg sedang mengejar bola dengan gagah itu, yang jadi idaman semua penonton wanita itu adalah “ mas galuh” bayangan ayahku. Rela dihukum karena tak mengerjakan PR waktu SMA, asal tetap diajak mas galuh menonton bola, tapi tetap untuk yang satu ini mas galuh tak boleh tahu. Menjadi pemandu acara di acara ulang tahun kota medan, mejadi wali setiap ada undangan kesekolahku, menjadi dokter saat aq sakit, karena tak ada satupun dokter yang bisa menyembuhkanku selaian mas galuh, menjadi anak yang patuh pada ibu dan ayah tiriku, dan mejadi pendampingku kemanapun aq pergi, dan semua itu sudah cukup untuk membuat aq merasa bangga punya mas galuh “ bayangan sang ayahku “. Kedekatanku dengan mas galuh, membuat aq jadi wanita yang super tomboy, aq tak pernah ingin baju yang berbeda dengan mas galuh, itu sudah kulakukan sejak aq tahu mas galuh bayangan ayahku, hingga membuat aq tak pernah memakai baju yang trend ala wanita banget yang anggun dan menawan. Aku akan selalu memakai baju mas galuh setiap mas galuh beli baju jika ia tak beli dua, dan tak ingin bajunya selalu aq pakai membuat mas galuh selalu berfikir tuk beli baju, jika tida beli dua, lebih baik tidak beli sama sekali. Itu yang mas ucapkan padaku. Bahkan mas galuh tak pernah ku izinkan bermalam minggun selain denganku, karena aku tahu banya yang menyukai sosok mas galuh, dan aq tetap ingin menjadi wanita pertama dihatinya, meski harus berebut kasih sayang dengan ibu, aku tak perduli yang aq mau adalah “ aq wanita pertama dihatinya, sperti aq meletakkan mas galuh dihatiku sebagai lelaki pertama, dan satu2nya untuk saat ini “. “ ra,,,, pakai baju seperti diana napa skeli2” pinta mas galuh saa itu “ klu mas juga mau pake, boleh ! “ jawabku ringan, dan atas jawabanku itu kepalaku di tepuk oleh mas galuh, tapi tetap saja tepukan di kepalaku itu yang selalu aq rindukan.
Tapi sayang, mas galuh tak ingin kuliah, dia langsung bekerja saat tamat SMA, alasannya tak kuliah pun simpel “ cukup kau yang sukses, itu sudah sukses terbesar bagiku” itu ucapnya, saat itu aq menangis kupeluk mas galuhku yang gagah, karena mungkin hanya mas galuh lah yang mengerti betapa kondisi ekonomi kami saat itu sungguh sangat memprihatinkan, dan pilihannya bekerja setelh tamat SMA pun tujuannya bukan untuk membantu pengobatan ayah tiriku yang ternyata mengidap penyakit magh akut, tetapi untuk tabungan masa kuliahku nanti.
*************************Medan , 2006************************
Ini adalah ujian terberat untukku, terlebih untuk mas galuh, kami ditinggal sosok ayah untuk kedua kalinya, padahal aku masih ingin ayah tiriku yang super dingin itu melihat ku jadi mahasiswa, ibu menjanda lagi, tapi kini berbeda, ibu tak begitu kuat lagi untuk melanjutkan pekerjaan menjahitnya, dan akhirnya mas galuhlah satu – saunya penopang keluarga kami. Uang yang ditabung mas galuh selama 3 tahun bekerja menjadi karyawan di salah satu dealer mobil ternyata hanya bisa membiayai kuliahku selama 2 semester, selebihnya aq tak pernah melihat lagi, mas galuh gagahku berlari mengeja bola, tak pernah melihat mas galuh gagahku lantang membacakan puisi. Aq tau, mas galuh gagahku sibuk pontang anting mencari biaya hidupku juga ibu. Cerita kedekatanku dengan bayanganku sepertinya kandas di 2006, tubuhku yang mungil kini kubaluti dengan kain longgar yang disebut jilbab, aq yang tomboy kini menggunakan rok dan berjala dengan anggun sambil menundukkan pandangan, semua ini kudapat sesaat mas galuhku tak pernah lagi menemaniku dimalam minggu atau di malam – malam lainnya, tepatnya aq tahu bahwa jilbab ini harusnya ada dari dulu di semester 3, stelah aq mencoba aktif disalah satu organisasi kampus LDK. Aq memang kehilangan sosok mas galuh yang selalu pulang tengah malam, bahkan terkadang tak pulang. Hingga untuk jalan barenga, brcerita itu tak pernah kami lakukan lagi, bahkan untuk bertemupun kami jarang. Aq yg sibuk dengan dakwahku juga merawat ibu, sedang mas galuh sibuk dengan pekerjaannya dan tanggungjawbnya sebagai bayangan ayah. Aq begitu sibk dengan dakwah ini, aq dikenal dikampus oleh dosen jg mahasiswa, aq juga bekerja menjadi guru privat untuk membantu mas galuh, bahkn di semester 6 aq sudah bisa membawakan training islami dan motivasi meski itu masih tahap belajar, tapi honornya lumayan. Dengan sejuta kesibukan itu, hampir – hampir aq lupa bahwa aq sangat merindukan mas galuhku. “ aq lupa merindukanmu mas “ ku tuliskan disecarik kertas dan kuletakkan di atas bantal mas galuh, seminggu kemudian aq kembali lagi kekamar mas galuh, masih kudapati kertas itu utuh tak tersentuh. Aq sedih, mas galuhku seakan pergi, berubah eninggalkanku, tak pernah lagi menjitak kepalaku dengan sayang, tak pernah lagi memelukku dan tak pernah lagi menyaksikannya mengejar bola itu. Aq rinduk sosok mas galuhku, meski aq tahu ini juga karena jilbab yg teronggok dikepalaku membuat mas galuh enggan untuk sekedar mendekatiku, “ tapi kan aku ira mas, adik mas “ berontak hatiku.
********************Rantauprapat, 2009********************
Ini adalah tempat aq memutuskan mengagumi mas galuh, bayangan ayah, dan kini aq kembali lagi ketempat ini, keputusan mendadak dari mas galuh untuk kembali kerumah peninggalan ayah ini, untung saja saat itu aq sudah 2 tahun selesai menyelesaikan kuliahku, dan sekarang aq sudah bekerja disalah satu bank swasta dikota ini, dan aq juga sering bolak blaik medan sebagai trainer. Dan semuanya ini tak juga membuatku bangga karena aq kehilangan mas galuh, mas galuh semakin jauh dariku, dia kebanyakan diam, dan aku selalu datang kekamarnya, dan selalu aku dapati dikunci dari luar. Mas galuh entah kemana. Pertemuanku dengan salah satu teman mas galuh saat bekerja di showroom mobil di medan saat distasiun kereta api “ mas galuh tidak pernah bilang mas?” tanyaku pada anton, “ wah,,,, klu itu saya g tahu ra yg jelas dia itu sudah dipecat di awal 2008 “. Kenyaatan bahwa mas galuh sudah kehilangan pekerjaan saat aku belum menyelesaiakn kuliahku membuat aq kaget, daan merasa bodoh, tak seharusnya mas galuh kutinggalkan hanya karenna dakwahku, dan seharusnya q mengajak mas galuh ikut dengan dakwahku ini . kenapa aku begitu egois?? Lalu dengan apa mas galuh membayar uang kuliahku selama ia berhenti bekerja??? Apa sebenarnya yang mas lakukan diluar sana?? Kenapa aq tak pernah mencari tahu?? Kini mas galuh menjadi sosok yang seram bagi seluruh tetanggaku, senyumnya benar – benar hilang. Aku dan ibu hanya bisa bertanya, kenapa???
Siag itu, aku tunggu mas galuh, aku sengajakan tak keluar rumah hari ini, krena aq hanya ingin hari ini bersama mas galuhku “ bayangan sang ayah”. Hingga sore, aq tak melihat mas galuh pulang, aku menuju kamrny, masih posisi yang sama, terkunci. Ku beranikan diri membongkar kamar itu, tak begitu sulit untuk membuka kamar mas galuh, saat pintu itu terbuka, aroma tak sedap langsung menerpa hidungku “ bau pengap “, ku tatap ruangan ini,aq duduk di tempat mas galuh selalu berbaring,” astaghfirulllah “ ucapku kaget, potongan rokok berserakan dimeja, sejak kapan mas galuh merokok ya Allah, ku buka lemari mas galuh, ada yg aneh, aroma menyekat seperti permen karet, kubuka laci lemari, kakiku gemetar, ku ucapkan istighfar berkali – kali, tak mampu berbuat apa- apa, serbuk putih itu, berbau permen, ya Allah “ sabu – sabu “ bathinku, aku terduduk lesu di atas ranjang, ku bayangkan wajah mas galuhku, ku tutup mataku erat, berharap aku sedang bermimmpi, mas galuhku tidak melakukan ini, saat aku membuka mata, sosok yang aq rindukan sedang berdiri di depanku, aq tak mampu tuk sekedar menatapnya, ingin marah, tapi untukku apa, ingin memeluknya, tapi merasa jijik, ingin berlari menjauh darinya, tapi aq sangat merindukanny, memilih diam dan tertunduk, dengan lemari dan laci masih terbuka, dan tanganku memegang sebungkus sabu – sabu, ujung jilbabku basah, sosok itu masih berdiri disana, menyaksikan tangisanku, hingga sesenggukan, ia berlutut diDpanku “ ira malaikat kecilku!” ucapnya bergetar, airmata itu ditahan disana,aq kangen dengan panggilan itu,kangen benar kangen, tak mampu lagi dibendung mas galuhpun menangis “ maaf!” hanya itu yang ia ucapkan,lalu memelukku, menangis dalam pelukanku,untuk sekedar memanggil namanya saja aq tak sanggup, sebelum aq menyaksikan wajahnya ia berlari menggambil benda yang ditanganku, aku pun menjerit menangis, sambil memanggil namanya “ MAS GALUH!!!!!!!”
*************#############*************
Aku tak pernah lagi ikut pengajian, bahkan berhenti mengikuti pengajian, training pun tak lagi ku ikuti, hanya sebatas bkerja aq keluar dari rumah, bukan karena aq malu mas galuh jadi buronan polisi karena tersangka pengedar dan pengkonsumsi narkoba, bukan pula karena aq sebagai pendakwah tak mampu mengalirkan dakwah itu ke keluargaku sendiri, bukan, bukan karena itu tapi karena aq tak sanggup mendengar nama mas galuh disebut – sebut oleh tetangga sebagai PREMAN, mas galuh penjahat, karena yang aq tahu mas galuh itu Malaikatku. Dan aq tak pernah terima, malaikatku selalu digunjingi. “ mas galuh,,,,,,! Dimana kini??? Tanyaku dalam hati, mas galuh menghilang, benar – benar menghilang, tapi mas galuh tak pernah hilang dari benak dan hatiku, mas galuh tetap malaikatku, mas galuh tetap “ BAYANGAN SANG AYAH”
to be continue
MEDAN, 04 Oktober 2011
saat merindukan sosok kk
Sudah lama aq tak melakukan ini, menatap wajahnya saat ia tertidur pulas, terakhir aq melakukan hal membuat dia selalu marah karena kaget tiba2 melihat aq ada disampingnya sekitar 5 tahun yang lalu, ya 5 tahun terakhir ini aq terlalu sibuk dengan aktivitas baruku, yang lebih aq nikmati dan aq senangi, Liqo, mengisi training, ikut seminar islami bahkan mengisi di berbagai pengajian, baik pengajian anak2, remaja bahkan hingga ibu – ibu. Aq sangat merindukan wajah ini, wajah yang teduh bagiku tapi menyeramkan bagi teman2 kuliahku dulu. Wajah pahlawan bagiku, tapi preman bagi tetanggaku. Aq tak perduli dengan apa anggapan mereka tentangnya, dan aq tak pernah percaya dengan isu itu, karena aq lebih tau siapa dia, dan aq lebih mengerti pribadi seperti apa dia, dan aq yakin ia tak mungkin melakukannya tanpa alasan yg tepat, mas galuh bukan orang yang bodoh,semuanya ini pasti ada alasannya. Ku berbaring disampingnya, dan aq mulai terbayang dengan kisah – kisah kami dulu. Ia, sosok yang kukagumi.
*****************Rantauprapat, 1997**************
Ibu? Panggilku pada ibu, ibu hanya mendehem, aq tau kalau sudah begitu jawabannya tandanya ia tak mau diganggu, ibu!! Panggilku lagi, tak peduli seberapa sibuknya ibu saat ini menghadapi orderan jahitannya karena sudah mendekati lebaran. Ibu sama sekali tak menghiraukanku, kupanggil lagi dengan nada tinggi “ Ibu,,,, Ira mau Tanya ayah itu seperti apa??” tanyaku langsung, spontan ibu menatapku, yang kufikirkan saat itu, ibu pasti marah dan mungkin memukulku karena tlah mengganggunya, tapi ternyata tidak, diletakkankkannya meteran dan gunting yang sedang ia pegang, ia mendekatiku dan menggendongku yang saat itu usiaku sudah 10 tahun, hanya saja karena badanku yang kecil mungkin ibu tak begitu kesusahan menggendongku, ia bawa aq menuju kamar , lalu ia menunjuk kearah seorang lelaki yg berusia 15 tahun yang sedang tidur pulas,” itu,,,,,!” kata ibu sambil menunjuk kearah galuh, mas aq satu – satunya, anak lelaki kebanggaan ibu. Ku menatap ibu, aq bingung “ itu” ulang ibu lagi sambil terus menunjuk kearah mas galuh,” mas galuh” jawabku ragu, “ ya,,,,,, sosok ayahmu ada di galuh, galuh adalah bayangan ayahmu “ ucap ibu lalu meninggalkanku. Aku berjalan mendekati mas galuh, dan kutatap wajahnya lekat “ apa ayah seperti mas galuh??” tanyaku sendiri, “difoto ayah benar – benar tidak mirip dengan mas galuh” kujawab sendiri pertanyaan itu. Sontak aq kaget, mas galuh tiba – tiba bangun dan membentakku, padahal saat itu aq sedang ingin menatap wajah ayah. Mas galuh sang juara, disekolah bahkan diluar sekolah. Juara 1 sampai SMA, jago main bola, jago baca puisi, bahkan pernah menjadi perwakilan kabupaten di provinsi. Selain itu, dia kreatif, bisaa memanfaatkan apa saja tuk jadi sebuah karya. Pernah aq dibuati bunga dari sedotan bekas, dan ternyata bungaku disukai guru kesenianku, hingga akhirnya banyak guru yang meminta mas galuh tuk membuatnya lagi, dan mas galuh selalu melihat peluang dalam kesempatan, dan akhirnya ia berbisnis bunga, padahal saat itu usinya msih 13 tahun. Dan inilah letak kebanggaanku pada mas galuh.
*****************Medan, 2003**************
Ibu menikah lagi dengan seorang lelaki karyawan disebuah toko, saat itu usiaku sudah 16 tahun, tepatnya masa aq memsuki SMA, dan Alhamdulillah ekonomi kami sedikit membaik, ayah baruku mengajak kami pindah ke medan. Di 5 tahun belakangan inilah, aq mulai tahu maksud kata – kata ibu “ galuh adalah bayangan ayahmu “benar, mas galuh adalah bayangan sosok ayah yang kucari yang ku rindukan. Dengan mas galuh aq bisa mengerti arti dari sebuah persaudaraan “ kita 1 ra, mas adalah kau, dan kau adalah mas” itu yg pernah ia ucapkan saat aq disakiti temanku, dan mas galuh tak terima aq disakiti. Dengan mas galuh aku tau, betapa pentingnya menghargai kemampuan, meski aq tahu mas galuh jauh lebih pintar dibanding aq yang tak pernah masuk dalam 10 besar selama sekolah, dan ini membuat aq tak pernah merasa iri meski ibu dan ayah selalu membanding2kan aq dengna mas galuh, aq tak pernah marah, bahkan itu semkain membuat aq semakin yakin bahwa “ mas galuh bayangan ayah “. Dari mas galuh aq tahu semuanya, aq tahu gimana baca puisi, aq tahu gimana serunya nonton bola, dan aq tahu bahwa aq adik mas galuh, mas galuhku sayang.
Nonton bola bareg mas galuh, adalah hal yang paling menyenangkan, distadion di kota ini aq menjadi merasa cewek yang paling beruntung, karena lelaki yg sedang mengejar bola dengan gagah itu, yang jadi idaman semua penonton wanita itu adalah “ mas galuh” bayangan ayahku. Rela dihukum karena tak mengerjakan PR waktu SMA, asal tetap diajak mas galuh menonton bola, tapi tetap untuk yang satu ini mas galuh tak boleh tahu. Menjadi pemandu acara di acara ulang tahun kota medan, mejadi wali setiap ada undangan kesekolahku, menjadi dokter saat aq sakit, karena tak ada satupun dokter yang bisa menyembuhkanku selaian mas galuh, menjadi anak yang patuh pada ibu dan ayah tiriku, dan mejadi pendampingku kemanapun aq pergi, dan semua itu sudah cukup untuk membuat aq merasa bangga punya mas galuh “ bayangan sang ayahku “. Kedekatanku dengan mas galuh, membuat aq jadi wanita yang super tomboy, aq tak pernah ingin baju yang berbeda dengan mas galuh, itu sudah kulakukan sejak aq tahu mas galuh bayangan ayahku, hingga membuat aq tak pernah memakai baju yang trend ala wanita banget yang anggun dan menawan. Aku akan selalu memakai baju mas galuh setiap mas galuh beli baju jika ia tak beli dua, dan tak ingin bajunya selalu aq pakai membuat mas galuh selalu berfikir tuk beli baju, jika tida beli dua, lebih baik tidak beli sama sekali. Itu yang mas ucapkan padaku. Bahkan mas galuh tak pernah ku izinkan bermalam minggun selain denganku, karena aku tahu banya yang menyukai sosok mas galuh, dan aq tetap ingin menjadi wanita pertama dihatinya, meski harus berebut kasih sayang dengan ibu, aku tak perduli yang aq mau adalah “ aq wanita pertama dihatinya, sperti aq meletakkan mas galuh dihatiku sebagai lelaki pertama, dan satu2nya untuk saat ini “. “ ra,,,, pakai baju seperti diana napa skeli2” pinta mas galuh saa itu “ klu mas juga mau pake, boleh ! “ jawabku ringan, dan atas jawabanku itu kepalaku di tepuk oleh mas galuh, tapi tetap saja tepukan di kepalaku itu yang selalu aq rindukan.
Tapi sayang, mas galuh tak ingin kuliah, dia langsung bekerja saat tamat SMA, alasannya tak kuliah pun simpel “ cukup kau yang sukses, itu sudah sukses terbesar bagiku” itu ucapnya, saat itu aq menangis kupeluk mas galuhku yang gagah, karena mungkin hanya mas galuh lah yang mengerti betapa kondisi ekonomi kami saat itu sungguh sangat memprihatinkan, dan pilihannya bekerja setelh tamat SMA pun tujuannya bukan untuk membantu pengobatan ayah tiriku yang ternyata mengidap penyakit magh akut, tetapi untuk tabungan masa kuliahku nanti.
*************************Medan , 2006************************
Ini adalah ujian terberat untukku, terlebih untuk mas galuh, kami ditinggal sosok ayah untuk kedua kalinya, padahal aku masih ingin ayah tiriku yang super dingin itu melihat ku jadi mahasiswa, ibu menjanda lagi, tapi kini berbeda, ibu tak begitu kuat lagi untuk melanjutkan pekerjaan menjahitnya, dan akhirnya mas galuhlah satu – saunya penopang keluarga kami. Uang yang ditabung mas galuh selama 3 tahun bekerja menjadi karyawan di salah satu dealer mobil ternyata hanya bisa membiayai kuliahku selama 2 semester, selebihnya aq tak pernah melihat lagi, mas galuh gagahku berlari mengeja bola, tak pernah melihat mas galuh gagahku lantang membacakan puisi. Aq tau, mas galuh gagahku sibuk pontang anting mencari biaya hidupku juga ibu. Cerita kedekatanku dengan bayanganku sepertinya kandas di 2006, tubuhku yang mungil kini kubaluti dengan kain longgar yang disebut jilbab, aq yang tomboy kini menggunakan rok dan berjala dengan anggun sambil menundukkan pandangan, semua ini kudapat sesaat mas galuhku tak pernah lagi menemaniku dimalam minggu atau di malam – malam lainnya, tepatnya aq tahu bahwa jilbab ini harusnya ada dari dulu di semester 3, stelah aq mencoba aktif disalah satu organisasi kampus LDK. Aq memang kehilangan sosok mas galuh yang selalu pulang tengah malam, bahkan terkadang tak pulang. Hingga untuk jalan barenga, brcerita itu tak pernah kami lakukan lagi, bahkan untuk bertemupun kami jarang. Aq yg sibuk dengan dakwahku juga merawat ibu, sedang mas galuh sibuk dengan pekerjaannya dan tanggungjawbnya sebagai bayangan ayah. Aq begitu sibk dengan dakwah ini, aq dikenal dikampus oleh dosen jg mahasiswa, aq juga bekerja menjadi guru privat untuk membantu mas galuh, bahkn di semester 6 aq sudah bisa membawakan training islami dan motivasi meski itu masih tahap belajar, tapi honornya lumayan. Dengan sejuta kesibukan itu, hampir – hampir aq lupa bahwa aq sangat merindukan mas galuhku. “ aq lupa merindukanmu mas “ ku tuliskan disecarik kertas dan kuletakkan di atas bantal mas galuh, seminggu kemudian aq kembali lagi kekamar mas galuh, masih kudapati kertas itu utuh tak tersentuh. Aq sedih, mas galuhku seakan pergi, berubah eninggalkanku, tak pernah lagi menjitak kepalaku dengan sayang, tak pernah lagi memelukku dan tak pernah lagi menyaksikannya mengejar bola itu. Aq rinduk sosok mas galuhku, meski aq tahu ini juga karena jilbab yg teronggok dikepalaku membuat mas galuh enggan untuk sekedar mendekatiku, “ tapi kan aku ira mas, adik mas “ berontak hatiku.
********************Rantauprapat, 2009********************
Ini adalah tempat aq memutuskan mengagumi mas galuh, bayangan ayah, dan kini aq kembali lagi ketempat ini, keputusan mendadak dari mas galuh untuk kembali kerumah peninggalan ayah ini, untung saja saat itu aq sudah 2 tahun selesai menyelesaikan kuliahku, dan sekarang aq sudah bekerja disalah satu bank swasta dikota ini, dan aq juga sering bolak blaik medan sebagai trainer. Dan semuanya ini tak juga membuatku bangga karena aq kehilangan mas galuh, mas galuh semakin jauh dariku, dia kebanyakan diam, dan aku selalu datang kekamarnya, dan selalu aku dapati dikunci dari luar. Mas galuh entah kemana. Pertemuanku dengan salah satu teman mas galuh saat bekerja di showroom mobil di medan saat distasiun kereta api “ mas galuh tidak pernah bilang mas?” tanyaku pada anton, “ wah,,,, klu itu saya g tahu ra yg jelas dia itu sudah dipecat di awal 2008 “. Kenyaatan bahwa mas galuh sudah kehilangan pekerjaan saat aku belum menyelesaiakn kuliahku membuat aq kaget, daan merasa bodoh, tak seharusnya mas galuh kutinggalkan hanya karenna dakwahku, dan seharusnya q mengajak mas galuh ikut dengan dakwahku ini . kenapa aku begitu egois?? Lalu dengan apa mas galuh membayar uang kuliahku selama ia berhenti bekerja??? Apa sebenarnya yang mas lakukan diluar sana?? Kenapa aq tak pernah mencari tahu?? Kini mas galuh menjadi sosok yang seram bagi seluruh tetanggaku, senyumnya benar – benar hilang. Aku dan ibu hanya bisa bertanya, kenapa???
Siag itu, aku tunggu mas galuh, aku sengajakan tak keluar rumah hari ini, krena aq hanya ingin hari ini bersama mas galuhku “ bayangan sang ayah”. Hingga sore, aq tak melihat mas galuh pulang, aku menuju kamrny, masih posisi yang sama, terkunci. Ku beranikan diri membongkar kamar itu, tak begitu sulit untuk membuka kamar mas galuh, saat pintu itu terbuka, aroma tak sedap langsung menerpa hidungku “ bau pengap “, ku tatap ruangan ini,aq duduk di tempat mas galuh selalu berbaring,” astaghfirulllah “ ucapku kaget, potongan rokok berserakan dimeja, sejak kapan mas galuh merokok ya Allah, ku buka lemari mas galuh, ada yg aneh, aroma menyekat seperti permen karet, kubuka laci lemari, kakiku gemetar, ku ucapkan istighfar berkali – kali, tak mampu berbuat apa- apa, serbuk putih itu, berbau permen, ya Allah “ sabu – sabu “ bathinku, aku terduduk lesu di atas ranjang, ku bayangkan wajah mas galuhku, ku tutup mataku erat, berharap aku sedang bermimmpi, mas galuhku tidak melakukan ini, saat aku membuka mata, sosok yang aq rindukan sedang berdiri di depanku, aq tak mampu tuk sekedar menatapnya, ingin marah, tapi untukku apa, ingin memeluknya, tapi merasa jijik, ingin berlari menjauh darinya, tapi aq sangat merindukanny, memilih diam dan tertunduk, dengan lemari dan laci masih terbuka, dan tanganku memegang sebungkus sabu – sabu, ujung jilbabku basah, sosok itu masih berdiri disana, menyaksikan tangisanku, hingga sesenggukan, ia berlutut diDpanku “ ira malaikat kecilku!” ucapnya bergetar, airmata itu ditahan disana,aq kangen dengan panggilan itu,kangen benar kangen, tak mampu lagi dibendung mas galuhpun menangis “ maaf!” hanya itu yang ia ucapkan,lalu memelukku, menangis dalam pelukanku,untuk sekedar memanggil namanya saja aq tak sanggup, sebelum aq menyaksikan wajahnya ia berlari menggambil benda yang ditanganku, aku pun menjerit menangis, sambil memanggil namanya “ MAS GALUH!!!!!!!”
*************#############*************
Aku tak pernah lagi ikut pengajian, bahkan berhenti mengikuti pengajian, training pun tak lagi ku ikuti, hanya sebatas bkerja aq keluar dari rumah, bukan karena aq malu mas galuh jadi buronan polisi karena tersangka pengedar dan pengkonsumsi narkoba, bukan pula karena aq sebagai pendakwah tak mampu mengalirkan dakwah itu ke keluargaku sendiri, bukan, bukan karena itu tapi karena aq tak sanggup mendengar nama mas galuh disebut – sebut oleh tetangga sebagai PREMAN, mas galuh penjahat, karena yang aq tahu mas galuh itu Malaikatku. Dan aq tak pernah terima, malaikatku selalu digunjingi. “ mas galuh,,,,,,! Dimana kini??? Tanyaku dalam hati, mas galuh menghilang, benar – benar menghilang, tapi mas galuh tak pernah hilang dari benak dan hatiku, mas galuh tetap malaikatku, mas galuh tetap “ BAYANGAN SANG AYAH”
to be continue
MEDAN, 04 Oktober 2011
saat merindukan sosok kk
MALAIKAT HATIKU
MALAIKAT HATIKU
( BAYANGAN SANG AYAH PART II )
masih ingat dengan cerpen bayangan Sang ayah?? nah,,,, ini neh kelanjutan ceritanya,,,1,,,,2,,,,,,3,,,,, action….!!!!!!
Dan kini masih nama itu, dan akan selalu nama itu, selalu aku simpan ditempat yang paling berharga dihidupku, meski tak jarang aku berniat menggantikan nama itu, mengingat usiaku sudah sepperampt abad, tapi, alas an apa yang mesti aku buat untuk menggantikan nama itu?? krn nama itu sudah terlalu lama menemani dan telah melukiskan untukku sebuah kenangan yang semua orang mungkin tak pernah punya. Dan untuk semua itu, aku tak punya alas an apapun untuk menggantikan nama itu, meski itu FIKRI, seorang ikhwan sepupu temanku asal riau, dengan gagah dan berani datang menemui ibuku, ,berniat menjadikan aku sebagai ibu dari anak – anaknya kelak, tapi tetap, alas an ini tak juga diter ima oleh ruang hati yang sudah terisi oleh nama itu ,meski dengan nama itu, tetap tidak. Pokoknya tidak. TITIK.
Menolaknya lagi??? Tanya ibu, beberapa saat Fikri dan temanku pergi meninggalkan rumah kami. Aku hanya diam. Sampai kapan ra? Tanya ibu lagi, dan aku masih diam, sudah yang ke 5 ra, apa sebenarnya yang kau tunggu?? Kita tak bias selamanya hidup berdua nak, kita butuh sesorang untuk menemani hidupmu, juga hidup ibu. Ucap ibu lembut. Lama ibu diam, menunggu aku berkomentar, tapi rasanya diam adalah jawaban yang ibu sudah tau, dan tak perlu menjelaskannya panjang lebar lagi. Ibu beranjak meninggalkanku, dan setelah aku yakin ibu benar – benar meninggalkanku dalam posisi tidur, akupun menangis sejadi2nya. Mas galuh, apa boleh aku menggantikan namamu?? Mas galuh, apa boleh aku menghadirkan sesorang dalam hidupku tanpa izin darimu?? Mas galuh, apa kau tak cemburu jika aku bersama orang lain, seperti cemburunya aku saat kau bersama orang lain?? Mas galuh, apa takdir tak mengizinkan aq menunggumu??? Mas galuh,, dengar! Dengar mas,, aku masih ingin menunggumu!! Please,, pulanglah mas. Pulanglah. Lalu kubawa nama itu kedalam tidurku, selalu dan akan selalu.
Rantauprapat, 2 bulan kemudian…….
5 hari ditempat ini, sungguh sangat tidak menyenangkan, bukan karena rasa sakit ini sepertinya enggan untuk sekedar pergi, walau hanya sesaat, tapi terlebih karena aq sebagai anak perempuan ibu tak mampu berbuat apa2 disaat masa2 rentanya, disaat ibu terbaring lemah, dan aku sebagai satu2nya org terdekat dengannya tak mampu walau hanya sekedar menemaninya,,, mendengarkan keluhannya tentang rasa sakitnya atau sekedar membantunya menelan nasi yang hampir2 seperti duri, sakit, sakit dan sakit.
ya,,,, ibu sedang terbaring lemah di Rumah, dan malangnya aku juga sedang terbaring. Ibu lebih memilih istirahat di rumah, tak ingin sama2 denganku menahan rasa sakit ini di rumah yang serba putih ini, “ kamu saja ndok, ibu lebih suka dirumah, insyaAllah Allah akan menjaga ibu nak” sedang aku tak mampu menolak, sebab darah ini terus keluar, bukan dari hidung saja, bahkan dari mulut, telinga dan juga mata. entah apa nama penyakit ini, yang jelas aku semakin melemah kekurang darah. dan ibu tak pernah tahan melihat darah,,, padahal aku tau, sakit yang ibu punya tak kalah menyakitkan dengan sakit yang aku punya, bahkan mungkin lebih. tapi apa dayaku, mungkin alasan tak percaya kerja dokter dan lebih percaya pada obat2n herbal adalah alasan yang sekian, alasan utamanya adalah ekonomi. bayangkan saja, berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk biaya rumah sakit 2 orang?? sedang biaya rumah sakitku sendiri 2 bulan yang lalu membuat aku harus menjual sepeda motor yang baru saja lunas kreditannya. apa lagi untuk berdua?? bisa2 rumah kami tergadai, jika tergadai maka tergadai jugalah kenangan kenangan yang aku punya dengan mas galuh. Aku sebenarnya tak setuju, kapan lagi aku bias berkorban untuk ibu, tapi apa dayaku, teguran ini sekaligus menimpa kami berdua.
“ aduh.. ra, kamu jangan banyak mikir dulu, tu lihat darahnya keluar lagi” ucap ima, temanku yang setia menemani aku merasakan sakit yang luar biasa ini. Aku hanya diam, sedang ia sibuk memmbersikan darah yang belakang ini tiba2 keluar dari hudng, mulut, telingan bahkan kedua mataku. “ dokter…dokter…” ima sibuk memanggil dokter, dan entah kenapa aku malah menangis, sambil benakku berbicara” kenapa darah ini terus keluar dari tempat yang tak layak, mas galuh,, lihat mas, aku sakit mas, aku sakit mas, lihat aku mas” dan aku semakin menangis, kali ini aku menangis berurai airmata darah, sesekali aku lirik kiki, wajahnya begitu khawatir.
aku terus menangis, rasa sakit ini begitu tak ingin pergi, semuanya terasa sakit untuk sekedar bergerakpun rasanya aku tak mampu. dokter bergegas masuk keruanganku, kulihat ima penuh rasa khawatir meminta dokter untuk segera menghentikan darah ini. yang aku tau, sebuah jarum menusuk tanganku, dokter menyuntikkan obat penenang, dan kepalaku terasa pusing, penglihatanku semakin kabur, tapi telingaku masih bisa mendengar suara tangis sesenggukan itu, suara khas yang tidak pernah kudengar dari sapapun, kecuali darinya. suara yang selalu aku nantikan, kupaksa mataku untuk mencari sumber suara itu, tapi aku benar2 tak mampu, mata ini pun rasanya seperti terhimpit beban yang sangat berat, dan akhirnya aku tak bisa mendengar dan meliahat apapun. dalam hati aku berucap
“ Y allah, jika mang sudah saatnya aku pergi, pertemukan aku dulu dengannya yang kurindu, setelah itu, semua kuserahkan padaMu, Kau tau ya Robb, betapa jiwa ini sudah lama tak menempati raga ini, setelah ia pergi. Mas galuhlah jiwa itu “
aku terbangun dari tidurku, ternyata aku obat penenang yang disuntikkan dokter membuat aku begitu lama terlelap, aku tersenyum, saat aku temui wajah teduh ibu duduk disampingku dan menggenggam erat tanganku, ingin rasanya mencium tangan itu, tapi infuse ini menahan keinginan itu. “ ibu sudah sembuh ra” ucap ibu, sepertinya tau pertanyaan yg ingin aku lontarkan, membuat ibu menjawab lebih dahulu. ibu hanya tersenyum, tapi kulihat bulir air mata di pipi ibu, seperti sisaa baru menangis. “ ada apa ini?” tanyaku dalam hati, dan baru aku sadari ternyata bukan hanya ibu yang tiba2 hadir ditempat ini, ada ima, om farhan ( adik sepupu ayah), mila ( sepupuku yang menjaga ibu dirumah ), dokter dan mas fikri ( ikhwan yang pernah aku tolak pinangannya ), aku kembali menatap ibu, tatapanku penuh Tanya, kenapa semua berkumpul ditempat ini, apa sebenarnya yang terjadi. tapi sebelum tatapan iba mereka menjawab, akupun punya firasat, serasa ingin membenarkan firasat ini, aku beristighfar berulang kali, dan airmata darh ini mengiringi tasbihku,
“ dokter! apa sudah saatnya aku pergi y? tanyaku polos, dokter itu hanya diam dan tersenyum, melihat senyuman dokter aku pun tau jawabannya, itulah sebabnya mereka semua berkumpul, aku kembali memejamkan mata tak sanggup untuk mellihat wajah ibu yang sedang menangis, kembali aku bertasbih “ lailahaillallah muhammadarrosulluhh” ucap ku berkali2, berharap kalimat inilah yang terkahir aku ucapkan untuk mengiriingi aku ke surgaNya, ah,,, begitu Pd nya aku akan mendapat tempat di surgaNya, “ ucap bathinku, apakah malaikatmu telah ada diruangan ini ya Rob?? sedang bersiap untuk mencabut nyawaku, apakah benar dia sudah disini?? Tanya hatiku berulang2, “ lailahaillallah muhammadarrosulluhh” kembali aku ucapkan kalimat yang ku damba menjadi kalimat terakhir, kurasa genggaman ibu semakin erat, erat sekali, seperti benar raasanya klu aku akan pergi, ku buka mataku dan kutatap wajah ibu “ ibu jangan menangis, ira sayang ibu. maafkan semua salah ira bu” ucapku akhirnya setelah beberap menit aku menuggu malaikatnya tak kunjung datang, aku berfikir mungkin aku diberi kesempatan terakhir untuk menyampaikan rasa sayangku pada orang2 yang ku sayangi,, ibu bahkan diam dan hanya menangis, ingin sekali menghapus air mata itu,” ibu, jika suatu saat nanti mas galuh kembali, katakan padanya ibu, iara teteap menyayanginya, dan ira juga minta maaf karena ira tak bisa menunggunya pulang, tapi ira akan menunguuunya di ZannahNya” ucapku sebegitu yakin dengan azalku, melihat tangisan ibu, akupun tak kuat menahan tangis, aku pun menangis dan airmata ini ttplah berwarna merah. kupejamkan lagi mataku mengucapkan tahlil, tahlillku kembali berhenti, sesaat aku mendengar kembali suara tangis sesenggukan asing itu, suara yang tak pernah aku dengan kecuali dariny. aku mencari – cari sumber suara itu, kini begitu jelas, itu suara yang aku rindukan, hingga mataku tertumpu pada mas Fikri, “ apa itu suara mas fikri “tanyaku, tapi tak kulihat sedikitpun ia menangis, tapi benar aku tak salah, suara itu datang dari arah mas fikri, aku menatap lekat mas fikri, kini aku sadar, ada seseorang yang sedang berdiri dibelakang mas fikri, terus aku menatap, berharap tubuh mas fikri sedikit bergeser agar aku bisa meliaht wajah yang sedang bersembunyi dibelakang mas fikri, dan akhirnya aku dapat melihat jelas wajah itu, ia tertunduk dan tangisannya semakin kencang, dalam suara yang lemah, aku begitu kuat untuk mengucapkan dan memanggil nama itu “ MAS GALUH “ tapi tubuh itu tak juga bergerak mendekatkitu, hanya tertunduk dan menangis hingga ketiga kalinya aku memanggilnya “ MAS GALUH “,, dan entah kekuatan darimana aku berhasil mencabut infuse itu dan berlari memeluk mas galuh, kini aku berada dalam pelukan itu, pelukan yang membawa aku pada rasa yang dalam, yang tidak dimiliki oleh seorang adik mana pun, kecuali aku adiknya mas galuh, ku peluk erat tubuh itu, dan mas galuh juga memelukku, aku terus menangis, tak peduli seberapa banyak darah sudah menetes dari luka infuse tanganku yang kusentak kasar mengenai bagian belakang baju koko putih yang sedang dipakai mas galuh. bahkan aku dapat begitu merasakan bahwa darah itu juga keluar dari hidung dan mataku, sudah begitu banyak darah yang tertumpah dalam pelukan mas galuh, tubuhkupun melemah dan pelukanku semakin longgar hingga aku terjatuh, tapi jatuh x ini begitu damai, karena pelukan itu telah mendamaikan dan mengembalikan jiwa yang sempat pergi.
hanya 2 hari setelah mas galuh kembali, aku begitu jauh leih membaik, bahkan yang lebih ajaibnya darah itu tak keluar lagi malam setelah pertama kali mas galuh merawatku. kini aku boleh kembali kerumah, kedatangan kali ini begitu istimewa, aku di gendong oleh mas galuh, saat turun dari mobil mas fikri menuju rumah, serasa aku kembali pada masa – masa kecil dengan mas galuh. yang hingga kini masih kujadikan bayangan sang ayah, aku benar2 pulih, aku tak merasakan sakit apapun. benar2 7 hari dirumah sakit kemaren tak menysisakan apapun. RINDU YANG BERLEBIHAN INI YANG MEMBUAT PENYAKIT ANEH ITU MUNCUL, KINI RINDU ITU TELAH HILANG DAN TAK ADA ALASAN LAGI BAGI PENYAKIT ITU UNTUK TETEP BERTAHAN.
“ jadi selama di Palembang, mas galuh ditampung oleh keluarga mas fikri ya?? mas galuh mengangguk, dan aku menunduk sambil tersenyum malu. “ lho…. kenapa senyum?” Tanya mas galuh saat melihat expresi wajahku, aku hanya menggeleng “ suka ya ma Akh Fikri??” Tanya mas galuh menggodaiku, aku menggeleng cepat . “ terus, wajah manismu kok tiba2 merah begitu “ mas galuh terus menggodaiku, aku pun berlari menuju kamar, mencari cermin dan melihat wajahku, aku pun tersenyum “ benarkan, suka kan ma dia “ Tanya mas galuh yang tiba- tiba nongol dibelakangku, aku pun menjerit dan memukul mas galuh. senyium yang rasanya sudah tak lepas dari bibir ini, kini telah kembali.
“ ukhti ira, sudah hapal alqur’an berapa juz?” pertanyaan mas galuh yang tak bisa aku jawab, sebab seperginya mas galuh, aku tak pernah lagi ikut pengajian, berkumpul dengan org2 sholeh sebagai tombo ati seperti yang dikatakan opick tak pernah ku lakukan lagi, seperginya mas galuh aktivitas dakwahku terhenti, aku hanya bertemankan ibu. dan untuk berapa juz alqu’an yang telah aku hapal benar2 tak mampu kujawab, jangaan kan untuk menghapal kembali, bahkan bacaan almatsurat yang dulu rutin aku baca di subuh dan petang kini tak begitu sempurna aku bacakan lagi. aku benar2 menjauh dari aktivitas mendekatkan diri padaNya seiring menjauhnya mas galuh dari hidupku,
“ mas, ma situ rahmat bagiku,kepergian mas membawa pergi rahmatku, bagaimana mungkin aku hidup tanpa rahmat”
“ bukan mas yang menciptakan dan menghilangkan rahmat ra, hanya DIA ra, rahmat itu miliknya bukan milik mas , mungkin dulu mas khilaf ra, mas dah jauh menyimpang dari jalanNYa, mas juga merasa bersalah ra, sikap mas yang tiba2 pergi membuat ira tak seperti ira yang dulu, yang setiap saat mengkaji islam dan tak meluangkan waktu sediktipun untuk bercanda dengan mas”
“ astaghgirullah, apakah benar aku yang melupakan mas galuh bukan mas galuh yang melupakan aku”
“ tapi rasa marah itu dulu ra, sekarang mas sadar apa yg ira buat dulu benar, tak ada waktu memang untuk berlengah2 disaat umat kian terombang ambing dengan pemikiran2 yang tka berlandaskan alqur’an dan hadist, tapi bukan berarti perginya mas juga membuat ira meninggalkan jama’ah yang telah membuat ira menjadi sosok yang mas kagumi, nabi Muhammad saja tak sanggup membawa paman yang ia sayangi ALI binj Abi Thalib untuk bersama2 hidup di jalanNya, Nuh juga tak mampu membawa istri yang ia cintai untuk sama menegakkan kalimat tauhidNya “ lailahaillah muhammadar rasulullah….. dan apakah pernah sejarah mencatat nama2 mereka sebagai orang2 yang keluar dari jalannNya lantas kesedihan itu ?? ”, dan kejahilan mas lantas membuat ira merasa bersalah, tak bisa mengalirkan dakwah itu bahkan ke mas, saudara kandung ira sendiri?? Mas mengerti perasaan ira, kita belum terlambat ra,, mari berjalan di jalanNYa, IA MENERIMA TAUBAT HAMBANYA” ucap mas galuh, membuat ku benar2 tersentak, begitu lalainya aku selama ini.
“ didalam rahmat itu ada cobaan dan dalam cobaan itu juga tersimpan rahmat” ucap mas galuh.
aku semakin tersentak, mas galuh!! oh,,, mas galuh!! kini kau bukan sekedar bayangan ayah, tapi juga malaikat dalam hatiku, yah,, kau kini malaikat dalam hatiku, yang membawa kan aku cahaya saat kegelapan menyelimitu lama hidupku,karena aku tak pernah mampu menyalakan cahaya yang aku punya, karena cahayaku seutuhnya adalah kamu, sosok yang akan tetap menjadi bayangan sang ayah, sosok yang akan selalu menjadi malaikat dalam hatiku.
“ didalam rahmat itu ada cobaan dan dalam cobaan itu juga tersimpan rahmat”
CINTA ITU DATANG DARINYA,,,,,
MAKA MENCINTAILAH ATAS NAMANYA,,,,,,,,,
to be continue……………..
MEDAN, 27 FEBRUARI 2012
( BAYANGAN SANG AYAH PART II )
masih ingat dengan cerpen bayangan Sang ayah?? nah,,,, ini neh kelanjutan ceritanya,,,1,,,,2,,,,,,3,,,,, action….!!!!!!
Dan kini masih nama itu, dan akan selalu nama itu, selalu aku simpan ditempat yang paling berharga dihidupku, meski tak jarang aku berniat menggantikan nama itu, mengingat usiaku sudah sepperampt abad, tapi, alas an apa yang mesti aku buat untuk menggantikan nama itu?? krn nama itu sudah terlalu lama menemani dan telah melukiskan untukku sebuah kenangan yang semua orang mungkin tak pernah punya. Dan untuk semua itu, aku tak punya alas an apapun untuk menggantikan nama itu, meski itu FIKRI, seorang ikhwan sepupu temanku asal riau, dengan gagah dan berani datang menemui ibuku, ,berniat menjadikan aku sebagai ibu dari anak – anaknya kelak, tapi tetap, alas an ini tak juga diter ima oleh ruang hati yang sudah terisi oleh nama itu ,meski dengan nama itu, tetap tidak. Pokoknya tidak. TITIK.
Menolaknya lagi??? Tanya ibu, beberapa saat Fikri dan temanku pergi meninggalkan rumah kami. Aku hanya diam. Sampai kapan ra? Tanya ibu lagi, dan aku masih diam, sudah yang ke 5 ra, apa sebenarnya yang kau tunggu?? Kita tak bias selamanya hidup berdua nak, kita butuh sesorang untuk menemani hidupmu, juga hidup ibu. Ucap ibu lembut. Lama ibu diam, menunggu aku berkomentar, tapi rasanya diam adalah jawaban yang ibu sudah tau, dan tak perlu menjelaskannya panjang lebar lagi. Ibu beranjak meninggalkanku, dan setelah aku yakin ibu benar – benar meninggalkanku dalam posisi tidur, akupun menangis sejadi2nya. Mas galuh, apa boleh aku menggantikan namamu?? Mas galuh, apa boleh aku menghadirkan sesorang dalam hidupku tanpa izin darimu?? Mas galuh, apa kau tak cemburu jika aku bersama orang lain, seperti cemburunya aku saat kau bersama orang lain?? Mas galuh, apa takdir tak mengizinkan aq menunggumu??? Mas galuh,, dengar! Dengar mas,, aku masih ingin menunggumu!! Please,, pulanglah mas. Pulanglah. Lalu kubawa nama itu kedalam tidurku, selalu dan akan selalu.
Rantauprapat, 2 bulan kemudian…….
5 hari ditempat ini, sungguh sangat tidak menyenangkan, bukan karena rasa sakit ini sepertinya enggan untuk sekedar pergi, walau hanya sesaat, tapi terlebih karena aq sebagai anak perempuan ibu tak mampu berbuat apa2 disaat masa2 rentanya, disaat ibu terbaring lemah, dan aku sebagai satu2nya org terdekat dengannya tak mampu walau hanya sekedar menemaninya,,, mendengarkan keluhannya tentang rasa sakitnya atau sekedar membantunya menelan nasi yang hampir2 seperti duri, sakit, sakit dan sakit.
ya,,,, ibu sedang terbaring lemah di Rumah, dan malangnya aku juga sedang terbaring. Ibu lebih memilih istirahat di rumah, tak ingin sama2 denganku menahan rasa sakit ini di rumah yang serba putih ini, “ kamu saja ndok, ibu lebih suka dirumah, insyaAllah Allah akan menjaga ibu nak” sedang aku tak mampu menolak, sebab darah ini terus keluar, bukan dari hidung saja, bahkan dari mulut, telinga dan juga mata. entah apa nama penyakit ini, yang jelas aku semakin melemah kekurang darah. dan ibu tak pernah tahan melihat darah,,, padahal aku tau, sakit yang ibu punya tak kalah menyakitkan dengan sakit yang aku punya, bahkan mungkin lebih. tapi apa dayaku, mungkin alasan tak percaya kerja dokter dan lebih percaya pada obat2n herbal adalah alasan yang sekian, alasan utamanya adalah ekonomi. bayangkan saja, berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk biaya rumah sakit 2 orang?? sedang biaya rumah sakitku sendiri 2 bulan yang lalu membuat aku harus menjual sepeda motor yang baru saja lunas kreditannya. apa lagi untuk berdua?? bisa2 rumah kami tergadai, jika tergadai maka tergadai jugalah kenangan kenangan yang aku punya dengan mas galuh. Aku sebenarnya tak setuju, kapan lagi aku bias berkorban untuk ibu, tapi apa dayaku, teguran ini sekaligus menimpa kami berdua.
“ aduh.. ra, kamu jangan banyak mikir dulu, tu lihat darahnya keluar lagi” ucap ima, temanku yang setia menemani aku merasakan sakit yang luar biasa ini. Aku hanya diam, sedang ia sibuk memmbersikan darah yang belakang ini tiba2 keluar dari hudng, mulut, telingan bahkan kedua mataku. “ dokter…dokter…” ima sibuk memanggil dokter, dan entah kenapa aku malah menangis, sambil benakku berbicara” kenapa darah ini terus keluar dari tempat yang tak layak, mas galuh,, lihat mas, aku sakit mas, aku sakit mas, lihat aku mas” dan aku semakin menangis, kali ini aku menangis berurai airmata darah, sesekali aku lirik kiki, wajahnya begitu khawatir.
aku terus menangis, rasa sakit ini begitu tak ingin pergi, semuanya terasa sakit untuk sekedar bergerakpun rasanya aku tak mampu. dokter bergegas masuk keruanganku, kulihat ima penuh rasa khawatir meminta dokter untuk segera menghentikan darah ini. yang aku tau, sebuah jarum menusuk tanganku, dokter menyuntikkan obat penenang, dan kepalaku terasa pusing, penglihatanku semakin kabur, tapi telingaku masih bisa mendengar suara tangis sesenggukan itu, suara khas yang tidak pernah kudengar dari sapapun, kecuali darinya. suara yang selalu aku nantikan, kupaksa mataku untuk mencari sumber suara itu, tapi aku benar2 tak mampu, mata ini pun rasanya seperti terhimpit beban yang sangat berat, dan akhirnya aku tak bisa mendengar dan meliahat apapun. dalam hati aku berucap
“ Y allah, jika mang sudah saatnya aku pergi, pertemukan aku dulu dengannya yang kurindu, setelah itu, semua kuserahkan padaMu, Kau tau ya Robb, betapa jiwa ini sudah lama tak menempati raga ini, setelah ia pergi. Mas galuhlah jiwa itu “
aku terbangun dari tidurku, ternyata aku obat penenang yang disuntikkan dokter membuat aku begitu lama terlelap, aku tersenyum, saat aku temui wajah teduh ibu duduk disampingku dan menggenggam erat tanganku, ingin rasanya mencium tangan itu, tapi infuse ini menahan keinginan itu. “ ibu sudah sembuh ra” ucap ibu, sepertinya tau pertanyaan yg ingin aku lontarkan, membuat ibu menjawab lebih dahulu. ibu hanya tersenyum, tapi kulihat bulir air mata di pipi ibu, seperti sisaa baru menangis. “ ada apa ini?” tanyaku dalam hati, dan baru aku sadari ternyata bukan hanya ibu yang tiba2 hadir ditempat ini, ada ima, om farhan ( adik sepupu ayah), mila ( sepupuku yang menjaga ibu dirumah ), dokter dan mas fikri ( ikhwan yang pernah aku tolak pinangannya ), aku kembali menatap ibu, tatapanku penuh Tanya, kenapa semua berkumpul ditempat ini, apa sebenarnya yang terjadi. tapi sebelum tatapan iba mereka menjawab, akupun punya firasat, serasa ingin membenarkan firasat ini, aku beristighfar berulang kali, dan airmata darh ini mengiringi tasbihku,
“ dokter! apa sudah saatnya aku pergi y? tanyaku polos, dokter itu hanya diam dan tersenyum, melihat senyuman dokter aku pun tau jawabannya, itulah sebabnya mereka semua berkumpul, aku kembali memejamkan mata tak sanggup untuk mellihat wajah ibu yang sedang menangis, kembali aku bertasbih “ lailahaillallah muhammadarrosulluhh” ucap ku berkali2, berharap kalimat inilah yang terkahir aku ucapkan untuk mengiriingi aku ke surgaNya, ah,,, begitu Pd nya aku akan mendapat tempat di surgaNya, “ ucap bathinku, apakah malaikatmu telah ada diruangan ini ya Rob?? sedang bersiap untuk mencabut nyawaku, apakah benar dia sudah disini?? Tanya hatiku berulang2, “ lailahaillallah muhammadarrosulluhh” kembali aku ucapkan kalimat yang ku damba menjadi kalimat terakhir, kurasa genggaman ibu semakin erat, erat sekali, seperti benar raasanya klu aku akan pergi, ku buka mataku dan kutatap wajah ibu “ ibu jangan menangis, ira sayang ibu. maafkan semua salah ira bu” ucapku akhirnya setelah beberap menit aku menuggu malaikatnya tak kunjung datang, aku berfikir mungkin aku diberi kesempatan terakhir untuk menyampaikan rasa sayangku pada orang2 yang ku sayangi,, ibu bahkan diam dan hanya menangis, ingin sekali menghapus air mata itu,” ibu, jika suatu saat nanti mas galuh kembali, katakan padanya ibu, iara teteap menyayanginya, dan ira juga minta maaf karena ira tak bisa menunggunya pulang, tapi ira akan menunguuunya di ZannahNya” ucapku sebegitu yakin dengan azalku, melihat tangisan ibu, akupun tak kuat menahan tangis, aku pun menangis dan airmata ini ttplah berwarna merah. kupejamkan lagi mataku mengucapkan tahlil, tahlillku kembali berhenti, sesaat aku mendengar kembali suara tangis sesenggukan asing itu, suara yang tak pernah aku dengan kecuali dariny. aku mencari – cari sumber suara itu, kini begitu jelas, itu suara yang aku rindukan, hingga mataku tertumpu pada mas Fikri, “ apa itu suara mas fikri “tanyaku, tapi tak kulihat sedikitpun ia menangis, tapi benar aku tak salah, suara itu datang dari arah mas fikri, aku menatap lekat mas fikri, kini aku sadar, ada seseorang yang sedang berdiri dibelakang mas fikri, terus aku menatap, berharap tubuh mas fikri sedikit bergeser agar aku bisa meliaht wajah yang sedang bersembunyi dibelakang mas fikri, dan akhirnya aku dapat melihat jelas wajah itu, ia tertunduk dan tangisannya semakin kencang, dalam suara yang lemah, aku begitu kuat untuk mengucapkan dan memanggil nama itu “ MAS GALUH “ tapi tubuh itu tak juga bergerak mendekatkitu, hanya tertunduk dan menangis hingga ketiga kalinya aku memanggilnya “ MAS GALUH “,, dan entah kekuatan darimana aku berhasil mencabut infuse itu dan berlari memeluk mas galuh, kini aku berada dalam pelukan itu, pelukan yang membawa aku pada rasa yang dalam, yang tidak dimiliki oleh seorang adik mana pun, kecuali aku adiknya mas galuh, ku peluk erat tubuh itu, dan mas galuh juga memelukku, aku terus menangis, tak peduli seberapa banyak darah sudah menetes dari luka infuse tanganku yang kusentak kasar mengenai bagian belakang baju koko putih yang sedang dipakai mas galuh. bahkan aku dapat begitu merasakan bahwa darah itu juga keluar dari hidung dan mataku, sudah begitu banyak darah yang tertumpah dalam pelukan mas galuh, tubuhkupun melemah dan pelukanku semakin longgar hingga aku terjatuh, tapi jatuh x ini begitu damai, karena pelukan itu telah mendamaikan dan mengembalikan jiwa yang sempat pergi.
hanya 2 hari setelah mas galuh kembali, aku begitu jauh leih membaik, bahkan yang lebih ajaibnya darah itu tak keluar lagi malam setelah pertama kali mas galuh merawatku. kini aku boleh kembali kerumah, kedatangan kali ini begitu istimewa, aku di gendong oleh mas galuh, saat turun dari mobil mas fikri menuju rumah, serasa aku kembali pada masa – masa kecil dengan mas galuh. yang hingga kini masih kujadikan bayangan sang ayah, aku benar2 pulih, aku tak merasakan sakit apapun. benar2 7 hari dirumah sakit kemaren tak menysisakan apapun. RINDU YANG BERLEBIHAN INI YANG MEMBUAT PENYAKIT ANEH ITU MUNCUL, KINI RINDU ITU TELAH HILANG DAN TAK ADA ALASAN LAGI BAGI PENYAKIT ITU UNTUK TETEP BERTAHAN.
“ jadi selama di Palembang, mas galuh ditampung oleh keluarga mas fikri ya?? mas galuh mengangguk, dan aku menunduk sambil tersenyum malu. “ lho…. kenapa senyum?” Tanya mas galuh saat melihat expresi wajahku, aku hanya menggeleng “ suka ya ma Akh Fikri??” Tanya mas galuh menggodaiku, aku menggeleng cepat . “ terus, wajah manismu kok tiba2 merah begitu “ mas galuh terus menggodaiku, aku pun berlari menuju kamar, mencari cermin dan melihat wajahku, aku pun tersenyum “ benarkan, suka kan ma dia “ Tanya mas galuh yang tiba- tiba nongol dibelakangku, aku pun menjerit dan memukul mas galuh. senyium yang rasanya sudah tak lepas dari bibir ini, kini telah kembali.
“ ukhti ira, sudah hapal alqur’an berapa juz?” pertanyaan mas galuh yang tak bisa aku jawab, sebab seperginya mas galuh, aku tak pernah lagi ikut pengajian, berkumpul dengan org2 sholeh sebagai tombo ati seperti yang dikatakan opick tak pernah ku lakukan lagi, seperginya mas galuh aktivitas dakwahku terhenti, aku hanya bertemankan ibu. dan untuk berapa juz alqu’an yang telah aku hapal benar2 tak mampu kujawab, jangaan kan untuk menghapal kembali, bahkan bacaan almatsurat yang dulu rutin aku baca di subuh dan petang kini tak begitu sempurna aku bacakan lagi. aku benar2 menjauh dari aktivitas mendekatkan diri padaNya seiring menjauhnya mas galuh dari hidupku,
“ mas, ma situ rahmat bagiku,kepergian mas membawa pergi rahmatku, bagaimana mungkin aku hidup tanpa rahmat”
“ bukan mas yang menciptakan dan menghilangkan rahmat ra, hanya DIA ra, rahmat itu miliknya bukan milik mas , mungkin dulu mas khilaf ra, mas dah jauh menyimpang dari jalanNYa, mas juga merasa bersalah ra, sikap mas yang tiba2 pergi membuat ira tak seperti ira yang dulu, yang setiap saat mengkaji islam dan tak meluangkan waktu sediktipun untuk bercanda dengan mas”
“ astaghgirullah, apakah benar aku yang melupakan mas galuh bukan mas galuh yang melupakan aku”
“ tapi rasa marah itu dulu ra, sekarang mas sadar apa yg ira buat dulu benar, tak ada waktu memang untuk berlengah2 disaat umat kian terombang ambing dengan pemikiran2 yang tka berlandaskan alqur’an dan hadist, tapi bukan berarti perginya mas juga membuat ira meninggalkan jama’ah yang telah membuat ira menjadi sosok yang mas kagumi, nabi Muhammad saja tak sanggup membawa paman yang ia sayangi ALI binj Abi Thalib untuk bersama2 hidup di jalanNya, Nuh juga tak mampu membawa istri yang ia cintai untuk sama menegakkan kalimat tauhidNya “ lailahaillah muhammadar rasulullah….. dan apakah pernah sejarah mencatat nama2 mereka sebagai orang2 yang keluar dari jalannNya lantas kesedihan itu ?? ”, dan kejahilan mas lantas membuat ira merasa bersalah, tak bisa mengalirkan dakwah itu bahkan ke mas, saudara kandung ira sendiri?? Mas mengerti perasaan ira, kita belum terlambat ra,, mari berjalan di jalanNYa, IA MENERIMA TAUBAT HAMBANYA” ucap mas galuh, membuat ku benar2 tersentak, begitu lalainya aku selama ini.
“ didalam rahmat itu ada cobaan dan dalam cobaan itu juga tersimpan rahmat” ucap mas galuh.
aku semakin tersentak, mas galuh!! oh,,, mas galuh!! kini kau bukan sekedar bayangan ayah, tapi juga malaikat dalam hatiku, yah,, kau kini malaikat dalam hatiku, yang membawa kan aku cahaya saat kegelapan menyelimitu lama hidupku,karena aku tak pernah mampu menyalakan cahaya yang aku punya, karena cahayaku seutuhnya adalah kamu, sosok yang akan tetap menjadi bayangan sang ayah, sosok yang akan selalu menjadi malaikat dalam hatiku.
“ didalam rahmat itu ada cobaan dan dalam cobaan itu juga tersimpan rahmat”
CINTA ITU DATANG DARINYA,,,,,
MAKA MENCINTAILAH ATAS NAMANYA,,,,,,,,,
to be continue……………..
MEDAN, 27 FEBRUARI 2012
Langganan:
Postingan (Atom)

























