Jumat, 04 Maret 2011

catatan hati ayah

CATATAN HATI AYAH



By; T2H__Ya



“ mo balik ndok?” ucap ayah tiba – tiba muncul didepan pintu kamarku, sebenarnya bukanlah sebuah kamar, lebih mirip pada sebuah ruangan yg dibatasi dengan tirai usang, masih kuingat Tirai itu dipasang semenjak aku Remaja, ruangan khusus anak perempuan ayah satu – satunya, yg membuat semakin lengkaplah kesempitan ruangan yg sungguh mungil itu untuk dijadikan ruang tamu!!!! Ah,tamu? Hampir – hampir kami tidak pernah kedatangan tamu untuk sekedar meneguk segelas air putih tanakan ayah dengan kayu bakarnya. Orang – orang hanya mengetuk pintu usang itu, lalu setelah sedikit berbincang dengan ayah, yg disebut tamu itu akan pergi begitu saja, sepertinya enggan menginjakkan kaki di lantai tanah ini! Ya, memang masih lantai tanah, banyak hal yg jauh lebih penting untuk di fikirkan daripada mengurusi lantai yg tak pernah diberi lapis ni.

“ ya ndok, mo balik hari ini juga” pertanyaan ayah menyentakkanku, menepis semua unek2 tentng hidup dan kehidupanku. Aku mengangguk sambil tersenyum menatap wajah itu, wajah yang sudah dilukis banyak guratan tipis dibagaian bawah kelopak matanya, berkeriput, kopong bahkan lusuh. Aku kembali pada aktivitasku, kususun rapi bajuku dan kumasukkan dalam ransel, ransel satu – satunya, ransel serba guna. Ayah beranjak meninggalkanku, dan aku hanya bisa menatap punggung bungkuk ayah. Ayah menyeret berat langkahnya,Aku bisa merasakan, guratan kecewa diwajah ayah, aku akan balik ke Medan tanpa memberitahu dahulu padanya. ”Ayah.....!” ayah menoleh sesaat setelah aku memanggilnya, kudekati ayah, ku sandarkan tanganku ke lutut ayah, dan aku duduk persis didepan ayah yg sedang duduk dikursi tua kami,( ndak ada yg baru diruangan ini kawan)” ayah,,,” kupanggil lembut nama itu, saat ayah hanya terseyum kecut padaku yg sedang bermanja padanya ”ndak papa ndok, pulanglah, biarkan ayah disini!” ucap ayah seolah olah tahu rasa bersalah yg sedang berkejamuk diwajahku! ” ayah,,,,, temen niala tadi telpon, ada lomba karya ilmiah disalah satu universitas swasta diMedan, terbuka umum ayah! Ucapku mencoba menjelaskan pada ayah alasan kepulanganku yang mendadak, padahal aku sudah berjanji pada ayah, libur semester kali ini sampai 2 bulan kuhabiskan bersama ayah, tapi da hal penting yg mesti kulakukan, jika 2 bulan ne kuhabiskan tanpa kegiatan apapun, pakai apa nanti aku membayar uang semesterku, sedang uang tabunganku mulai menipis, karena membelikan oleh- oleh untuk ayah dari putri semata wayangnya yang jarang sekali pulang kerumah, walau jarak Medan dengan Rantauprapat bukanlah jarak Indonesia – jepang! Tapi, keadaanlah yg memaksa aku untuk meninggalkan ayah sendiri dirumah, setelah terlebih dahulu Ibu meninggalkan kami. Seratus ribu, adalah jumlah paling kecil yg mesti aku keluarkan setiap pulang kerumah, yg setelah aku hitung2 bisa untuk belanjaku selama 2 minggu. Dan otakku yg suka hitung – hitunganlah yg membuat ayah jadi selalu sendiri, tanpa aku yg seharusnya tempat mencurahkan rasa kesendiriannya sejak ditinggal orang yg ia cintai. ” lakukanlah ndok, apapun itu, ayah percaya padamu!” ucap ayah yg semakin meremukkan bathinku. Tak ingin sisa – sisa powerku roboh dikarenakan tatapan ayah yg meminta aku untuk didekatnya, ku mengangguk, ku coba untuk menahan airmata yg hampir saja menetes dari sudut mataku, karena tak ingin kerapuhan ini tertangkap mata ayah yg juga rapuh. Aku berdiri, beranjak mengambil ranselku, lalu aku kembali pada posisiku semula, ku cium lutut ayah, disitulah air mataku benar2 tak terbendung, lutut ayah basah, ayah mengusap dan mencium kepalaku, kurasakan setetes cinta ayah jatuh kelubuk hatiku, tetes demi tetes yg selalu aku curi dari ayah. Ingin sekali rasanya lebih lama dalam dekapan ini, setelah hampir 2 tahun lamanya waktu terlewati tanpa senyuman ayah. Ku anggkat kepalaku, sekuat tenaga kusembunyikan semua rindu itu, dan mata itu juga sedang menyembunyikan perasaan yg sama. Aku berdiri, kucium tangan ayah yang sudah keriput, tangan kuat yg dulu mengendongku, tangan kuat yg dulu memapahku, tangan kuat yg dulu menuntunku, tangang kuat yg dulu menjewer telingaku saat kanak – kanakku,dan tangan itu kini sama sekali tak berdaya lagi.
Aku beranjak meninggalkan ayah yg dirundung sepi dan rindu, meninggalkan rumah kecil yg menciptakan sejarah- sejarah penting bagiku, ayah juga ibu, kutingggalkan hanya untuk sebuah cita – cita.

” Ayah ingin menjadikan kamu Bintang, Bintang yg paling terang, penerang kegelapan hidup kita selama ini, tapi dalam kegelapan seperti ini, bisakah ayah mewujudkan bintang itu, sedang saat ini ayah mulai tak yakin, kalau ayah tak mampu meletakkan Bintang itu dilangit, ayah takut kalau bintang ikut terkubur dalam kegelapan ini”

secarik kertas yg aku temukan dibawah bantal ayah saat aku kelas 2 SMA, aku mulai membaca diri, siapa aku dan siapa ayah? Aku hanya seorang anak pedagang es keliling, dan ayah hanya seorang lelaki yg tak pernah mengecap pendidikan dan wajar kalau seandainya rumah ini semakin lama – semakin menjadi gubuk, saat orang berlomba2 merubah tatanan rumah, model, cat dan banyak lagi, dan rumah kami semakin tak layak huni, bagaimana tidak, untuk bernafaspu rasanya kami susah. Dengan perjuangan yg amat panjang, dengan duri kehidupan yg sudah merobek- robek langkah kakiku, dengan peluru zaman yg setiap detik membidik mimpiku, akhirnya aku duduk dibangku kuliah tanpa sepeserpun uang ayah hingga aku saat ini sudah semester 4, memasuki semester 5, dan Tuhan memang membantuku, saat aku kewalahan mencari solusi tuk uang kuliah semester 5 ini, Tuhan membantuku lewat sebuah kabar adanya lomba karya Ilmiah yg sering aku ikuti, dan bersyukur meski tak selalu juara 1, aku selalau dapat 3 besar, dan dengan uang itulah aku membiayai hidupku dikota orang, tanpa pernah meletakkan tanganku didepan ayah, meminta padanya, ditambah dengan job sideku sebagai pengajar pripat SMA. Memang banyak hal yg pantas untuk kutangisi dari jalan hidupku, tapi lebih banyak lagi hal yg mesti aku syukuri, aku bersyukur Tuhan menciptakanku dengan otak yg bisa diandalkan, aku bersyukur Tuhan memberikanku seorang Ayah yg suka menulis catatan – catatan kecil di notenya yg aku baca sebagai kata – kata pujangga, ayah adalah pujangga terhebat bagiku, aku bersyukur ternyata aku mewarisi bakat ayah, tulisanku tak jarang dimuat dibeberapa majalah yg aku kirim secara rutinnya, dan honornya lumayan untuk tabunganku. Aku bersyukur, aku juga mewarisi sifat ibu yang ramah dan senyum ibu yang memikat, yang membuat aku dekat pada semua orang, bahkan sebagian dosen mengenalku dan dekat denganku, meski aku bukanlah mahasisswa penyandang ipk 4, tapi itulah rezekyku, beasisswa selalu melirikku yang memang sangat membutuhkan lirikan. Dan dari semua itulah aku bertahan hingga kini, dan alasan itupula lah yang membuat aku meninggalkan ayah sendiri bertemankan rindu.
” Ayah.........aku ingin kau bangga padaku ” ucapku saat aku rindukan wajah ayah, tapi benar, hingga kini ucapan bangga dari ayah belum aku dapatkan, apakah masih ada yg kurang dai kemandirianku selama ini? Tanya bathinku yg berharap kata- kata terulur dari mulut ayah.

”niala!!!” suara ayah memanggil namaku disebrang sana, hatiku bergetar mendengar suara ayah ” ia ayah!” ucapku lembut, ingin rasanya aku menyaksikan wajah ayah saat ia memanggil namaku, tapi ini hanya percakapan ditelpon, tak kudengar lagi suara ayah, aku memanggil – manggil nama ayah, telpon terputus, wajahku memerah, tak biasanya ayah menelponku, kutelpon balik nomor itu, ah...aku lupa itukan nomor wartel, susah untuk dihubungi kembali. Jantungku kian berdetak, tiba – tiba air mata jatuh begitu saja, ada dengan ayah? Kenapa ia menelponku? Banyak pertanyaan yg tak bisa ku jawab dengan logis, kali ini aku hanya ingin melihat ayah, melihat ayah, tiba – tiba aku takut kehilangan ayah, rasa itu kembali muncul, rasa sakit saat ditinggal ibu, badanku gemetar, aku baru tersadar, ternyata hartaku tinggal ayah, jiwaku hanya ayah. Buru – buru aku kembali kekost, untung lomba karya ilmiah sudah selesai kemaren, jadi kali ini berhentilah untuk hitung2an Niala, ucap bathinku. Ku ambil ranselku ” mbak ni???” Dinda teman satu kostku memanggil ku, aku menoleh, ia mendekatiku, menyerahrak 2 buah amplop putih kepadaku ” sudah 3 hari yang lalu kiriman ini sampai, tapi mbak ga dikost terus, katanya sibuk dengn karya ilmiah y mbak? Tanyanya sambil menyerahkan surat itu, aku hanya mengangguk pelan, ayah ucapku, ini surat dari ayah.....

Untuk putriku_tersayang

Niala putriku tercantik........
Betapa cantinkya engkau menjadi seorang anak, betapa ayah sungguh sangat beruntung punya putri seperti niala......

Niala bintang ayah.........
Ingin sekali ayah meletakkan bintang itu di atas langit dengan tangan ayah sendiri, tanpa bantuan sapapun, termasuk bantuanmu, ayah ingin menjadi orang yg pertama menyaksikan sinar bintang ayah.....

Niala jiwa ayah........
Betapa seluruh jiwa ini telah kau bawa pergi seiring perginya kau dari sisi ayah,
Meski untuk sebuah Alasan yg begitu mulia,,,,,
Tapi sungguh, kau telah mencuri seluruh jiwa ayah.....
Sungguh, ayah masih belum bisa terima kesendirian ini.....

Niala Raga ayah.......
Betapa raga ini tak punya daya lagi....
Saat kenyataan meremukkan posisi ayah sebagai ayah
Sebagai orang yg mestinya bertanggung jawab atas mimpimu
Sebagai orang yg mestinya kuat mempertahankan mimpimu
Tapi, niala putriku
Kenyataan membuat ayah merasa tak pantas diposisi ini.....

Niala Nyawa ayah......
Ayah mana yg tidak bangga punya anak yg mandiri, yang kuat dan pantang menyerah....
Ayah mana sayangku??? Tidak ada nak, tidak ada ayah yg tak bangga dengan putri sepertimu, terkecuali ayah, ,, ayah selalu merasa dicambuk oleh ketegaranmu, mencari dhana sendiri untuk mimpimu, tanpa pernah meminta sepeserpun pada ayah,,,, maaf anakku, ayah tidak bangga, ayah sakit dengan kenyataan ini, karena kenyataan ini membuat ayah menjadi tak berarti untukmu juga mimpimu! Apa yg bisa ayah berikan untuk mimpimu? Hampir – hampir tidak ada nak, keringatku tak pernah kering untuk mimpimu,,,

Malu pada mentari yg menyambut hari ayah dengan senyum sinis penuh ejekan, sebab ayah hanya punya kamu, Cuma satu tanggungan ayah, tapi satupun ayah tak mampu menanggungnya,,,,,,hari – hari yg berlalu tanpamu, tapi diiringi sebuah beban mental anakku, ciut,tak berdaya saat kau dari kejauhan mengabarkan bahwa ” kuliahmu lancar – lancar saja” ingin rasanya memaki diri ini anakku,karena kubiarkan engkau mencari jawaban sendiri atas kehidupan ini,, kau tak pernah melibatkan ayah untuk Bintang ini? Kenapa anakku, kenapa??? Apa memang benar bahwa ayah tak berarti untuk bintang itu? Apa tak boleh tangan ayah yang menggantungkan bintang itu di langit biru ini??
Ayah hanya punya kamu, Cuma satu satunya kamu, tapi kenapa ayah tak mampu untuk memenuhi mimpimu?? Takdirkah ini anakku, saat iri ketika masih banyak orang tua yg punya anak lebih dari 1, bahkan bisa 5 atau 7, dan pada kehidupannya ia mampu membuat anaknya benar2 jadi Bintang, berhasil mengeringkan keringatnya untuk seluruh belahan jiwanya! Sedang ayah, ayah hanya 1, tapi tak mampu... dan untuk itu semua, haruskah ayah berbangga hati padamu anakku? Pantaskah jika ayah tersenyum bangga padamu sedang engkau morat marit memikirkan semua biaya kuliahmu. Pantakah ayah melakukan ini anakku???

Niala anak ayah..........
Ayah hanya ingin menjadi bagian dari mimpimu.......
Izinkan ayah untuk menggantungkan bintang itu dengan tangan ayah sendiri...
Biarkan ayah yg melakukannya!!!

Niala______Putri Ayah Sayang


Aku sesenggukan membaca CATATAN HATI ayah,,,, sebuah persaan yang tak pernah terfikirkan olehku,,,, dan jawaban atas harapan kata bangga itu terjawab sudah, bagaimana mungkin ayah bangga pada anak seperti aku, yang lebih bisa dikatakan SOMBONG dengan kemampuanku, hingga memang benar apa kata ayah, ” seolah – olah aku menjadikan ayah tak berpengaruh pada mimpiku”.... airmata terus membasahi wajah yang mengalir sebagian darah ayah ini, ” ndak usah yah, naila masih ada sedikit ongkos untuk samapi di kost” ku tolak mentah – mentah uang pemberian ayah, 50.000, aku berfikir ”cukup apakah uang sebesar itu dikota besar seperti medan pada zamam ini”? Ucap bathinku sombong ” ayah pasti lebih memerlukannya, gunakan saja untuk kebutuhan ayah, ayah jangan fikirkan niala, niala bisa Mandiri ayah” ucapku meyakinkan ayah yang saat itu menatapku lekat, lama ayah terdiam, ku ambil uang itu, ku masukkan dalam kantong baju ayah, sambil tersenyum ” ayah harus percaya pada niiala, niala bisa sendiri ayah” ucapku. Itulah perbincangan yg kuingat setelah membaca surat ayah, saat itu masih semester 3,dulu aku merasa bahwa ayah pasti senang dengan kata – kataku ” ayah harus percaya, niala bisa sendiri” tapi kini, aku baru sadar, jelas itu ucapan sombong dariku yag tak pernah terfikirkan olehku.....aku semakin menangis, mengingat penolakan uang pemberian ayah, mengingat ucapan – ucapan yg aku maksud untuk menegarkan kehidupan kami, tapi ternyata membuat jiwa ayah semakin rapuh....wajar rsanya jika kata ” BANGGA ” itu tak pernah terucap dari ayah.

Ingin rasanya aku memekik, memanggil ayah, bersujud dikakinya, karena memang ayah hanya punya aku, dan aku hanya punya ayah. Ku buka amplop putih satu lagi, uang ratusan ribu 3 lembar tersenyum menatapku, seolah2 kulihat wajah ayah menari dilembaran kertas itu, ku peluk uang itu, kali ini ” Aku tak akan menolak uangmu ayah”, karena kini aku tau ” CATATAN HATI AYAH” yang selama ini ayah simpan dibalik senyum dan tatapanmu padaku.......

Niala jiwa ayah........
Betapa seluruh jiwa ini telah kau bawa pergi seiring perginya kau dari sisi ayah,
Meski untuk sebuah Alasan yg begitu mulia,,,,,
Tapi sungguh, kau telah mencuri seluruh jiwa ayah.....
Sungguh, ayah masih belum bisa terima kesendirian ini.....





MEDAN, 27 Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar