( BAYANGAN SANG AYAH PART II )
masih ingat dengan cerpen bayangan Sang ayah?? nah,,,, ini neh kelanjutan ceritanya,,,1,,,,2,,,,,,3,,,,, action….!!!!!!
Dan kini masih nama itu, dan akan selalu nama itu, selalu aku simpan ditempat yang paling berharga dihidupku, meski tak jarang aku berniat menggantikan nama itu, mengingat usiaku sudah sepperampt abad, tapi, alas an apa yang mesti aku buat untuk menggantikan nama itu?? krn nama itu sudah terlalu lama menemani dan telah melukiskan untukku sebuah kenangan yang semua orang mungkin tak pernah punya. Dan untuk semua itu, aku tak punya alas an apapun untuk menggantikan nama itu, meski itu FIKRI, seorang ikhwan sepupu temanku asal riau, dengan gagah dan berani datang menemui ibuku, ,berniat menjadikan aku sebagai ibu dari anak – anaknya kelak, tapi tetap, alas an ini tak juga diter ima oleh ruang hati yang sudah terisi oleh nama itu ,meski dengan nama itu, tetap tidak. Pokoknya tidak. TITIK.
Menolaknya lagi??? Tanya ibu, beberapa saat Fikri dan temanku pergi meninggalkan rumah kami. Aku hanya diam. Sampai kapan ra? Tanya ibu lagi, dan aku masih diam, sudah yang ke 5 ra, apa sebenarnya yang kau tunggu?? Kita tak bias selamanya hidup berdua nak, kita butuh sesorang untuk menemani hidupmu, juga hidup ibu. Ucap ibu lembut. Lama ibu diam, menunggu aku berkomentar, tapi rasanya diam adalah jawaban yang ibu sudah tau, dan tak perlu menjelaskannya panjang lebar lagi. Ibu beranjak meninggalkanku, dan setelah aku yakin ibu benar – benar meninggalkanku dalam posisi tidur, akupun menangis sejadi2nya. Mas galuh, apa boleh aku menggantikan namamu?? Mas galuh, apa boleh aku menghadirkan sesorang dalam hidupku tanpa izin darimu?? Mas galuh, apa kau tak cemburu jika aku bersama orang lain, seperti cemburunya aku saat kau bersama orang lain?? Mas galuh, apa takdir tak mengizinkan aq menunggumu??? Mas galuh,, dengar! Dengar mas,, aku masih ingin menunggumu!! Please,, pulanglah mas. Pulanglah. Lalu kubawa nama itu kedalam tidurku, selalu dan akan selalu.
Rantauprapat, 2 bulan kemudian…….
5 hari ditempat ini, sungguh sangat tidak menyenangkan, bukan karena rasa sakit ini sepertinya enggan untuk sekedar pergi, walau hanya sesaat, tapi terlebih karena aq sebagai anak perempuan ibu tak mampu berbuat apa2 disaat masa2 rentanya, disaat ibu terbaring lemah, dan aku sebagai satu2nya org terdekat dengannya tak mampu walau hanya sekedar menemaninya,,, mendengarkan keluhannya tentang rasa sakitnya atau sekedar membantunya menelan nasi yang hampir2 seperti duri, sakit, sakit dan sakit.
ya,,,, ibu sedang terbaring lemah di Rumah, dan malangnya aku juga sedang terbaring. Ibu lebih memilih istirahat di rumah, tak ingin sama2 denganku menahan rasa sakit ini di rumah yang serba putih ini, “ kamu saja ndok, ibu lebih suka dirumah, insyaAllah Allah akan menjaga ibu nak” sedang aku tak mampu menolak, sebab darah ini terus keluar, bukan dari hidung saja, bahkan dari mulut, telinga dan juga mata. entah apa nama penyakit ini, yang jelas aku semakin melemah kekurang darah. dan ibu tak pernah tahan melihat darah,,, padahal aku tau, sakit yang ibu punya tak kalah menyakitkan dengan sakit yang aku punya, bahkan mungkin lebih. tapi apa dayaku, mungkin alasan tak percaya kerja dokter dan lebih percaya pada obat2n herbal adalah alasan yang sekian, alasan utamanya adalah ekonomi. bayangkan saja, berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk biaya rumah sakit 2 orang?? sedang biaya rumah sakitku sendiri 2 bulan yang lalu membuat aku harus menjual sepeda motor yang baru saja lunas kreditannya. apa lagi untuk berdua?? bisa2 rumah kami tergadai, jika tergadai maka tergadai jugalah kenangan kenangan yang aku punya dengan mas galuh. Aku sebenarnya tak setuju, kapan lagi aku bias berkorban untuk ibu, tapi apa dayaku, teguran ini sekaligus menimpa kami berdua.
“ aduh.. ra, kamu jangan banyak mikir dulu, tu lihat darahnya keluar lagi” ucap ima, temanku yang setia menemani aku merasakan sakit yang luar biasa ini. Aku hanya diam, sedang ia sibuk memmbersikan darah yang belakang ini tiba2 keluar dari hudng, mulut, telingan bahkan kedua mataku. “ dokter…dokter…” ima sibuk memanggil dokter, dan entah kenapa aku malah menangis, sambil benakku berbicara” kenapa darah ini terus keluar dari tempat yang tak layak, mas galuh,, lihat mas, aku sakit mas, aku sakit mas, lihat aku mas” dan aku semakin menangis, kali ini aku menangis berurai airmata darah, sesekali aku lirik kiki, wajahnya begitu khawatir.
aku terus menangis, rasa sakit ini begitu tak ingin pergi, semuanya terasa sakit untuk sekedar bergerakpun rasanya aku tak mampu. dokter bergegas masuk keruanganku, kulihat ima penuh rasa khawatir meminta dokter untuk segera menghentikan darah ini. yang aku tau, sebuah jarum menusuk tanganku, dokter menyuntikkan obat penenang, dan kepalaku terasa pusing, penglihatanku semakin kabur, tapi telingaku masih bisa mendengar suara tangis sesenggukan itu, suara khas yang tidak pernah kudengar dari sapapun, kecuali darinya. suara yang selalu aku nantikan, kupaksa mataku untuk mencari sumber suara itu, tapi aku benar2 tak mampu, mata ini pun rasanya seperti terhimpit beban yang sangat berat, dan akhirnya aku tak bisa mendengar dan meliahat apapun. dalam hati aku berucap
“ Y allah, jika mang sudah saatnya aku pergi, pertemukan aku dulu dengannya yang kurindu, setelah itu, semua kuserahkan padaMu, Kau tau ya Robb, betapa jiwa ini sudah lama tak menempati raga ini, setelah ia pergi. Mas galuhlah jiwa itu “
aku terbangun dari tidurku, ternyata aku obat penenang yang disuntikkan dokter membuat aku begitu lama terlelap, aku tersenyum, saat aku temui wajah teduh ibu duduk disampingku dan menggenggam erat tanganku, ingin rasanya mencium tangan itu, tapi infuse ini menahan keinginan itu. “ ibu sudah sembuh ra” ucap ibu, sepertinya tau pertanyaan yg ingin aku lontarkan, membuat ibu menjawab lebih dahulu. ibu hanya tersenyum, tapi kulihat bulir air mata di pipi ibu, seperti sisaa baru menangis. “ ada apa ini?” tanyaku dalam hati, dan baru aku sadari ternyata bukan hanya ibu yang tiba2 hadir ditempat ini, ada ima, om farhan ( adik sepupu ayah), mila ( sepupuku yang menjaga ibu dirumah ), dokter dan mas fikri ( ikhwan yang pernah aku tolak pinangannya ), aku kembali menatap ibu, tatapanku penuh Tanya, kenapa semua berkumpul ditempat ini, apa sebenarnya yang terjadi. tapi sebelum tatapan iba mereka menjawab, akupun punya firasat, serasa ingin membenarkan firasat ini, aku beristighfar berulang kali, dan airmata darh ini mengiringi tasbihku,
“ dokter! apa sudah saatnya aku pergi y? tanyaku polos, dokter itu hanya diam dan tersenyum, melihat senyuman dokter aku pun tau jawabannya, itulah sebabnya mereka semua berkumpul, aku kembali memejamkan mata tak sanggup untuk mellihat wajah ibu yang sedang menangis, kembali aku bertasbih “ lailahaillallah muhammadarrosulluhh” ucap ku berkali2, berharap kalimat inilah yang terkahir aku ucapkan untuk mengiriingi aku ke surgaNya, ah,,, begitu Pd nya aku akan mendapat tempat di surgaNya, “ ucap bathinku, apakah malaikatmu telah ada diruangan ini ya Rob?? sedang bersiap untuk mencabut nyawaku, apakah benar dia sudah disini?? Tanya hatiku berulang2, “ lailahaillallah muhammadarrosulluhh” kembali aku ucapkan kalimat yang ku damba menjadi kalimat terakhir, kurasa genggaman ibu semakin erat, erat sekali, seperti benar raasanya klu aku akan pergi, ku buka mataku dan kutatap wajah ibu “ ibu jangan menangis, ira sayang ibu. maafkan semua salah ira bu” ucapku akhirnya setelah beberap menit aku menuggu malaikatnya tak kunjung datang, aku berfikir mungkin aku diberi kesempatan terakhir untuk menyampaikan rasa sayangku pada orang2 yang ku sayangi,, ibu bahkan diam dan hanya menangis, ingin sekali menghapus air mata itu,” ibu, jika suatu saat nanti mas galuh kembali, katakan padanya ibu, iara teteap menyayanginya, dan ira juga minta maaf karena ira tak bisa menunggunya pulang, tapi ira akan menunguuunya di ZannahNya” ucapku sebegitu yakin dengan azalku, melihat tangisan ibu, akupun tak kuat menahan tangis, aku pun menangis dan airmata ini ttplah berwarna merah. kupejamkan lagi mataku mengucapkan tahlil, tahlillku kembali berhenti, sesaat aku mendengar kembali suara tangis sesenggukan asing itu, suara yang tak pernah aku dengan kecuali dariny. aku mencari – cari sumber suara itu, kini begitu jelas, itu suara yang aku rindukan, hingga mataku tertumpu pada mas Fikri, “ apa itu suara mas fikri “tanyaku, tapi tak kulihat sedikitpun ia menangis, tapi benar aku tak salah, suara itu datang dari arah mas fikri, aku menatap lekat mas fikri, kini aku sadar, ada seseorang yang sedang berdiri dibelakang mas fikri, terus aku menatap, berharap tubuh mas fikri sedikit bergeser agar aku bisa meliaht wajah yang sedang bersembunyi dibelakang mas fikri, dan akhirnya aku dapat melihat jelas wajah itu, ia tertunduk dan tangisannya semakin kencang, dalam suara yang lemah, aku begitu kuat untuk mengucapkan dan memanggil nama itu “ MAS GALUH “ tapi tubuh itu tak juga bergerak mendekatkitu, hanya tertunduk dan menangis hingga ketiga kalinya aku memanggilnya “ MAS GALUH “,, dan entah kekuatan darimana aku berhasil mencabut infuse itu dan berlari memeluk mas galuh, kini aku berada dalam pelukan itu, pelukan yang membawa aku pada rasa yang dalam, yang tidak dimiliki oleh seorang adik mana pun, kecuali aku adiknya mas galuh, ku peluk erat tubuh itu, dan mas galuh juga memelukku, aku terus menangis, tak peduli seberapa banyak darah sudah menetes dari luka infuse tanganku yang kusentak kasar mengenai bagian belakang baju koko putih yang sedang dipakai mas galuh. bahkan aku dapat begitu merasakan bahwa darah itu juga keluar dari hidung dan mataku, sudah begitu banyak darah yang tertumpah dalam pelukan mas galuh, tubuhkupun melemah dan pelukanku semakin longgar hingga aku terjatuh, tapi jatuh x ini begitu damai, karena pelukan itu telah mendamaikan dan mengembalikan jiwa yang sempat pergi.
hanya 2 hari setelah mas galuh kembali, aku begitu jauh leih membaik, bahkan yang lebih ajaibnya darah itu tak keluar lagi malam setelah pertama kali mas galuh merawatku. kini aku boleh kembali kerumah, kedatangan kali ini begitu istimewa, aku di gendong oleh mas galuh, saat turun dari mobil mas fikri menuju rumah, serasa aku kembali pada masa – masa kecil dengan mas galuh. yang hingga kini masih kujadikan bayangan sang ayah, aku benar2 pulih, aku tak merasakan sakit apapun. benar2 7 hari dirumah sakit kemaren tak menysisakan apapun. RINDU YANG BERLEBIHAN INI YANG MEMBUAT PENYAKIT ANEH ITU MUNCUL, KINI RINDU ITU TELAH HILANG DAN TAK ADA ALASAN LAGI BAGI PENYAKIT ITU UNTUK TETEP BERTAHAN.
“ jadi selama di Palembang, mas galuh ditampung oleh keluarga mas fikri ya?? mas galuh mengangguk, dan aku menunduk sambil tersenyum malu. “ lho…. kenapa senyum?” Tanya mas galuh saat melihat expresi wajahku, aku hanya menggeleng “ suka ya ma Akh Fikri??” Tanya mas galuh menggodaiku, aku menggeleng cepat . “ terus, wajah manismu kok tiba2 merah begitu “ mas galuh terus menggodaiku, aku pun berlari menuju kamar, mencari cermin dan melihat wajahku, aku pun tersenyum “ benarkan, suka kan ma dia “ Tanya mas galuh yang tiba- tiba nongol dibelakangku, aku pun menjerit dan memukul mas galuh. senyium yang rasanya sudah tak lepas dari bibir ini, kini telah kembali.
“ ukhti ira, sudah hapal alqur’an berapa juz?” pertanyaan mas galuh yang tak bisa aku jawab, sebab seperginya mas galuh, aku tak pernah lagi ikut pengajian, berkumpul dengan org2 sholeh sebagai tombo ati seperti yang dikatakan opick tak pernah ku lakukan lagi, seperginya mas galuh aktivitas dakwahku terhenti, aku hanya bertemankan ibu. dan untuk berapa juz alqu’an yang telah aku hapal benar2 tak mampu kujawab, jangaan kan untuk menghapal kembali, bahkan bacaan almatsurat yang dulu rutin aku baca di subuh dan petang kini tak begitu sempurna aku bacakan lagi. aku benar2 menjauh dari aktivitas mendekatkan diri padaNya seiring menjauhnya mas galuh dari hidupku,
“ mas, ma situ rahmat bagiku,kepergian mas membawa pergi rahmatku, bagaimana mungkin aku hidup tanpa rahmat”
“ bukan mas yang menciptakan dan menghilangkan rahmat ra, hanya DIA ra, rahmat itu miliknya bukan milik mas , mungkin dulu mas khilaf ra, mas dah jauh menyimpang dari jalanNYa, mas juga merasa bersalah ra, sikap mas yang tiba2 pergi membuat ira tak seperti ira yang dulu, yang setiap saat mengkaji islam dan tak meluangkan waktu sediktipun untuk bercanda dengan mas”
“ astaghgirullah, apakah benar aku yang melupakan mas galuh bukan mas galuh yang melupakan aku”
“ tapi rasa marah itu dulu ra, sekarang mas sadar apa yg ira buat dulu benar, tak ada waktu memang untuk berlengah2 disaat umat kian terombang ambing dengan pemikiran2 yang tka berlandaskan alqur’an dan hadist, tapi bukan berarti perginya mas juga membuat ira meninggalkan jama’ah yang telah membuat ira menjadi sosok yang mas kagumi, nabi Muhammad saja tak sanggup membawa paman yang ia sayangi ALI binj Abi Thalib untuk bersama2 hidup di jalanNya, Nuh juga tak mampu membawa istri yang ia cintai untuk sama menegakkan kalimat tauhidNya “ lailahaillah muhammadar rasulullah….. dan apakah pernah sejarah mencatat nama2 mereka sebagai orang2 yang keluar dari jalannNya lantas kesedihan itu ?? ”, dan kejahilan mas lantas membuat ira merasa bersalah, tak bisa mengalirkan dakwah itu bahkan ke mas, saudara kandung ira sendiri?? Mas mengerti perasaan ira, kita belum terlambat ra,, mari berjalan di jalanNYa, IA MENERIMA TAUBAT HAMBANYA” ucap mas galuh, membuat ku benar2 tersentak, begitu lalainya aku selama ini.
“ didalam rahmat itu ada cobaan dan dalam cobaan itu juga tersimpan rahmat” ucap mas galuh.
aku semakin tersentak, mas galuh!! oh,,, mas galuh!! kini kau bukan sekedar bayangan ayah, tapi juga malaikat dalam hatiku, yah,, kau kini malaikat dalam hatiku, yang membawa kan aku cahaya saat kegelapan menyelimitu lama hidupku,karena aku tak pernah mampu menyalakan cahaya yang aku punya, karena cahayaku seutuhnya adalah kamu, sosok yang akan tetap menjadi bayangan sang ayah, sosok yang akan selalu menjadi malaikat dalam hatiku.
“ didalam rahmat itu ada cobaan dan dalam cobaan itu juga tersimpan rahmat”
CINTA ITU DATANG DARINYA,,,,,
MAKA MENCINTAILAH ATAS NAMANYA,,,,,,,,,
to be continue……………..
MEDAN, 27 FEBRUARI 2012
Harrah's Resort Atlantic City - MapYRO
BalasHapusHarrah's Resort Atlantic City is located titanium wire in the marina district. It is connected to the 부천 출장샵 convention 전주 출장마사지 center by a 2-minute walk from Harrah's Atlantic 사천 출장샵 City 김제 출장안마 Marina