Sudah lama aq tak melakukan ini, menatap wajahnya saat ia tertidur pulas, terakhir aq melakukan hal membuat dia selalu marah karena kaget tiba2 melihat aq ada disampingnya sekitar 5 tahun yang lalu, ya 5 tahun terakhir ini aq terlalu sibuk dengan aktivitas baruku, yang lebih aq nikmati dan aq senangi, Liqo, mengisi training, ikut seminar islami bahkan mengisi di berbagai pengajian, baik pengajian anak2, remaja bahkan hingga ibu – ibu. Aq sangat merindukan wajah ini, wajah yang teduh bagiku tapi menyeramkan bagi teman2 kuliahku dulu. Wajah pahlawan bagiku, tapi preman bagi tetanggaku. Aq tak perduli dengan apa anggapan mereka tentangnya, dan aq tak pernah percaya dengan isu itu, karena aq lebih tau siapa dia, dan aq lebih mengerti pribadi seperti apa dia, dan aq yakin ia tak mungkin melakukannya tanpa alasan yg tepat, mas galuh bukan orang yang bodoh,semuanya ini pasti ada alasannya. Ku berbaring disampingnya, dan aq mulai terbayang dengan kisah – kisah kami dulu. Ia, sosok yang kukagumi.
*****************Rantauprapat, 1997**************
Ibu? Panggilku pada ibu, ibu hanya mendehem, aq tau kalau sudah begitu jawabannya tandanya ia tak mau diganggu, ibu!! Panggilku lagi, tak peduli seberapa sibuknya ibu saat ini menghadapi orderan jahitannya karena sudah mendekati lebaran. Ibu sama sekali tak menghiraukanku, kupanggil lagi dengan nada tinggi “ Ibu,,,, Ira mau Tanya ayah itu seperti apa??” tanyaku langsung, spontan ibu menatapku, yang kufikirkan saat itu, ibu pasti marah dan mungkin memukulku karena tlah mengganggunya, tapi ternyata tidak, diletakkankkannya meteran dan gunting yang sedang ia pegang, ia mendekatiku dan menggendongku yang saat itu usiaku sudah 10 tahun, hanya saja karena badanku yang kecil mungkin ibu tak begitu kesusahan menggendongku, ia bawa aq menuju kamar , lalu ia menunjuk kearah seorang lelaki yg berusia 15 tahun yang sedang tidur pulas,” itu,,,,,!” kata ibu sambil menunjuk kearah galuh, mas aq satu – satunya, anak lelaki kebanggaan ibu. Ku menatap ibu, aq bingung “ itu” ulang ibu lagi sambil terus menunjuk kearah mas galuh,” mas galuh” jawabku ragu, “ ya,,,,,, sosok ayahmu ada di galuh, galuh adalah bayangan ayahmu “ ucap ibu lalu meninggalkanku. Aku berjalan mendekati mas galuh, dan kutatap wajahnya lekat “ apa ayah seperti mas galuh??” tanyaku sendiri, “difoto ayah benar – benar tidak mirip dengan mas galuh” kujawab sendiri pertanyaan itu. Sontak aq kaget, mas galuh tiba – tiba bangun dan membentakku, padahal saat itu aq sedang ingin menatap wajah ayah. Mas galuh sang juara, disekolah bahkan diluar sekolah. Juara 1 sampai SMA, jago main bola, jago baca puisi, bahkan pernah menjadi perwakilan kabupaten di provinsi. Selain itu, dia kreatif, bisaa memanfaatkan apa saja tuk jadi sebuah karya. Pernah aq dibuati bunga dari sedotan bekas, dan ternyata bungaku disukai guru kesenianku, hingga akhirnya banyak guru yang meminta mas galuh tuk membuatnya lagi, dan mas galuh selalu melihat peluang dalam kesempatan, dan akhirnya ia berbisnis bunga, padahal saat itu usinya msih 13 tahun. Dan inilah letak kebanggaanku pada mas galuh.
*****************Medan, 2003**************
Ibu menikah lagi dengan seorang lelaki karyawan disebuah toko, saat itu usiaku sudah 16 tahun, tepatnya masa aq memsuki SMA, dan Alhamdulillah ekonomi kami sedikit membaik, ayah baruku mengajak kami pindah ke medan. Di 5 tahun belakangan inilah, aq mulai tahu maksud kata – kata ibu “ galuh adalah bayangan ayahmu “benar, mas galuh adalah bayangan sosok ayah yang kucari yang ku rindukan. Dengan mas galuh aq bisa mengerti arti dari sebuah persaudaraan “ kita 1 ra, mas adalah kau, dan kau adalah mas” itu yg pernah ia ucapkan saat aq disakiti temanku, dan mas galuh tak terima aq disakiti. Dengan mas galuh aku tau, betapa pentingnya menghargai kemampuan, meski aq tahu mas galuh jauh lebih pintar dibanding aq yang tak pernah masuk dalam 10 besar selama sekolah, dan ini membuat aq tak pernah merasa iri meski ibu dan ayah selalu membanding2kan aq dengna mas galuh, aq tak pernah marah, bahkan itu semkain membuat aq semakin yakin bahwa “ mas galuh bayangan ayah “. Dari mas galuh aq tahu semuanya, aq tahu gimana baca puisi, aq tahu gimana serunya nonton bola, dan aq tahu bahwa aq adik mas galuh, mas galuhku sayang.
Nonton bola bareg mas galuh, adalah hal yang paling menyenangkan, distadion di kota ini aq menjadi merasa cewek yang paling beruntung, karena lelaki yg sedang mengejar bola dengan gagah itu, yang jadi idaman semua penonton wanita itu adalah “ mas galuh” bayangan ayahku. Rela dihukum karena tak mengerjakan PR waktu SMA, asal tetap diajak mas galuh menonton bola, tapi tetap untuk yang satu ini mas galuh tak boleh tahu. Menjadi pemandu acara di acara ulang tahun kota medan, mejadi wali setiap ada undangan kesekolahku, menjadi dokter saat aq sakit, karena tak ada satupun dokter yang bisa menyembuhkanku selaian mas galuh, menjadi anak yang patuh pada ibu dan ayah tiriku, dan mejadi pendampingku kemanapun aq pergi, dan semua itu sudah cukup untuk membuat aq merasa bangga punya mas galuh “ bayangan sang ayahku “. Kedekatanku dengan mas galuh, membuat aq jadi wanita yang super tomboy, aq tak pernah ingin baju yang berbeda dengan mas galuh, itu sudah kulakukan sejak aq tahu mas galuh bayangan ayahku, hingga membuat aq tak pernah memakai baju yang trend ala wanita banget yang anggun dan menawan. Aku akan selalu memakai baju mas galuh setiap mas galuh beli baju jika ia tak beli dua, dan tak ingin bajunya selalu aq pakai membuat mas galuh selalu berfikir tuk beli baju, jika tida beli dua, lebih baik tidak beli sama sekali. Itu yang mas ucapkan padaku. Bahkan mas galuh tak pernah ku izinkan bermalam minggun selain denganku, karena aku tahu banya yang menyukai sosok mas galuh, dan aq tetap ingin menjadi wanita pertama dihatinya, meski harus berebut kasih sayang dengan ibu, aku tak perduli yang aq mau adalah “ aq wanita pertama dihatinya, sperti aq meletakkan mas galuh dihatiku sebagai lelaki pertama, dan satu2nya untuk saat ini “. “ ra,,,, pakai baju seperti diana napa skeli2” pinta mas galuh saa itu “ klu mas juga mau pake, boleh ! “ jawabku ringan, dan atas jawabanku itu kepalaku di tepuk oleh mas galuh, tapi tetap saja tepukan di kepalaku itu yang selalu aq rindukan.
Tapi sayang, mas galuh tak ingin kuliah, dia langsung bekerja saat tamat SMA, alasannya tak kuliah pun simpel “ cukup kau yang sukses, itu sudah sukses terbesar bagiku” itu ucapnya, saat itu aq menangis kupeluk mas galuhku yang gagah, karena mungkin hanya mas galuh lah yang mengerti betapa kondisi ekonomi kami saat itu sungguh sangat memprihatinkan, dan pilihannya bekerja setelh tamat SMA pun tujuannya bukan untuk membantu pengobatan ayah tiriku yang ternyata mengidap penyakit magh akut, tetapi untuk tabungan masa kuliahku nanti.
*************************Medan , 2006************************
Ini adalah ujian terberat untukku, terlebih untuk mas galuh, kami ditinggal sosok ayah untuk kedua kalinya, padahal aku masih ingin ayah tiriku yang super dingin itu melihat ku jadi mahasiswa, ibu menjanda lagi, tapi kini berbeda, ibu tak begitu kuat lagi untuk melanjutkan pekerjaan menjahitnya, dan akhirnya mas galuhlah satu – saunya penopang keluarga kami. Uang yang ditabung mas galuh selama 3 tahun bekerja menjadi karyawan di salah satu dealer mobil ternyata hanya bisa membiayai kuliahku selama 2 semester, selebihnya aq tak pernah melihat lagi, mas galuh gagahku berlari mengeja bola, tak pernah melihat mas galuh gagahku lantang membacakan puisi. Aq tau, mas galuh gagahku sibuk pontang anting mencari biaya hidupku juga ibu. Cerita kedekatanku dengan bayanganku sepertinya kandas di 2006, tubuhku yang mungil kini kubaluti dengan kain longgar yang disebut jilbab, aq yang tomboy kini menggunakan rok dan berjala dengan anggun sambil menundukkan pandangan, semua ini kudapat sesaat mas galuhku tak pernah lagi menemaniku dimalam minggu atau di malam – malam lainnya, tepatnya aq tahu bahwa jilbab ini harusnya ada dari dulu di semester 3, stelah aq mencoba aktif disalah satu organisasi kampus LDK. Aq memang kehilangan sosok mas galuh yang selalu pulang tengah malam, bahkan terkadang tak pulang. Hingga untuk jalan barenga, brcerita itu tak pernah kami lakukan lagi, bahkan untuk bertemupun kami jarang. Aq yg sibuk dengan dakwahku juga merawat ibu, sedang mas galuh sibuk dengan pekerjaannya dan tanggungjawbnya sebagai bayangan ayah. Aq begitu sibk dengan dakwah ini, aq dikenal dikampus oleh dosen jg mahasiswa, aq juga bekerja menjadi guru privat untuk membantu mas galuh, bahkn di semester 6 aq sudah bisa membawakan training islami dan motivasi meski itu masih tahap belajar, tapi honornya lumayan. Dengan sejuta kesibukan itu, hampir – hampir aq lupa bahwa aq sangat merindukan mas galuhku. “ aq lupa merindukanmu mas “ ku tuliskan disecarik kertas dan kuletakkan di atas bantal mas galuh, seminggu kemudian aq kembali lagi kekamar mas galuh, masih kudapati kertas itu utuh tak tersentuh. Aq sedih, mas galuhku seakan pergi, berubah eninggalkanku, tak pernah lagi menjitak kepalaku dengan sayang, tak pernah lagi memelukku dan tak pernah lagi menyaksikannya mengejar bola itu. Aq rinduk sosok mas galuhku, meski aq tahu ini juga karena jilbab yg teronggok dikepalaku membuat mas galuh enggan untuk sekedar mendekatiku, “ tapi kan aku ira mas, adik mas “ berontak hatiku.
********************Rantauprapat, 2009********************
Ini adalah tempat aq memutuskan mengagumi mas galuh, bayangan ayah, dan kini aq kembali lagi ketempat ini, keputusan mendadak dari mas galuh untuk kembali kerumah peninggalan ayah ini, untung saja saat itu aq sudah 2 tahun selesai menyelesaikan kuliahku, dan sekarang aq sudah bekerja disalah satu bank swasta dikota ini, dan aq juga sering bolak blaik medan sebagai trainer. Dan semuanya ini tak juga membuatku bangga karena aq kehilangan mas galuh, mas galuh semakin jauh dariku, dia kebanyakan diam, dan aku selalu datang kekamarnya, dan selalu aku dapati dikunci dari luar. Mas galuh entah kemana. Pertemuanku dengan salah satu teman mas galuh saat bekerja di showroom mobil di medan saat distasiun kereta api “ mas galuh tidak pernah bilang mas?” tanyaku pada anton, “ wah,,,, klu itu saya g tahu ra yg jelas dia itu sudah dipecat di awal 2008 “. Kenyaatan bahwa mas galuh sudah kehilangan pekerjaan saat aku belum menyelesaiakn kuliahku membuat aq kaget, daan merasa bodoh, tak seharusnya mas galuh kutinggalkan hanya karenna dakwahku, dan seharusnya q mengajak mas galuh ikut dengan dakwahku ini . kenapa aku begitu egois?? Lalu dengan apa mas galuh membayar uang kuliahku selama ia berhenti bekerja??? Apa sebenarnya yang mas lakukan diluar sana?? Kenapa aq tak pernah mencari tahu?? Kini mas galuh menjadi sosok yang seram bagi seluruh tetanggaku, senyumnya benar – benar hilang. Aku dan ibu hanya bisa bertanya, kenapa???
Siag itu, aku tunggu mas galuh, aku sengajakan tak keluar rumah hari ini, krena aq hanya ingin hari ini bersama mas galuhku “ bayangan sang ayah”. Hingga sore, aq tak melihat mas galuh pulang, aku menuju kamrny, masih posisi yang sama, terkunci. Ku beranikan diri membongkar kamar itu, tak begitu sulit untuk membuka kamar mas galuh, saat pintu itu terbuka, aroma tak sedap langsung menerpa hidungku “ bau pengap “, ku tatap ruangan ini,aq duduk di tempat mas galuh selalu berbaring,” astaghfirulllah “ ucapku kaget, potongan rokok berserakan dimeja, sejak kapan mas galuh merokok ya Allah, ku buka lemari mas galuh, ada yg aneh, aroma menyekat seperti permen karet, kubuka laci lemari, kakiku gemetar, ku ucapkan istighfar berkali – kali, tak mampu berbuat apa- apa, serbuk putih itu, berbau permen, ya Allah “ sabu – sabu “ bathinku, aku terduduk lesu di atas ranjang, ku bayangkan wajah mas galuhku, ku tutup mataku erat, berharap aku sedang bermimmpi, mas galuhku tidak melakukan ini, saat aku membuka mata, sosok yang aq rindukan sedang berdiri di depanku, aq tak mampu tuk sekedar menatapnya, ingin marah, tapi untukku apa, ingin memeluknya, tapi merasa jijik, ingin berlari menjauh darinya, tapi aq sangat merindukanny, memilih diam dan tertunduk, dengan lemari dan laci masih terbuka, dan tanganku memegang sebungkus sabu – sabu, ujung jilbabku basah, sosok itu masih berdiri disana, menyaksikan tangisanku, hingga sesenggukan, ia berlutut diDpanku “ ira malaikat kecilku!” ucapnya bergetar, airmata itu ditahan disana,aq kangen dengan panggilan itu,kangen benar kangen, tak mampu lagi dibendung mas galuhpun menangis “ maaf!” hanya itu yang ia ucapkan,lalu memelukku, menangis dalam pelukanku,untuk sekedar memanggil namanya saja aq tak sanggup, sebelum aq menyaksikan wajahnya ia berlari menggambil benda yang ditanganku, aku pun menjerit menangis, sambil memanggil namanya “ MAS GALUH!!!!!!!”
*************#############*************
Aku tak pernah lagi ikut pengajian, bahkan berhenti mengikuti pengajian, training pun tak lagi ku ikuti, hanya sebatas bkerja aq keluar dari rumah, bukan karena aq malu mas galuh jadi buronan polisi karena tersangka pengedar dan pengkonsumsi narkoba, bukan pula karena aq sebagai pendakwah tak mampu mengalirkan dakwah itu ke keluargaku sendiri, bukan, bukan karena itu tapi karena aq tak sanggup mendengar nama mas galuh disebut – sebut oleh tetangga sebagai PREMAN, mas galuh penjahat, karena yang aq tahu mas galuh itu Malaikatku. Dan aq tak pernah terima, malaikatku selalu digunjingi. “ mas galuh,,,,,,! Dimana kini??? Tanyaku dalam hati, mas galuh menghilang, benar – benar menghilang, tapi mas galuh tak pernah hilang dari benak dan hatiku, mas galuh tetap malaikatku, mas galuh tetap “ BAYANGAN SANG AYAH”
to be continue
MEDAN, 04 Oktober 2011
saat merindukan sosok kk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar