Minggu, 01 April 2012
" PESANAN TIKET SURGA ALWAN "
Aku tak pernah berfikir, kalau keputusanku yang ku anggap g penting ini ternyata membuatku pusing plus ribet. Untuk mundur rasanya ga mungkin, sebab semuanya sudah terlanjur, seperti kata pepatah kuno, “ nasi tlah menjadi bubur “ meski memang hal ini tak ada hubungannya sama sekali dengan nasi apalagi bubur. Untuk berhenti, lebih ga mungkin, sebab ia terlanjur menikmati, apa hak ku menghancurkan kenikmatannya saat ini, meski aku Ibunya. Ya, aku sama sekali tak berhak mengenyahkan senyumamn Alwan,ya, namanya Alwan, aku lebih suka memanggilnya dengan panggilan “ Al…” lelaaki kecil berfostur sedang untuk ukuran anak kelas 1, lelaki tampan kedua setelah suamiku, lelaki yang menyempurnakan kodratku sebagai seorang wanita, katanya sih, tapi menurutku tidak ada yang luar biasa dengan kehadiran Alwan, ah.. naluri keibuanku mamang belum juga muncul meski status itu telah aku sandang lebih kurang 6 tahun, dan anehnya lagi aku tak pernah mengklhawatirkannya.
*****************
Bukan alwan namanya kalau ga banyak Tanya, dan itu terkadang yang membuat aku ribet, karena aku bukan tipe wanita yang suka basa – basi, karena aktivitas bisnis onlineku yang sejak kuliah aku jalani memang membuat aku tak punya waktu untuk basa – basi, tapi, sibuk bisnis online hanya alas an yang aku buat – buat, toh aku tak begitu sibuk, aku masih sempat untuk meluangkan waktu sekitar 3 jam tiap harinya hanya untuk nonton atau apalah, tapi tidak untuk yang satu ini “ menjawab pertanyaan – pertanyaan alwan”
Berawal dari kalimat” satu tiket ke surga” yang tak sengaja ia baca, buku yang ibu ima punya , ustadzahnya alwan disekolah. Alwan memang sudah terbiasa mendengar kata tiket, sebab suamiku sering membawanya ke arena main, yang notabennya selalu memakai tiket, jadi dia sudah paham benar makna kata tiket.
“ klau ke surga pakai tiket juga ya ma” tanyanya saat perjalanan pulang dari sekolah alwan. “ siapa yang bilang” tanyaku balik, alwan memutar posisi duduknya menghadap aku,ia yakin benar kalau diskusi dengan mamanya kali ini akan berlangsung lama, “ tadi ustadzah ima bawa buku, dan alwan baca ada tulisan ‘ satu tiket ke surga “ ia mencoba menjelaskan, aku hanya diam, aku terlalu focus dari kegiatan menyetirku, “ surga itu untuk orang – rang baik ya ma?” tanyanya lagi, aku hanya mengangguk “ makanya alwan jangan nakal, supaya masuk surga” ucapku tanpa menoleh sedikitpun, “memangnya alwan nakal ya ma?” BANGET! Tapi mana mungkin aku sanggup mengucapkannya “ alwankan ga pernah nyuri uang mama, alwan juga ga pernah berantakin rumah mama, alwan selalu nurut kok kalau mama bilang apa aja” ucapnya melakukan pembelaan, aku paham, definisi bandel bagi alwan adalah seperti yang biasa Salman lakukan, dan jelas aku sebagai Ibu, selalu melarang alwan untuk bermain dengannya. Tapi defenisi bandel bagiku berbeda, kebawelan alwan yang kadang sungguh sangat terlalu berlebihan kuanggap sebuah kebandelan. “ ma, bisa dipesan ga tiket kesurganya?” aku kembali diam, “ ga perlu pake antrikan ma kalau mau mendapatkan tiket ke surga?” aku mengerutkan dahi, “ emangnya nonton bioskop, pake antrian tiket segala!” bathinku, melihat aku hanya diam, alwan semakin gencar untuk meluncurkan pertanyaannya “ kalau mau pesan tiketnya dimana ya ma? Anehnya anakkku, bathinku, ‘ dimana ma?” alwan terus saja bertanya “ alwan, udah deh, mama lagi nyetir ne!” ucapku sedikit membentak, dia meluruskan posisinya dan kulihat ia membukan tasnya, dan mengambil sebuah buku dan pinsil, lalu ia menuliskan sebuah kata “ alwan mau dapat tiket ke surga ma”, aku hanya menghela nafas.
*****************
Malamnya, aku langsung menceritakan pertanyaan aneh alwan hari ini, meski memang bukan yang aneh lagi bagi kami mendengar pertanyaan – pertanyaan aneh alwan. “ aneh kan mas?” tanyaku menyimpulkan ceritaku. ‘ aneh dari mana, ya wajar lho Din, itu pertanyaan cerdas, tu artinya visi misi umi memilih sekolah agama berhasil “ jawab mas fahri puas, seolah – olah memastikan kalau kali ini pilhan ibu mertuaku benar. “ ya jelas aneh lho mas, usia alwan yang masih 6 tahun sudah bercerita tentang surga, apakai acara tiket ke surga lagi! Ucapku membantah, mas fahri hanya diam “ dari awalkan aku sudah bilang, alwan itu tidak perlu dimasukkan ke sekolah MIS ( madrasah ibtidayah swasta ), SD umumkan banyak, malah ada yang dekat lagi, kasihan otaknya alwan sebegitu cepat menampung dua pelajaran sekaligus AGAMA dan UMUM! “ emangnnya alwan itu kaya kamu, alwan itu cerdas, kaya mas “ jawab mas fahri puas plus senyumannya, “ sebenarnya yang aneh itu kamu, pelajaran agama itukan harus ditanamkan pada anak sejak dini, sebelum kertas putih itu tergores tinta, supaya nanti dia jadi anak yang sholeh, ga pengen pa punya anak yang sholeh?” aku hanya bisa diam kalau mas fahri mencermahiku, aku sadar betul doa “ ya allah berikan kami anak – anak yang sholeh dan sholeha “ jarang sekali aku panjatkan, karena keluargaku bukanlah keluarga yang religious, seperti keluargnya mas fahri, tapi untuk ukuran sholeh mas fahri itu belum ada apa2nya jika dibandingkan dengan ipar2ku apalagi kedua mertuaku, jadi menurutku wajar – wajar saja kalau doa ‘anak sholeh” tak pernah jadi daftar utama doaku.
***********************
“ kata ustadzah, alwan bisa lho dapat tiket ke surga?” ucapnya senang, meski tak begitu jelas, ucapan itu ditujuakn untuk siapa, aku atau mas fahri. Tapi yang jelas, aku tak berniat untuk menoleh, apalagi untuk menanggapi, topic seperti ini rasanya konyol, aku tetap saja menatap layar lapotop, focus pada bisnis online ku. “ oh ya, ustadzah bilang begitu?” mas fahri mencoba menanggapi ucapan alwan, aku yakin benar kalau kali ini alwan pasti mengangguk riang! “ kalau kita di surga bisa minta apa aja y pa?” “ ia, alwan bisa minta apa saja, mobil2n, sepeda pokoknya semuanya” jawab mas fahri sambil beranjak mendekati alwan, ia mendudukkan alwan dipangkuannya, “ bisa minta supaya alwan juara 1 juga dong pa ?” mas fahri kembali mengangguk, dan allwan tersenyum puas, bahkan dia sama sekali tak melibatkan aku, akupun tak berniat untuk terlibat denggan topic “ tiket surganya alwan” “ kata ustadzah alwan bisa dapat tiket ke surga dari Mama pa, benar ya apa? Tanyanya lagi, spontan aku menoleh “ ustadzah bilang begitu?” tanyaku balik, alwan hanya mengangguk, “ tapi kata aisyah, yang boleh kasi tiket ke surga itu seperti uminya aisyah, sepperti ustadzah juga!” lagi – lagi aku mengerutkan dahi, sedang mas fahri hanya diam, menunggu ucapan alwan selanjutnya” mamakan ga berjilbab pa, g seperti uminya aisyah, apa bisa alwan dapat tiketnya?” ekspresii alwan kini berubah, ia kelihatan sedih dan menyesal, sedang emosiku mulai melunjak “ apa sih maksud ustadzahnya alwan, aku besok harus labrak tu ustadzah, dia membuat anakku semakin aneh !” bathinku disertai mimic wajah emosi, mas fahri memandangku lalu tersenyum, “ kalau gitu, suruh mama pakai jilbab al, biar alwan bisa dapat tiket ke surga dari mama?” aku membelalakkan mata, ‘usulan konyol ‘ bathinku, ‘ ia ma, pakai dong jilbabnya” pinta alwan, lebih tepat “ memerintahkan aku “. Aku menutup laptopku, aku tak berniat lagi untuk melanjutkan pekerjaanku, aku beranjak meninggalkan mereka menuju kamar, kali ini aku benar – benar marah, marah pada semuanya, pada alwan yang belakang jadi aneh gara – gara tiket surganya. Aku masih bisa mendengar dari kamar, pertanyaan – pertanyaan alwan tentang tiket ke surge?” dan malamkupun kututup dengan hal konyol “ tiket surga”.
**********************
Hari ini aku lebih awal menjemput alwan, aku sudah tak sabar untuk meminta pertanggung jawaban kepada ustadzahnya alwan atas tingkah alwan yang tiba – tiba semakin aneh. Aku tiba di sekolah saat jam pulang sekolah masih 30 menit lagi, aku berdiri tak jauh dari ruangan alwan, sepintas aku mengintip, anakku memang super aktif, ia terus berbicara, terkadang persaan Bangga itu juga muncul, semua ibu pasti memimpikan anak yang cerdas, aktif dan hebat, aku salah satunya, sayangnya aku tak peduli dengan karunia itu. Seseorang menghampiriku, wanita berjilbab hijau itu tersenyum melihatku “ assalamu’alaikum, mamanya alwan ya?” ucpnya ramah, dlam hati aku sudah bisa menebak, siapa wanita ini “ wa’alaikumsalam, benar, ustadzahnya alwan?” aku balik bertanya, ia tersenyum lalu mengangguk, melihat senyumn ramah itu, aku tak tega untuk melancarkan aksi marah – marahku yang sudah kurancang tadi malam. Perbincangan iitupun berlangsung ramah dan menyenangkan. “ alwan selalu Tanya padaku tentang tiket ke surga” ucapku membuka topic utama yang ingin aku sampaikan, wanita itu tertawa lembut “ dan aku kelelahan menjawab semua pertanyaan alwan tentang tiketnya” ucapnya sambil tersenyum, aku terkejut” wow…ternyata bukan aku saja yang kelelahan mengahdapi alwan cerdas,” mbak sungguh beruntung, punya alwan, kalau boleh aku iri, aku sudah pasti iri, kalau boleh aku fungkiri nasib, aku sudah pasti bertanya pada tuhan, kenapa aku tak dikarunia anak seperti alwan” ucapnya masih dengan senyumannya, pengakuan yang sungguh sangat jujur, dan aku bahkan tak pernah melakukan pengakuan seperti itu.” Alwan pernah bertanya, kalau mau pesan tiket ke surga dimana? Lama sekali aku diam, kira – kira jawaban seperti apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan unik ini, sebab aku tak mau salah menjawab” ya allah, ia sama sekali berfikir keras untuk menjawab pertanyaan anakku, sedang aku sering mengabaikannya, “ lalu, apa jawaban untuk alwan?” tanyaku “untung saja aku sudah selesai membaca buku “ satu tiket ke surga “, orang yang pantas untuk kita pintai tiket ke surga adalah ibu kita, orang yang pertama kali yang memberikan pengorbanan untuk kita, tak tanggung pengorbanannya, nyawa, nyawa tak berarti apa – apa asal alwan terlahir, makanya surga itu ditelapak kaki ibu, jadi minta tiket ke surge ke mama al,! Wanita itu menjawab seolah – olah aku ini alwan, aku hanya diam, sebegitu pentingkah perananku bagi alwan, sampai – sampai tiket surga yang alwan impikan harus melalui aku,” alwan juga pernah bilang mbak, kalau mam itu cantik kalau lagi sholat, jadi alwan pengen lihat mama sholat terus, biar kelihatan cantik “ ucapnya saat aku hanya diam, “dasar alwan, gombalan mas fahri menular ke kamu” tapi benarkah aku secantik itu dimata anakku? “ oh ya mbak, alwan belum hapal yang bacaan sholat?” tanyanya memecah kebisuan kami,” belum sih mbak, memangnya kenapa?” jujurnya, kini aku begitu malu untuk mengakui kalau anakku belum hapal bacaan sholat, kemana ja sih rasa keibuanku selama ini, kok baru sekrang nongolnya! Aku pun berjanji dalam hati, pulang sekolah kita belajar sholat ya al “ alwan pernah minta diajari sholat, katanya papanya sibuk kerja, dan takut kalau mamanya marah kalau alwan minta sama mama!” ahhhhhhhh, rasanya pengen mencopot kepala ini lalu menyembunyikannya dibagasi mobil, sebab kali ini sungguh sangat mencambuk kata kata itu, malu yang kurasa kini sungguh sangat luar biasa “ soalnya alwan mau pesan tiketnya 3, untuk mama dan papa juga, kapan aku bisa mendapatkan anak seperti itu y mbak? Tanyanya lagi padaku, sebegitu banggakah wanita ini pada seorang anak yang sering ku abaikan? “ mudahan2 saja ada alwan kedua di bumi ini untuk mbak miliki, yang tentunya harus lebih baik dari alwanku” ucapku mencoba menenangkan wanita, aku berffikir ejenak sejak kapan aku peduli sama harapan2 orang lain, dan kini aku melakukannya, aku peduli sama harapan wanita ini, sebegitu hebatkah kodratku ini, sebegitu muliakah peranan ibu yang sedang kusandang ini, sampai2 aku bisa berubah peduli pada orang lain hanya dengan hitungan detik, semua hanya karena “aku” katanya tempat alwan untuk memsan tiket surganya, benarkah surga itu ada ditelapak kakiku, dan mengapa aku begitu mengabaikan pinta anakku yang menginginkan surga dari ku, ?“ mama” alwan berlari dan memelukku, wajahnya berseri melihat aku menunggunya, sebab ini jarang sekali terjadi, biasanya alwan yang menungguku. Ntah kenapa aku ingin memeluk alwan, akupun memeluknya di depan wanita itu, aku mengangatkannya, rasanya sudah lama tak melakukan ini, dan aku baru sadar kalau anakku ternyata sudah begitu besar “ mamakan capek, alwan g capek kok, jadi g perlu digendong ‘ ucapnya lembut aku kembali tersenyum dan membiarkan melepaskan pelukkanku. “ alwan g bohongkan ustadzah, kalau mamanya alwan itu cantik, g kalah cantik ma uminya aisyah” ucapnya girang, membuat aku tersipu malu, tapi setitik airmata yang jatuh dari sudut mata ini bukan karena “ tersipu malu “ itu, tapi karena rasa bangga yang kini menghujam hatiku, rasa sayang dan cinta yang tiba2 ingin aku curahkan seluruhnya untuk alwanku, rasa syukur yang membuat aku ingin sekali tiba dirumah dan menghadapNYa, bersujud syukur atas karunia yang selama ini aku abaikan
************************
“ ma, alwan boleh ya pesan tiket surganya??” ucapnya pelan, takut kalau – kalau aku marah, tapi kini mama g akan marah al, aku sudah jatuh cinta padamu anakku, aku mengangguk, kulihat ia tersenyum puas, “nanti kalau alwan sudah bisa sholat, alwan bisa nambah pesanannya g ma? Tanyanya lagi, “ boleh al!” jawabku singkat, sesekali menatapnya sambil tersenyum “ alwan akan pesanin tiket untuk mama dan papa juga, kan papa dan mama sibuk, biar alwan yang pesani aja!” ucapnya polos, kenapa sih al hari ini kau membuatku begitu bangga dengan posisiku, kenapa g dari kemaren2, bathinku, tak terasa sudut mataku basah lagi, kenapa aku jadi begitu cengeng hari ini Al, “ maafin mama al!” ucapku dalam hati, iia mendekatiku melingkarkan tangannya keleherku, ia memelukku “ alwan sayang mama!” ucapnya sambil menciumku, “ mama sayang alwan juga, selmanya al!
**************************
Ada yang berbeda dengan keluargaku akhir – akhir ini, malamku tak kusibukkan lagi dengan bertumpu di depan laptop, tapi ku ganti dengan menemani alwan belajar disampiingnya, memperkenalkannya dengan sebuah buku kisah kisah nabi yang sudah lama ibu mertuaku beri untukku, hanya saja aku onggokkan di lemari, siangku juga tak ku habiskan lagi dengan mengunjungi seminar2 fashion, tapi kuhabiskan dengan belajar masak, rasanya baru menyadari tak pantas membiarkan anak dan suami makan nasi catring selama ini , aku ingin masakanku jadi hal yang dirindukan oleh suamiku dan anakku kelak, meskipun rasanya telat bagiku untuk belajar di usia ini, dan semua yang kulakukan ini hanya untuk alwan, aku ingin memantaskan diri untuk sepantas – pantasnya tempat alwan menanti pesanan tiket surganya, jika alwan begitu gigih memesan tiket surga dariku, kenapa aku tidak, aku tak mau kalah dengan alwan, aku juga harus gigih memsan tiket surgaku, yang aku dapatkan dari suamiku “ surganya anak ada di Ibu, dan surganya Istri ada pada Suami !” dan untuk pesanan tiket surgaku, aku harus berjuang menjadi istri dambaan mas fahri, aku juga pingin menjadi menantu kebanggaan mertuaku, dan semua yang harusnya ada dari dulu, kini baru benar2 aku inginkan, semuanya hanya karena aku ini Ibunya alwan tempat alwan untuk “ memesan tiket surganya”.
*******************
“ ma, hari ini mama ulang tahunkan?” Tanya alwan pagi itu, saat kami sedang sarapan, aku dan mas fahri saling bertatapan “ alwan juga dong?” jawab kami serempak, alwan tersenyum sumringah, tiba – tiba ia meninggalkan meja makan dan kembali lagi dengan sebuah bingkisan. “ ma, alwan ada kado untuk mama, SELAMAT ULANG TAHUN YA MAM, ALWAN SAYANG MAMA” ucapnya sambil menyodorkan bingkisan itu, aku tak langsung menerimanya, akupun mengambil bingkisan yang aku sembunyikan didalam tasku “ mama juga ada kado untuk Alwan, SELAMAT ULANG TAHUN AL, TETAPLAH JADI ALWAN MAMA, MAMA JUGA SAYANG MA ALWAN “ ucapku juga menyodorkan bingkisanku, ia meletakkan bingkisannya di pangkuanku dan mengambil bingkisan milikku. “ inikan alqur’an ma, alwankan belum bisa baca ma?” ucapnya sedih sambil menatapku “ mama dan papa yang akan ajari alwan,! Ucap mas fahri membuat senyuman itu kembali terukir di wajah alwan, “ benar! Mama dan papa yang ajari alwan?” tanyanya lagi seolah – olah tak yakin dengan janji kami, mungkin alwan masih memikirkan kesibukan kami, tapi tenang al, kesibukanku kedepan adalah menemanimu nak menggapai tiket surgamu. Kami mengangguk puas melihat senyuman alwan, “ kalau lobe tu dari papa al, biar alwan makin ganteng kalau lagi sholat, ketemu allah kan harus ganteng !” alwan kembali tersenyum “ ia pa, mama juga cantik kalau lagi mau ketemu allah ! ucapnya, “ anakku beenar2 bangga padaku “ bathinku, kini giliran aku yang membuka bingkisan dari alwan, jilbab berwarna Ungu menyambut senyumanku, aku hanya diam sedikit cemberut “ kok warna ungu sih al, mamakan g punya baju warna ungu, lagian mama g suka warna ungu al!” alwan hanya tertawa “ itu nenek yang milihan ma!” ucapnya seolah itu bukan kesalahannya “ akukan ingin jjadi menantu kebanggaan ibu mertuaku, “hehhe, kok warna ungu kali ini cantik ya Al, kelihatan beda, mama suka deh!” ucapku lagi dengan senyum terpaksa, sesaat kulirik mas fahri, ia tersenyum geli melihat ekpresi senyum palsuku. “ oh ia, ada satu lagi Al, khusus dari mama, hanya darii mama!” “ apaan ma!’ Tanya alwan, tak sabar dengan hadiahku yang berikutnya, aku mengeluarkan sebuah kertas bertintakan emas, yang aku pesan dan dirancang oleh seseorang yang ahlidesign tampilan unik dan indah, “ hah……tiket? Ini tiket kesurga ma?” Tanya alwan dengan bangganyany, cepat aku mengangguk “ Tiket tujuan surga, pemesan: alwan” alwan mencoba membaca semua tulisan emas yang dituliskan di kertas itu. Di ujung kertas sebelah kanan sengaja aku tambahkan tulisan “ Mama sayang Alwan” alwan memboolak balik tiket itu, ia kelihatan Puas, “ besok alwan mau tunjuki tiket surga alwan ke ustadzah juga aisyah “ ucapnya puas, hari ini memang banjir dengan senyuman alwan, aku ( mama ) juga mas fahri ( papa ), senyuman keluargaku. “ oh ia ma, tiket ini bisa tu bawa mama dan papa ke surga jugakan?” tanyanya, spontan aku dan mas fahri saling menoleh, kembalii jawaban kami hanya tersenyum, aku juga tau alwan tak membutuhkan jawaban apalagi penjelasan karena kulihat wajahnya masih penuh dengan senyuman, tapi spontan kulihat mata binary alwan redup dan ia kelihatan kebingunan, ia terus membolak balik tiketnya, belum sempat aku bertanya tentang apa yang sedang alwan cari, alwanpun bertanya “ oh ya ma, kok gad a jadwal keberangkatannya?” kamipun saling pandang, mas fahri menaikkan alisanya, meminta aku untuk menjawab pertanyaan alwan, aku hanya menggeleng, kamipun menatap alwan yang masih menunggu jawaban kami “ hehehe,,, alwan biisa aja deh “.
“ mama g pernah tau al, kapan alwan akan berangkat ke surga, mama juga ga tau, siapa diantara kita yang duluan dapat pesanan tiket surga yang masing2 sudah kita pesan, tapi yang mama tau, surga akan selalu terbuka untuk anak seperti mu al,tuk anak sholeh seperti mu al, surga ditelapak kaki mama, mama serahkan seutuhnya hanya untukmu, tak pun kau pesan surga ini, aku tetap akan aku berikan untukmu al,, Terimakasih untuk Pesanan Tiket surgemu Al” bathinku
Ayoooooooooooooo,,, mari berlomba2 untuk mendapatkan tiket ke surga kita, semoga bermanfaat. Aminnnn
“ special untuk buah hatiku “ AHMAD ABU BAKAR “
Medan, 19 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar